Pada puncak peringatan Hari Internasional Anti Narkoba 2016 di Pinangsia, Jakarta Barat, Minggu 26 Juni, Presiden Joko Widodo berbicara. Ia menyatakan perang terhadap penyalahgunaan narkoba dan menuntut tindakan tegas. Presiden meminta semua kementerian dan lembaga untuk bersinergi dalam penanggulangan. Ia juga menginstruksikan aparat penegak hukum, terutama Kapolri, Kapolda, Kapolres, Kapolsek, menangkap pengedar. Aparat penegak hukum harus menangkap pengedar dan membawa mereka ke pengadilan untuk diproses sesuai hukum.
Presiden menegaskan perlunya menumpas pengedar narkoba dengan tegas. Ia mengatakan bahwa aparat dapat melakukan penembakan jika ketentuan hukum mengizinkan. Presiden akan menginstruksikan Kapolri dan Kepala BNN untuk melaksanakan tindakan tersebut.
Para ahli memperkirakan bahwa pada 2015 sebanyak 5,1 juta orang mengonsumsi narkoba. Sekitar 49–50 orang meninggal setiap hari akibat penyalahgunaan narkoba. Presiden menyatakan kerugian ekonomi sekitar Rp63 triliun, termasuk pengeluaran untuk narkoba, pengobatan, barang curian, rehabilitasi, dan biaya lain.
Ia menegaskan bahwa permasalahan narkoba merupakan keadaan darurat karena menyasar semua lapisan masyarakat.
Menurut presiden, penyalahgunaan narkoba terjadi di perkotaan dan pedesaan, menyasar orang dewasa, remaja serta anak-anak sedini siswa TK dan SD.
Ia menambahkan pengedar mengembangkan cara baru menyelundupkan narkoba, misalnya menyembunyikannya dalam mainan dan anggota tubuh palsu.
Bersatu Padu
Presiden Jokowi meminta pesantren, institusi pendidikan, kementerian, lembaga, BNN, Polri, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah daerah bersatu padu. Presiden Jokowi meminta mereka mengambil tindakan nyata dan terukur untuk menanggulangi narkoba. Juga menghancurkan jaringan pengedar agar peredaran obat terlarang terputus. Selain itu, menjaga fondasi nasional dengan mengesampingkan ego demi kepentingan bersama.
Di manapun kasus narkoba muncul, pemerintah akan mengerahkan pasukan, unit intelijen dan seluruh sumber daya di lembaga pemasyarakatan, institusi pendidikan, perbatasan, bandara, pelabuhan dan instansi pemerintah untuk menanggulanginya.
Presiden menegaskan kembali perlunya memberantas penyalahgunaan narkoba; Indonesia tidak akan lagi menjadi pasar maupun pusat produksi narkoba, dan sekaranglah waktunya untuk berperang melawan narkoba.
Sebelumnya Budi Waseso, Kepala BNN, mengatakan bahwa pada rentang 2015–Juni 2016 BNN dan Badan Narkotika Provinsi mengungkap 1.015 kasus terkait 72 sindikat narkotika dan menangkap 1.681 tersangka.
Selain itu, BNN mengungkap praktik pencucian uang hasil perdagangan narkoba dengan nilai aset sitaan mencapai Rp142.058.158.337; barang bukti yang disita antara lain 2,8 ton sabu, 707.864 pil ekstasi, 4,1 ton ganja dan 69 hektare lahan ganja.
Acara ini dihadiri pula oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti serta Kepala BNN Komjen Budi Waseso.