Pernyataan AS-Indonesia Picu Kekhawatiran

Atas undangan Presiden AS Barack Obama, Presiden Joko Widodo berkunjung ke Amerika Serikat pada Oktober 2015. Pada 26 Oktober 2015, keduanya bertemu di Gedung Putih dan menandatangani pernyataan bersama. Kedua presiden menyatakan hubungan bilateral kini lebih kuat dan dinamis, berlandaskan demokrasi, tata kelola, HAM, serta perdamaian dan kesejahteraan. Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia sejak 2010 telah memperluas, memperdalam, dan meningkatkan kerja sama kedua negara. Kerangka ini menegaskan pentingnya kolaborasi antar demokrasi besar, membuka peluang ekonomi dan pembangunan, serta menekankan pertukaran dan pengertian. Kedua presiden sepakat memperkuat Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang baru. Mereka menegaskan bahwa kedua negara harus mendasarkan hubungan pada saling menguntungkan, kedaulatan, dan integritas wilayah. AS dan Indonesia, sebagai dua demokrasi besar, berbagi tanggung jawab untuk menghadapi tantangan strategis internasional. Dengan semangat itu, mereka membangun kemitraan strategis guna memperluas kerja sama di bidang-bidang prioritas.

Mereka menetapkan Dialog Strategis Tingkat Menteri tahunan yang Menteri Luar Negeri kedua negara pimpin. Pertemuan tingkat menteri lainnya akan mengoordinasikan upaya memajukan perdamaian, kemakmuran internasional, dan prioritas bilateral. Kedua presiden menyambut peran masyarakat sipil dan sektor swasta dalam mendukung kelangsungan kemitraan strategis. Kedua presiden menekankan pentingnya kawasan maritim bagi negaranya, wilayah sekitarnya dan dunia. Mereka berkomitmen memperdalam kerja sama maritim melalui nota kesepahaman baru. Nota itu mencakup keamanan dan ekonomi maritim. Termasuk konservasi serta pengelolaan sumber daya laut dan perikanan. Juga mencakup keselamatan pelayaran dan navigasi. Ilmu kelautan dan teknologi menjadi bagian penting kerja sama. Mereka juga akan mengembangkan kerja sama di bidang lain yang mereka sepakati bersama. Kedua presiden menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur maritim untuk memperkuat konektivitas dan memperlancar arus perdagangan kawasan serta antarnegara. Oleh karena itu, mereka berkomitmen melanjutkan kerja sama dan mendorong investasi di sektor infrastruktur maritim.

Penangkapan Ikan

Kedua presiden menekankan urgensi tindakan cepat untuk memerangi, mencegah, dan menindak penangkapan ikan IUU. Pemerintah memperkuat koordinasi regional dan penegakan hukum untuk melindungi sumber daya laut. Mereka berkomitmen bekerja sama mengidentifikasi tindakan konkret untuk memperkuat kerja sama bilateral dan meningkatkan kapasitas dalam penanggulangan IUU. Kedua presiden menegaskan komitmen memperkuat kerja sama pertahanan bilateral. Mereka menyambut peningkatan interaksi militer yang kini melibatkan lebih dari 200 kegiatan tahunan. Mereka menyambut pernyataan bersama tentang kerja sama pertahanan komprehensif 26 Oktober 2015. Keduanya bertekad memperdalam kolaborasi di maritim, pemeliharaan perdamaian, bantuan kemanusiaan, dan penanggulangan bencana. Mereka juga fokus pada penelitian dan pengembangan pertahanan bersama serta penanggulangan ancaman lintas negara. Keduanya tertarik mengeksplorasi inisiatif pengembangan dan produksi peralatan pertahanan bersama serta kerja sama logistik. Mereka menyambut hasil KTT pemimpin tentang pemeliharaan perdamaian pada sela Sidang Majelis Umum PBB ke-70. Amerika Serikat mengapresiasi peran Indonesia dalam pemeliharaan perdamaian dan menyambut niat Indonesia meningkatkan kontribusi pasukannya.

Kedua presiden menegaskan pentingnya kebijakan ekonomi yang konsisten, terbuka, dan transparan untuk menarik investasi asing. Kebijakan itu juga menciptakan persaingan usaha sehat dan menjamin perlindungan hak kekayaan intelektual. Kedua presiden menegaskan bahwa kebijakan ekonomi yang konsisten, terbuka, dan transparan penting untuk menarik investasi asing, menciptakan persaingan sehat, dan melindungi kekayaan intelektual. Mereka menilai kerangka kebijakan itu mampu meningkatkan perdagangan dan investasi timbal balik serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sektor swasta. Mereka juga memandang bahwa kebijakan ini berperan penting dalam mengembangkan sektor keuangan. Investor asing dan penyedia jasa dapat membawa modal dan keahlian untuk memperkuat serta memperdalam pasar keuangan Indonesia. Pemerintah dapat memanfaatkan sumber daya sektor swasta untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional. Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin membahas reformasi terbaru yang pemerintah Indonesia laksanakan. Mereka menegaskan kemudahan berusaha akan membuka peluang perluasan perdagangan dan investasi bilateral.

Kesepakatan Komersial

Kedua presiden mengapresiasi kesepakatan komersial antara perusahaan AS dan mitra Indonesia senilai lebih dari $20 miliar. Kesepakatan tersebut dipandang sebagai bukti semakin kuatnya hubungan ekonomi antara kedua negara. Konsultasi berkala melalui U.S.-Indonesia Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) 1996 menjadi forum utama membahas perdagangan dan investasi bilateral. Forum ini juga merumuskan langkah konkret untuk memperkuat hubungan ekonomi dan kerja sama regional serta multilateral. Kedua pemimpin mengapresiasi hasil pertemuan TIFA terbaru, terutama kesepakatan mengoptimalkan Paket Kebijakan Ekonomi Indonesia. Langkah itu bertujuan mempercepat proses deregulasi di masa mendatang. Amerika Serikat dan Indonesia menegaskan kembali komitmen mereka untuk meratifikasi WTO Trade Facilitation Agreement. Kedua negara juga berkomitmen melaksanakan kesepakatan pemimpin APEC 2011. Kesepakatan itu mencakup penurunan tarif untuk barang dalam Environmental Goods List yang mereka setujui. Mereka menetapkan target penyelesaian paling lambat akhir 2015.

Dengan mempertimbangkan berbagai peluang dan tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kedua presiden kembali menegaskan komitmen untuk menempatkan teknologi dan inovasi sebagai unsur strategis dalam keseluruhan kerja sama bilateral pada abad ke-21, termasuk dalam mengurangi kesenjangan digital. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, kedua negara sepakat memperluas kolaborasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Kerja sama ini mencakup pengembangan sektor teknologi informasi di Indonesia yang mendukung pencapaian visi Ekonomi Digital Indonesia 2020. Kedua presiden juga menekankan pentingnya menjaga internet sebagai sarana utama yang mendukung pertumbuhan dan pembangunan ekonomi global. Dalam kaitan ini, mereka mendorong penguatan kerja sama dan dialog lanjutan guna memastikan keamanan serta keselamatan internet. Upaya tersebut meliputi peningkatan kepercayaan, transparansi dan stabilitas hubungan antarnegara dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Para presiden mengapresiasi pembentukan kelompok kerja penerbangan bilateral yang baru mereka luncurkan. Kelompok kerja itu bertujuan mendukung Indonesia meningkatkan keselamatan, keamanan, dan efisiensi sistem transportasi udara.

FAA & DJPU

Amerika Serikat dan Indonesia sepakat melanjutkan konsultasi antara Federal Aviation Administration dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Konsultasi ini mendukung DJPU menerapkan secara menyeluruh standar keselamatan penerbangan internasional ICAO agar DJPU dapat memulihkan status Kategori I secepat mungkin. Program Millennium Challenge Corporation senilai $600 juta mewujudkan kemitraan erat yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan; itu merupakan kesepakatan terbesar di Asia. Kerja sama itu mendukung upaya Indonesia mengembangkan energi terbarukan, menurunkan emisi gas rumah kaca, menyediakan layanan publik dasar, serta meningkatkan kesehatan dan gizi perempuan dan anak-anak. Amerika Serikat dan Indonesia menegaskan kembali komitmen memperkuat kerja sama energi karena keduanya berbagi kepentingan strategis dalam pengembangan energi bersih dan ketahanan energi. Kedua negara menuangkan komitmen itu dalam Nota Kesepahaman terbaru tentang kerja sama energi.

Kemitraan ini akan mendukung pendirian Pusat Unggulan Energi Bersih Indonesia di Bali sekaligus memperluas kolaborasi dalam sejumlah bidang. Ruang lingkup kerja sama tersebut meliputi percepatan penggunaan sistem energi terbarukan di daerah terpencil dan kawasan yang belum terhubung dengan jaringan listrik, pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, serta peningkatan ketahanan energi nasional melalui perencanaan cadangan minyak bumi strategis. Kedua presiden juga mengapresiasi pembentukan kelompok kerja ketenagalistrikan Amerika Serikat–Indonesia. Kelompok kerja ini akan membantu Indonesia mencapai target pembangunan pembangkit listrik lima tahun ke depan sambil mengedepankan energi bersih dan pembangunan berkelanjutan. Kedua presiden memuji visi Indonesia menjadi poros maritim dunia dan peran kepemimpinannya di forum regional serta internasional. Mereka menyambut kebijakan penyeimbangan kembali Amerika Serikat di Asia-Pasifik yang bertujuan memperkuat perdamaian, kemakmuran, stabilitas, dan keamanan kawasan. Penanganan perubahan iklim tetap menjadi salah satu prioritas kerja sama antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Emisi GRK

