Serangan Jakarta: Kekejaman dan Perebutan Kekuasaan ISIS

ISIS telah mencapai negara

Serangan pekan lalu di Jakarta menunjukkan kekerasan terkait ISIS telah mencapai negara ini untuk pertama kali. Namun, para pakar keamanan menilai pengaruh kelompok radikal itu masih terbatas. Mereka mengatakan militan terpecah karena perebutan posisi kepemimpinan regional.

Polisi menyebut Bahrun Naim, warga negara yang menetap di Suriah, sebagai otak serangkaian bom dan penembakan. Peristiwa Kamis itu menewaskan lima penyerang dan dua warga sipil.

Tokoh jihadis paling berpengaruh di kawasan ini kemungkinan adalah ulama yang menjalani hukuman penjara, Aman Abdurrahman. Melalui beberapa kurir dan ponsel, ia mengarahkan sekitar 200 pengikut dari balik jeruji.

Ia memimpin Jamaah Ansharut Daulah, payung organisasi yang terbentuk tahun lalu dari aliansi kelompok pecahan berpotensi menyatukan pendukung ISIS.

Rakyan Adibrata, pakar terorisme di Jakarta dan penasihat parlemen, mengatakan militan berupaya mengubah konflik menjadi urusan domestik. Tujuannya menarik lebih banyak pendukung dari luar negeri.

Mereka berusaha menciptakan zona konflik luas mirip Suriah yang menarik jihadis internasional. Tujuan utama mereka adalah menjadikan wilayah itu magnet bagi pejuang asing untuk datang dan bertempur.

Polisi menilai Bahrun, pendukung Aman, merencanakan serangan Jakarta untuk membuktikan kemampuannya kepada pemimpin ISIS di Suriah.

Tito Karnavian, Kepala Polda Metro Jaya, mengatakan ISIS hanya akan mengakui seseorang jika ia membuktikan kemampuan kepemimpinannya. ISIS adalah akronim kelompok yang berbasis di Suriah.

Ia mengatakan Bahrun bercita-cita menyatukan kelompok-kelompok pendukung ISIS yang terpecah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Filipina.

ISIS menguasai sebagian wilayah Suriah dan Irak. Kelompok itu menerima baiat dari jihadis di Nigeria, Mesir, Libya, Aljazair, Afghanistan, Pakistan, Yaman, dan Arab Saudi. Namun, ISIS belum mengakui secara resmi kelompok radikal mana pun di Asia Tenggara.

Kelompok transnasional terakhir yang melancarkan serangan besar di kawasan ini adalah Jemaah Islamiyah (JI), yang termasuk pelaku pemboman Bali 2002 yang menewaskan 202 orang.

Militan Indonesia dan Malaysia

Militan Indonesia dan Malaysia yang kembali dari jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan pada 1980-an hingga awal 1990-an membentuk JI, namun kini organisasi itu sebagian besar runtuh karena persaingan internal dan penindakan aparat keamanan yang terus-menerus.

Pemerintah di kawasan khawatir para militan berbahasa Melayu yang kembali dari pertempuran bersama ISIS di Suriah dan Irak dapat membentuk organisasi regional serupa JI.

Para pakar keamanan meragukan kemungkinan terbentuknya kelompok lintas kawasan yang menyatukan militan dari Indonesia, Malaysia dan Filipina di bawah satu panji, karena terlalu banyak perbedaan yang memecah belah.

Seorang pejabat senior kontra-terorisme Angkatan Darat Filipina menyatakan bahwa saat ini mustahil membayangkan terbentuknya afiliasi Asia Tenggara manapun, seraya menambahkan bahwa militan di negaranya lebih tertarik mengumpulkan uang lewat penculikan.

Pejabat ini menambahkan bahwa hambatan utama sekarang adalah mencari seorang amir yang semua pihak sepakati, dan ia berbicara tanpa menyebut namanya karena tidak berwenang memberi pernyataan ke media.

Di Malaysia, mantan dosen Universitas Mahmud Ahmad menjadi otak di balik upaya terbaru untuk menyatukan kelompok-kelompok militan dari tiga negara Asia Tenggara, termasuk Abu Sayyaf yang beroperasi di pulau-pulau selatan Filipina.

Aman masih dianggap sebagai calon paling kuat untuk memimpin ISIS di kawasan ini.

Dalam masa hukuman sembilan tahun karena membantu operasional kamp pelatihan militan, ia berhasil merekrut ratusan orang untuk berperang di Suriah dan Irak.

Pakar terorisme Adibrata mengatakan organisasi ini bisa dijalankan dari dalam penjara; kurir membawa ponsel untuk merekam setiap ucapan Aman.

Petugas penjara berkali-kali berupaya membungkam Aman.

Menurut Institut Analisis Kebijakan Konflik, 10 ponsel disita dari selnya pada September 2014, namun sebulan kemudian ia kembali mendapat ponsel baru sehingga khotbahnya kepada pengikut di dalam dan luar penjara tetap berlanjut.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *