Dahulu bakau menutupi sebagian besar garis pantai tropis. Namun separuhnya hilang dalam 50 tahun terakhir, menurut LSM Seacology di San Francisco. Dari 13,7 miliar hektare bakau yang tersisa, 42% berada di Asia, dan Indonesia menyumbang 20% dari tutupan global. Negara kepulauan ini juga menjadi habitat sekitar 55 dari 60–110 spesies bakau di dunia.
Pohon dan semak bakau tumbuh di dataran pasang surut tropis dan subtropis, terendam air laut dua kali sehari. Bakau hidup di perairan asin dan menjadi habitat berbagai makhluk, serta berfungsi sebagai tempat pemijahan bagi ikan komersial dan gurita. Cacing laut menggali kayu hingga berlubang, dan anak ikan karang sering menghabiskan berbulan-bulan di dalamnya.
Sekitar 20 famili tumbuhan berbeda menghasilkan spesies mangrove, dan hanya habitat berlumpur, asin, serta tergenang yang menyatukan mereka. Karena kondisi ini, tiap spesies mengembangkan strategi bertahan hidup yang berbeda. Beberapa mangrove memiliki mekanisme penyaringan yang mencegah garam masuk ke akar. Beberapa lainnya mengeluarkan garam melalui kelenjar di daun. Banyak mangrove menumbuhkan akar di atas permukaan air, termasuk akar yang tumbuh ke atas, untuk membantu penyerapan oksigen.
Hutan bakau meredam gelombang badai. Misalnya, desa-desa yang terlindung oleh bakau di pantai tenggara India selamat dari tsunami 2004. Sementara desa lain hancur total, menurut jurnal Science.
Lingkungan keras dan sering tergenang tempat bakau tumbuh mempercepat pertumbuhan pohon sekaligus memperlambat penguraian bahan organik tanah, sehingga bakau sangat efisien menyimpan karbon. Penelitian 2015 dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional menemukan hutan bakau Indo‑Pasifik menyimpan sekitar 6% lebih banyak karbon daripada tegakan hutan lain di wilayah tersebut.
Akar mangrove menahan sedimen halus dari daratan sehingga tidak menutup habitat terumbu karang dan padang lamun pesisir tropis, kata Ian Hendy, peneliti Universitas Portsmouth yang meneliti mangrove Wakatobi; ia menyebut ketiga habitat itu trinitas suci lingkungan laut tropis.
Budidaya Perikanan
Sebuah studi terbaru menemukan Asia Tenggara kehilangan 100.000 hektare hutan mangrove antara 2000 dan 2012. Sekitar sepertiga hilangnya lahan disebabkan oleh perluasan budidaya perikanan, meskipun di beberapa daerah pertanian lebih dominan. Budidaya udang bertanggung jawab atas 44% deforestasi mangrove di negara ini, sementara sisa tutupan mangrove global negara ini masih sekitar seperlima. Di dataran banjir Myanmar, konversi mangrove terutama untuk sawah. Para peneliti juga memperingatkan bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit bisa segera mengancam mangrove utuh di pantai Papua.
Bahkan kawasan pesisir yang masih relatif alami kini terancam; ilmuwan kelautan Kuba khawatir pembangunan resor dan pelabuhan pariwisata di negara yang hampir sepenuhnya terbuka ini akan merusak hutan bakau dan habitat pesisir lainnya.
Pemanasan global akan membawa cuaca lebih ekstrem, curah hujan tak menentu dan kenaikan muka laut. Perubahan ini menantang bahkan bagi bakau yang tahan garam, sementara manusia justru semakin bergantung pada perlindungan yang diberikannya.
Misalnya, di Amerika Utara dan wilayah lain di lintang tropis utara, makin seringnya badai akan meningkatkan kebutuhan akan bakau pelindung; namun di Delta Mississippi, yang mengalami salah satu laju kenaikan muka laut tertinggi, bakau kemungkinan akan mati akibat paparan air asin berkepanjangan, dan satu‑satunya cara bagi mereka untuk bertahan adalah berpindah ke daratan.
Menyadari peran penting bakau bagi manusia dan lingkungan, para konservasionis kini memprioritaskan upaya perlindungan dan reboisasi; pemerintah Sri Lanka bahkan berjanji melindungi seluruh hutan bakau negaranya.
Misalnya di Sri Lanka dan Indonesia, LSM seperti Seacology dan Wetlands International mengaitkan proyek reboisasi dan konservasi mangrove dengan skema pinjaman mikro; warga desa menanam semak di pesisir dan jika tanaman ini bertahan dua tahun, pinjaman mereka dihapus; pendekatan ini sekaligus mengurangi risiko kerusakan akibat badai dan memberi warga akses tunai untuk membeli ternak atau memulai usaha kecil.