Perbudakan di Industri Perikanan Diselidiki

Otoritas meningkatkan intensitas penyelidikan

Otoritas terkait meningkatkan intensitas penyelidikan terhadap sektor perikanan setelah terungkapnya kasus eksploitasi terhadap hampir 550 nelayan di sebuah pulau terpencil. IOM, bersama pemerintah dan perwakilan diplomatik, mendukung proses hukum terhadap perusahaan perikanan yang pemerintah tuduh.

Desa di Pulau Benjina, Laut Arafura, jadi fokus penyelidikan setelah laporan muncul. Laporan menyebut ratusan pria, sebagian besar dari Myanmar, terisolasi dan tidak bisa meninggalkan pulau.

Laporan yang terbit Jumat mengungkap bahwa misi pencarian fakta menemukan hampir 550 nelayan menjadi korban perbudakan. Temuan itu berasal dari misi pencarian fakta yang melibatkan perwakilan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).

Steve Hamilton, Wakil Kepala Misi IOM, mengatakan 210 warga Myanmar menyatakan ingin meninggalkan lokasi. Beberapa lainnya menolak pergi karena khawatir kehilangan upah yang telah mereka kumpulkan bertahun-tahun. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang sedang menempuh proses hukum untuk membantu para pria itu, yang mayoritas berasal dari Kamboja.

Ia menyatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Kedutaan Besar serta para korban guna mengupayakan restitusi dan kompensasi. Menurutnya, langkah ini memberi alternatif bagi pria yang enggan meninggalkan lokasi karena khawatir kehilangan gaji bertahun-tahun. Langkah itu membuat mereka setidaknya melihat adanya dukungan.

Hamilton menyampaikan bahwa otoritas terkait memiliki rencana untuk melakukan investigasi terhadap sektor perikanan yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan.

Pada hari Kamis, Angkatan Udara Thailand memulangkan lebih dari 60 nelayan Thailand ke Bangkok dengan pesawat C-130 setelah mereka petugas selamatkan dari Pulau Ambon, tempat beberapa sempat bersembunyi atau pemerintah tahan karena status imigran ilegal.

Nelayan Thailand termuda yang mereka selamatkan berusia 19 tahun dan telah menghabiskan enam tahun hidup di kapal, bekerja tanpa tidur dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Investigasi Thailand

Laporan yang terbit Maret 2015 mendorong pihak berwenang melakukan penyelidikan di berbagai wilayah, termasuk Thailand serta negara tujuan ekspor makanan laut utama seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa.

Selama beberapa tahun terakhir, media di Thailand secara konsisten menyoroti isu penggunaan tenaga kerja imigran dalam sektor perikanan secara luas.

Nelayan yang berhasil diselamatkan mengungkapkan bahwa sebelumnya telah dibujuk atau bahkan diculik untuk bekerja di sektor perikanan, dan selama menjalani pekerjaan tersebut, kerap mengalami kekerasan serta intimidasi dari awak kapal yang lebih senior.

Roisa Wongsuban, juru bicara Kelompok Kerja Migran yang berbasis di Thailand, menyatakan bahwa kawasan tersebut perlu memperkuat kolaborasi dalam menangani kasus perdagangan tenaga kerja di sektor perikanan. Ia menyoroti bahwa saat ini pendekatan yang diambil lebih bersifat dialog antarwilayah dibandingkan dengan respons konkret terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, belum terlihat perubahan signifikan dalam praktik penyelamatan korban perdagangan dan penyelundupan manusia. Ia juga mengungkapkan bahwa Thailand bahkan dimanfaatkan sebagai pusat perekrutan melalui penggunaan dokumen palsu.

Para analis menyatakan bahwa pemerintah telah mengetahui isu terkait penggunaan tenaga kerja ilegal dalam sektor perikanan. Namun, menurutnya, laporan media yang muncul belakangan ini menjadi pemicu penting bagi pemerintah untuk memulai penyelidikan, seiring dengan meningkatnya tuntutan akan kerja sama regional yang lebih kuat dalam mengatasi praktik ketenagakerjaan yang tidak sah.

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *