“Benarkah Indonesia bisa melarang alkohol sepenuhnya?” Di sebuah bar, Christine, Hassan dan Dilta saling bertukar pandang lalu tertawa lepas. Mereka kompak menilai pemerintah tidak akan mengambil langkah ini. Saat itu, ketiganya sedang meneguk Bintang—bir yang populer dan bagi sebagian orang sudah menjadi semacam ikon nasional.
Mereka mengatakan belum pernah mendengar usulan pelarangan alkohol nasional, padahal parlemen sudah menyetujui kajiannya. Namun, mereka menilai kecil kemungkinan usulan ini akan lolos. Ini juga bukan kali pertama partai-partai kecil berhaluan konservatif mendorong larangan total alkohol di negara mayoritas muslim ini, dan upaya-upaya sebelumnya selalu kandas.
Namun, Christine dan teman-temannya masih tampak cemas. Maklum, Indonesia baru saja melarang penjualan alkohol di minimarket dan supermarket. “Rasanya aneh karena sekarang kami tidak bisa lagi membeli alkohol di mana-mana. Jadi, kami harus lebih sering ke bar,” kata Christine.
Meski aturan baru sering memerlukan waktu untuk diterapkan—dan lebih lama lagi untuk ditegakkan—larangan penjualan alkohol di minimarket berjalan hampir tanpa kendala. Bir dan minuman beralkohol lain kini benar-benar lenyap dari rak toko.
Supermarket besar, hotel, bar, dan klub masih menjual alkohol. Namun, rancangan undang-undang baru akan melarang produksi, distribusi, penjualan dan konsumsi minuman beralkohol di seluruh Indonesia. Pelanggar terancam hukuman penjara hingga dua tahun.
Dua partai Islam mengusulkan rancangan undang-undang ini. Namun, para pengusungnya menekankan bahwa mereka mengejar tujuan kesehatan masyarakat, bukan semata pertimbangan agama. Salah satu bagian naskah usulan bahkan menyatakan—tanpa mencantumkan rujukan—bahwa alkohol memicu 58% dari seluruh tindak kejahatan.
Perhatian publik terhadap isu alkohol ini muncul secara mendadak. Padahal, masyarakat bukan peminum berat. Memang, penjualan bir naik 54% dalam 10 tahun terakhir, tetapi konsumsi alkohol per kapita masih termasuk yang terendah di Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia juga mencatat bahwa lebih dari 90% penduduk tidak mengonsumsi alkohol.
Menoleransi Alkohol
Selain kelompok ekstrem, kebanyakan orang selama ini cenderung menoleransi konsumsi alkohol. Bir sejak lama mudah ditemukan hampir di mana-mana. Dalam beberapa tahun terakhir, kota-kota besar juga melihat semakin banyak bar dan klub baru bermunculan. Kehidupan malam Jakarta bahkan kini dinilai mampu menyaingi kota-kota kelas dunia. Minimarket seperti 7-11 dan Circle K (sebelum larangan) pun bertransformasi menjadi semacam kafe terbuka, tempat orang bisa datang, membeli bir kaleng dari lemari pendingin, lalu meminumnya langsung di toko.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, penggagas larangan penjualan alkohol di minimarket, mengatakan negara perlu melindungi generasi muda. Ia menyebut semakin banyak warga mengeluhkan akses alkohol yang kian mudah di lingkungannya. Karena itu, menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk menekan konsumsi minuman keras oleh anak di bawah umur. “Alkohol bisa merusak moralnya. Sudah ada tanda-tanda mereka tidak lagi menghormati orang tua,” ujarnya.
KPAI juga mendukung usulan pelarangan alkohol secara menyeluruh. Direktur komisi tersebut, Asrorun Ni’am Sholeh, menilai pemerintah sudah saatnya bersikap tegas dan mengambil langkah untuk melindungi anak-anak dari penyalahgunaan narkoba dan alkohol.
Perlindungan generasi muda menjadi salah satu prioritas utama dalam agenda Presiden Joko Widodo, bersamaan dengan sikap keras terhadap narkoba. Sikap ini terlihat dari eksekusi mati terhadap penyelundup narkoba asing yang baru-baru ini dilakukan, meski menuai kecaman internasional.
Namun, tidak semua pihak mencemaskan dampak alkohol terhadap generasi muda. Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, misalnya, tidak menganggapnya sebagai masalah.
Ia mempertanyakan pelarangan bir, seraya menegaskan kematian umumnya terjadi akibat minuman beralkohol yang terkontaminasi, bukan bir—sebuah konsekuensi berat dari pelarangan menyeluruh.
Gubernur menilai larangan ini justru akan memicu peredaran minuman keras ilegal yang berisiko mematikan. Ia bukan satu-satunya yang berpandangan demikian.
Asosiasi Industri Makanan dan Minuman memperingatkan bahwa larangan alkohol nasional dapat memicu lonjakan produksi minuman keras ilegal. “Ini lebih mengkhawatirkan karena tidak ada standar kesehatan dan keselamatan. Bagaimana pemerintah bisa mengendalikannya?” ujar wakil ketua asosiasi, Sribugo Suratmo.
Laporan Kematian
Meski data statistik nasional terbatas, laporan kematian akibat menenggak minuman keras rumahan yang mengandung metanol cukup sering muncul. Tingginya pajak alkohol juga disebut mendorong produsen tak bertanggung jawab meracik campuran yang berbahaya. Pada Desember lalu, lebih dari 30 orang meninggal dan puluhan lainnya dirawat di rumah sakit dalam sejumlah insiden terpisah setelah mengonsumsi alkohol ilegal.
Beberapa meja dari tempat Christine dan kawan-kawannya duduk, Agi, 27 tahun, juga tampak meneguk Bintang. Ia pun meyakini bahwa pelarangan alkohol secara total justru berbahaya.
“Orang tidak akan berhenti minum alkohol; mereka hanya akan beralih membuatnya sendiri,” katanya.
Ica, teman Agi yang berusia 26 tahun, menilai alkohol telah menjadi bagian dari budaya kita. Ia mencontohkan minuman tradisional seperti anggur beras dan tuak/arak dari nira palem yang populer di berbagai daerah.
Meski rancangan larangan alkohol ini mengecualikan hotel bintang lima dan kawasan resor utama seperti Bali, banyak pihak khawatir pembatasan ketat akan mengganggu pariwisata.
Namun, saat Menteri Perdagangan membela larangan penjualan alkohol di minimarket, ia menegaskan kebijakan ini tidak akan mengurangi jumlah wisatawan. Sebelum larangan berlaku, ia mengatakan, “Wisatawan datang bukan untuk minum alkohol, melainkan menikmati alam dan budaya kita,” ujarnya. Belakangan, ia tampaknya menyadari bahwa minuman beralkohol bisa menjadi bagian dari ekspektasi wisatawan di Bali. Karena itu, muncul usulan agar Bali segera dikecualikan dari larangan minimarket tersebut.
Sementara itu, Christine dan Hassan berniat tetap sering ke bar dan memilih tidak memikirkan kemungkinan hidup tanpa alkohol untuk saat ini. Namun Dilta, temannya, sudah menyiapkan rencana cadangan. “Kalau begitu saya pindah ke Paris, atau Zimbabwe,” katanya sambil tertawa. “Saya terlalu suka bir.”