Kedua negara berkomitmen memperkuat kolaborasi dalam menerapkan kebijakan nasional yang efektif untuk mengendalikan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim. Sebagaimana disampaikan dalam Konferensi Iklim Paris pada Desember 2015, kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk mewujudkan kesepakatan iklim global yang ambisius dan berkelanjutan. Kesepakatan tersebut diharapkan mencerminkan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan sesuai kemampuan setiap negara, dengan tetap mempertimbangkan perbedaan kondisi nasional. Selain itu, kesepakatan tersebut diharapkan dapat mendorong transformasi global menuju perekonomian rendah karbon sepanjang abad ini. Kedua presiden juga menyatakan keinginan untuk menghapus secara bertahap subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien dan mendorong konsumsi berlebihan. Namun, proses tersebut tetap harus menjamin ketersediaan layanan energi dasar bagi masyarakat kurang mampu. Di samping itu, mereka menegaskan kembali dukungan terhadap pernyataan mengenai hidrofluorokarbon atau HFC yang tercantum dalam Pernyataan Pemimpin G-20 tahun 2013.

Kedua presiden menekankan pentingnya menjaga kelestarian lahan gambut dan kawasan lain yang memiliki cadangan karbon tinggi. Presiden Obama mengapresiasi berbagai kebijakan yang baru diterapkan oleh Presiden Jokowi untuk mengatasi dan mencegah kebakaran hutan beserta dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan dan perekonomian. Kebijakan tersebut mencakup keputusan pada Mei 2015 untuk memperpanjang moratorium pemberian izin pengembangan baru di kawasan hutan primer dan lahan gambut. Presiden Jokowi, pada saat yang sama, menyampaikan penghargaan atas tawaran bantuan Amerika Serikat dalam mendukung penanganan persoalan tersebut. Kedua presiden juga menegaskan komitmen terhadap pengelolaan hutan secara berkelanjutan, termasuk dengan mendorong keterlibatan dan berbagai inisiatif dari sektor swasta. Kedua pihak kembali menegaskan komitmen mereka dalam kerangka G-20 untuk mendorong pertumbuhan, meningkatkan ketahanan ekonomi, serta memperkuat lembaga-lembaga global guna mewujudkan pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan dan seimbang. Komitmen tersebut dilaksanakan melalui penerapan kebijakan yang mampu menjaga permintaan sekaligus membuka lapangan kerja yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan Berkelanjutan

Selain itu, kedua negara berkomitmen untuk terus mendorong pembangunan berkelanjutan. Kedua presiden juga mengapresiasi pengesahan agenda pembangunan berkelanjutan pasca-2030 dan menyatakan kesiapan untuk mendukung pelaksanaannya. Kedua presiden menyatakan komitmen untuk melanjutkan sekaligus memperkuat kerja sama dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan nontradisional. Ancaman tersebut mencakup terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan, bencana alam, perdagangan satwa liar secara ilegal, praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur (illegal, unreported and unregulated fishing atau IUU fishing), serta berbagai tindak kejahatan di sektor perikanan. Kerja sama tersebut juga meliputi penguatan ketahanan air, penanggulangan pandemi serta peningkatan kolaborasi dan kapasitas dalam bidang keamanan siber. Presiden Obama mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam penegakan hukum di bidang penanggulangan terorisme. Keberhasilan tersebut dinilai mencerminkan pendekatan kontra-terorisme yang berada di bawah kendali otoritas sipil dan berpedoman pada prinsip supremasi hukum. Kedua presiden sepakat untuk melanjutkan dan meningkatkan kerja sama dalam menghadapi terorisme serta berbagai kelompok ekstremis.

Upaya tersebut mencakup pencegahan pergerakan pejuang teroris asing dan pelaksanaan program kontra-radikalisasi untuk membatasi penyebaran propaganda berbahaya di kalangan masyarakat yang rentan. Amerika Serikat dan Indonesia juga mengapresiasi penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi para pemimpin dunia mengenai penanggulangan ISIL dan ekstremisme berbasis kekerasan. Selain itu, kedua presiden mendukung pembentukan Dewan Agama dan Pluralisme sebagai mekanisme bilateral inovatif untuk memperkuat pluralisme, toleransi dan moderasi. Dalam rangka mencegah ancaman terorisme nuklir, kedua pemimpin menyambut rencana penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Nuklir pada 2016. Mereka juga menyatakan komitmen untuk menuntaskan kerja sama dalam pengamanan bahan nuklir sebelum konferensi tersebut dilaksanakan. Kedua presiden menegaskan pentingnya memperluas kerja sama sektor kesehatan sekaligus meningkatkan kapasitas dalam mencegah, mengidentifikasi dan menangani berbagai tantangan kesehatan global, termasuk ancaman wabah penyakit. Untuk mendukung penguatan kolaborasi tersebut, kedua negara sepakat menyusun perjanjian payung yang akan menjadi landasan dan pedoman bagi pelaksanaan kerja sama kesehatan pada masa mendatang.

Konsistensi Kepemimpinan

Amerika Serikat juga mengapresiasi konsistensi kepemimpinan Indonesia dalam inisiatif lima tahunan Global Health Security Agenda (GHSA), yang diarahkan untuk mencapai berbagai sasaran yang telah disepakati bersama. Peran tersebut mencakup kepemimpinan Indonesia sebagai Ketua Kelompok Pengarah GHSA pada 2016. Amerika Serikat dan Indonesia sepakat untuk memperkuat kerja sama melalui berbagai forum regional, antara lain Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), Forum Regional ASEAN dan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur. Kedua negara secara khusus menegaskan pentingnya ASEAN yang solid dan kuat, termasuk peran sentralnya dalam membentuk tatanan politik dan keamanan kawasan. Mereka juga menekankan pentingnya hubungan yang erat antara Amerika Serikat dan ASEAN. Selain itu, kedua pemimpin memandang perlunya memperkuat dan mengembangkan arsitektur kawasan yang positif serta konstruktif melalui dukungan terhadap Indian Ocean Rim Association (IORA). Mereka juga mengapresiasi komitmen Indonesia untuk memperkokoh tatanan regional di kawasan Samudra Hindia selama menjalankan keketuaan IORA pada periode 2015–2017.

Kedua presiden menyatakan keprihatinan atas perkembangan terbaru di Laut China Selatan yang dinilai telah memicu peningkatan ketegangan, melemahkan rasa saling percaya, serta mengancam perdamaian, keamanan dan kesejahteraan ekonomi di kawasan. Oleh karena itu, kedua negara menekankan pentingnya seluruh pihak menahan diri dari tindakan yang berpotensi memperburuk situasi. Kedua pemimpin juga menegaskan perlunya menjaga keamanan maritim dan menghormati kebebasan navigasi serta penerbangan yang diakui secara internasional di Laut China Selatan. Mereka mendukung penyelesaian sengketa secara damai berdasarkan hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tercantum dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau UNCLOS tanggal 10 Desember 1982. Selain itu, kedua negara menekankan pentingnya pelaksanaan secara penuh dan efektif Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea atau Deklarasi Perilaku Para Pihak di Laut China Selatan. Mereka juga mendorong penyelesaian Code of Conduct atau Tata Perilaku di Laut China Selatan sesegera mungkin.

Negara Demokrasi

Sebagai dua negara demokrasi yang memiliki masyarakat majemuk, Amerika Serikat dan Indonesia berkomitmen memperkuat peran masyarakat sipil, mendukung kebebasan dan dinamika pers, serta memperluas kesempatan bagi perempuan dan kelompok minoritas. Kepemimpinan kedua negara dalam Open Government Partnership menunjukkan kesungguhan mereka dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, keduanya berkomitmen membagikan pengalaman dan praktik yang telah diterapkan kepada negara-negara demokrasi berkembang melalui skema kerja sama triangular. Kedua presiden sepakat untuk memperluas dan mempererat hubungan antarwarga kedua negara, termasuk dengan meningkatkan pertukaran di bidang pendidikan dan pariwisata. Presiden Obama menyambut kebijakan Indonesia yang memperluas fasilitas bebas visa bagi warga AS untuk kunjungan singkat.

Amerika Serikat dan Indonesia akan mempertimbangkan langkah-langkah untuk memperpanjang masa berlaku visa non-migran bagi warga Indonesia yang ke AS untuk wisata dan bisnis, serta memperpanjang masa berlaku visa pelajar dan visa peserta pertukaran bagi warga AS yang ke Indonesia. Amerika Serikat dan Indonesia sepakat memperkuat kerja sama bilateral di bidang penelitian ilmiah dan pendidikan tinggi dengan memperluas kesempatan kolaborasi antarpeneliti pada sektor-sektor prioritas yang tercantum dalam perjanjian sains dan teknologi, seperti perlindungan laut, teknologi pertanian, kesehatan dan energi terbarukan. Pembentukan Dana Sains Indonesia (Indonesian Science Fund) menjadi langkah penting untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dan membuka jalur baru bagi penelitian Indonesia agar terhubung dengan komunitas ilmiah internasional.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *