Ancaman Banjir Sungai Menimpa 40 Juta Orang Mulai 2030

orang terdampak banjir sungai

Setiap tahun, sekitar 20,7 juta orang terdampak banjir sungai. Para peneliti memperkirakan jumlah ini akan meningkat dua kali lipat pada 2030. Pertumbuhan populasi, ekspansi wilayah perkotaan, dan perubahan iklim akan semakin meningkatkan risiko bagi masyarakat.

Pernyataan itu berasal dari World Resources Institute (WRI). WRI baru meluncurkan Aqueduct Global Flood Analyzer, perangkat daring untuk membantu publik, swasta, dan perusahaan memahami risiko banjir. Alat ini juga membantu merumuskan strategi pengurangan dan mitigasi dampak banjir.

Sebanyak 56% populasi yang berisiko terdampak banjir sungai terkonsentrasi di tiga negara utama: India, Bangladesh dan China. Penggabungan dengan 12 negara berisiko tinggi lainnya membuat kelompok ini mencakup 80% populasi global yang berisiko. Negara-negara itu antara lain Vietnam, Pakistan, Indonesia, Mesir, Myanmar, Afghanistan, Nigeria, Brasil, Thailand, Kongo, Irak, dan Kamboja.

Amerika Serikat menempati posisi teratas di antara negara berpenghasilan tinggi dalam dampak banjir sungai. Peneliti memperkirakan banjir akan menimpa sekitar 167.000 orang setiap tahun. Berdasarkan analisis terhadap 160 negara, AS menempati peringkat ke-18 secara global.

Data World Resources Institute menunjukkan banjir sungai mengancam rata-rata PDB global sekitar $96 miliar setiap tahun. Para peneliti memperkirakan India mengalami kerugian tahunan akibat banjir sebesar $14,3 miliar, dan kerugian itu peneliti proyeksikan melonjak menjadi $154 miliar pada 2030 karena pembangunan menempatkan lebih banyak orang serta industri di daerah rawan.

Secara proporsional terhadap PDB, Bangladesh paling terdampak banjir sungai, kehilangan tahunan sekitar 4,75% atau $5,5 miliar. Para peneliti memperkirakan kerugian akan melonjak menjadi lebih dari $40 miliar pada 2030 karena meningkatnya eksposur terhadap risiko banjir.

Data 2010

Analisis ini menggunakan data 2010 tentang PDB, jumlah penduduk, dan tata guna lahan untuk menilai potensi dampak banjir. Tim analis melengkapi analisis dengan data hidrologi periode 1960–1999. Para peneliti menentukan keparahan banjir berdasarkan probabilitas statistik kejadian dari dua tahunan hingga seribu tahunan. Peneliti menyesuaikan estimasi dampak ekonomi dan sosial dengan tingkat pendapatan tiap negara sebagai indikator perlindungan. Indikator ini mencakup keberadaan tanggul, bendungan, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Para peneliti menggunakan data Laporan Penilaian Kelima IPCC dan memadukannya dengan beberapa Model Iklim Global untuk proyeksi masa depan. Tim peneliti mengoreksi bias model-model iklim melalui analisis Institut Potsdam dalam kerangka ISI-MIP sebelum menggabungkannya dengan data IPCC. Institut Potsdam menganalisis dan mengoreksi bias Model Iklim Global dalam kerangka ISI-MIP, lalu peneliti memadukannya dengan data Laporan Penilaian Kelima IPCC.

Walaupun analisis berskala besar berperan penting dalam mengidentifikasi tren global, hasilnya terbatas pada prediksi yang bersifat umum dan berbasis estimasi kasar.

Menurut WRI, hasil tersebut bertujuan memberikan pemahaman awal mengenai persebaran risiko di tingkat negara, provinsi dan wilayah. Temuan ini juga menunjukkan tingkat risiko yang ada serta proyeksi perubahan risiko di masa depan.

WRI menekankan bahwa untuk menghasilkan prediksi banjir yang lebih tepat di tingkat lokal, diperlukan integrasi berbagai faktor, termasuk detail profil sungai, kondisi infrastruktur, sistem perlindungan banjir yang telah tersedia, status waduk serta strategi pengelolaan banjir yang diterapkan.

Sejumlah studi serta bukti anekdot yang konsisten menunjukkan bahwa aktivitas penambangan dan penggundulan hutan memiliki dampak signifikan terhadap kejadian banjir di tingkat lokal. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Global Change Biology pada tahun 2007, peningkatan deforestasi sebesar 10% dapat menyebabkan kenaikan frekuensi banjir antara 4% hingga 28%.

Selain itu, Aqueduct Global Flood Analyzer hanya mengkaji risiko banjir yang berasal dari aliran sungai, tanpa memasukkan dampak banjir yang disebabkan oleh kenaikan muka air laut—yang diperkirakan akan memengaruhi tambahan 129 hingga 216 juta jiwa dalam kurun waktu satu abad ke depan.

Visited 18 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *