Presiden Cenderung Menjadi Penonton Saat Tantangan Memuncak

Pemerintah menghadapi kecaman internasional

Pemerintah menghadapi kecaman internasional setelah melakukan eksekusi massal terhadap terpidana pengedar narkoba bulan lalu, dengan sebagian besar korban warga asing.

Di dalam negeri, Presiden Joko Widodo tegas menolak tekanan dari pemerintah asing. Ia juga memberi pengampunan kepada delapan pelaku narkoba, langkah langka yang memenangkan dukungan pemilih.

Hasil jajak pendapat memperlihatkan bahwa dalam enam bulan pertama masa jabatan, mantan eksportir furnitur baru sedikit yang berhasil memenuhi ekspektasi.

Meski eksekusi ini mendapat sorotan internasional, persaingan hukum di dalam negeri justru mencuri perhatian publik. Situasi itu mengikis kepercayaan pemilih dan investor terhadap kemampuan serta keberanian Jokowi. Mereka khawatir reformanya akan mengancam kepentingan mapan.

Taruhan Besar

Sejak menjabat pada Oktober, pemimpin berusia 53 tahun ini menghadapi perlawanan dari elite yang berkuasa. Termasuk partai utama yang sebelumnya mendukung pencalonannya.

Publik kini menyoroti perannya; mereka menilai ia gagal melindungi lembaga antikorupsi terhormat. Banyak orang menuduh kepolisian melakukan perburuan penyihir.

Sebagian kalangan melihat pertaruhan besar pada kemungkinan reformasi sosial dan ekonomi yang memanfaatkan kekayaan alam kepulauan ini. Tujuannya menaikkan kesejahteraan 240 juta penduduk; 40% masih hidup dalam kemiskinan ekstrem atau sangat dekat garis kemiskinan.

Sebagai alternatif, pemerintah mungkin terus bergelut dengan memburuknya kondisi ekonomi. Sementara itu, populasi muslim terbesar di dunia semakin frustrasi dan tertinggal dari lonjakan kemakmuran Asia.

Sebagai Gubernur Jakarta hingga tahun lalu, Joko Widodo nyaris tak pernah melakukan blunder. Media yang memujinya menggambarkan dia sebagai pemimpin pragmatis, terbuka, mendukung bisnis, dan peduli pada rakyat miskin.

Ia tak ragu mengemukakan pendapat dan mewujudkan gagasannya. Ia menjadi wajah baru demokrasi muda dan cepat muncul sebagai kandidat terpopuler. Ia dipandang mampu memimpin ekonomi terbesar di Asia Tenggara menuju era pertumbuhan tinggi. Langkahnya juga menciptakan kebanggaan dan lapangan kerja.

Hal tersebut berlangsung pada tahun sebelumnya.

Pejabat yang Rakus

Kini keadaannya sangat berbeda, Jokowi tersandung oleh kesalahan sendiri dan kehilangan keseimbangan karena persaingan antar blok kekuatan.

Berbeda dari beberapa negara tetangga, negara besar di Asia Tenggara ini berhasil menjadi demokrasi stabil dan dinamis. Transformasi itu terjadi setelah runtuhnya ekonomi Asia pada akhir 1990‑an.

Protes massal menggulingkan Presiden otokratis Soeharto pada 1998 setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Korupsi dan nepotisme besar‑besaran menandai tahun‑tahun terakhir pemerintahannya.

Lembaga yang mengelola sekitar 17.000 pulau yang sangat beragam ini masih tertinggal. Akibatnya, Indonesia tetap berlabel sebagai salah satu masyarakat paling korup dan tidak transparan di dunia. Pejabat‑pejabat rakus bertindak di mana‑mana.

Tanyakan pada hampir semua pemimpin bisnis, lokal maupun asing, dan mereka akan menempatkan kepastian hukum sebagai prioritas utama.

Pendapat umum menunjukkan pengaruh eksternal memengaruhi keputusan aparat penegak hukum. Kepercayaan publik terhadap parlemen, polisi, dan pengadilan cenderung rendah.

Perebutan Pengaruh

Pada awalnya figur tunggal menopang popularitas Jokowi; partai dan mesin politik harus membangun struktur agar ia menjadi suara pemilih.

Dengan demikian ia memilih PDI‑P sebagai mitra politik; partai terbesar ini memiliki cita‑cita populis yang sama, dan pemimpinnya, Megawati Soekarnoputri, tidak cukup populer untuk memenangkan kursi.

Karena tidak memiliki kekuatan politik yang kuat, presiden baru ini tampak mudah terseret dalam perebutan pengaruh di lingkungan politik yang menilai kesetiaan berdasarkan hubungan personal dan uang, bukan partai.

Komentar Megawati baru‑baru ini mengisyaratkan bahwa ia melihatnya lebih sebagai petugas partai yang harus melaksanakan arahan partai, termasuk perintah dari dirinya sendiri.

Jika begitu, argumen tersebut mengesampingkan fakta bahwa PDI‑P hanya memiliki kurang dari seperempat kursi di parlemen, sementara Jokowi memenangkan kursi presiden dengan dukungan lebih dari 50% pemilih nasional.

Seiring proses berlangsung, hubungan antara Jokowi dan Megawati, yang merupakan putri pendiri negara dan sedang menyiapkan anak‑anaknya untuk peran politik di masa depan, mulai memburuk.

Proses Nominasi yang Kacau

Salah satu penyebab ketegangan meningkat adalah kemarahan terhadap perlakuan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang dibentuk 13 tahun lalu untuk melawan korupsi endemik dan telah memenjarakan beberapa pejabat tinggi.

Secara umum dipercaya bahwa Megawati mendorong penunjukan mantan ajudannya sebagai Kapolri, dan keadaan memanas setelah KPK menyatakan kecurigaan adanya korupsi pada calon tersebut.

Jokowi menarik pencalonan jenderal ini; namun proses nominasi yang berantakan telah mencoreng reputasinya dan memunculkan tuduhan bahwa ia hanya pion partainya. Para jenderal polisi kemudian melakukan serangan balik, dan sebagian besar pimpinan KPK terpaksa mundur.

Kasus Uji Coba

Polisi menangkap Novel Baswedan minggu lalu; ia dikenal sebagai salah satu penyelidik terbaik lembaga negara dan ditangkap terkait perkara lama ketika masih menjadi anggota kepolisian.

Di pandangan umum, penangkapan ini tampak sebagai pembalasan terhadap Novel yang pernah menjerat sejumlah perwira tinggi; Novel akhirnya dibebaskan setelah mendapat tekanan dari Jokowi.

Konflik publik yang kian memanas antara kepolisian dan lembaga anti‑korupsi menjadi ujian bagi kemampuan presiden untuk menegakkan kehendaknya serta bagi kesiapan pihak‑pihak yang merasa terancam oleh reformasi untuk melemahkan posisinya.

Saat ini, para pendukung politiknya dari masa lalu terlihat ragu‑ragu; jika kondisi ekonomi terus melemah, kesabaran para pemilih yang dulu mendukungnya dengan antusias bisa menipis.

Sebuah jajak pendapat terkini yang dipublikasikan oleh surat kabar besar menunjukkan bahwa kepuasan publik terhadap kinerja ekonomi pemerintah hanya mencapai satu dari empat orang.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *