Inisiatif Membangun dengan Alam menstabilkan garis pantai dan mengurangi erosi melalui restorasi mangrove, rekayasa kecil, serta tata guna lahan berkelanjutan. Langkah ini meningkatkan keamanan 70.000 warga rentan di Jawa Tengah, menekan banjir dan erosi, serta mendukung ekonomi berkelanjutan.
Garis Pantai yang Terkikis Parah
Sebanyak 30 juta orang di pesisir Jawa bagian utara terdampak banjir dan abrasi yang mempengaruhi 3.000 desa. Penebangan mangrove untuk budidaya perikanan, pembangunan infrastruktur pantai yang tidak berkelanjutan, dan pengambilan air tanah memicu kondisi ini. Di beberapa lokasi, laut menelan lebih dari tiga kilometer daratan dan melenyapkan seluruh desa. Banyak warga mengalami penurunan pendapatan besar, mencapai 60–80% di sejumlah desa. Sektor pertanian dan budidaya perikanan sebagai penggerak ekonomi utama juga menanggung kerugian hingga miliaran rupiah.
Proyek Percontohan Skala Besar di Wilayah Demak, Jawa Tengah
Program lima tahun ini berfokus pada pesisir Demak. Proyeksi menunjukkan kenaikan muka laut akan memicu banjir hingga 6 km ke daratan pada 2100. Dampaknya meliputi tenggelamnya sekitar 14.700 hektare lahan, lebih dari 70.000 orang terdampak, serta hilangnya 6.000 hektare tambak budidaya perikanan.
Secara teknis, program ini mencakup pemasangan bendung permeabel dari semak belukar untuk menjebak sedimen dan memulihkan keseimbangan sedimen. Penambahan sedimen skala kecil memperkuat upaya tersebut. Saat elevasi dasar laut di pesisir meningkat, mangrove beregenerasi secara alami. Barier hayati terbentuk, melindungi daratan dari banjir dan erosi lanjutan.
Dengan menerapkan tata guna lahan berkelanjutan, program ini menargetkan akar penyebab erosi. Program ini akan mengembangkan berbagai sumber penghidupan berkelanjutan, seperti akuakultur ramah lingkungan. Para pemangku kepentingan akan mengatur langkah-langkah ini melalui peraturan daerah dan skema pendanaan komunitas. Mereka juga akan menyelaraskannya dengan rencana pembangunan masyarakat serta rencana induk pemerintah yang terintegrasi untuk keberlanjutan.
Pengetahuan dan Peningkatan Skala
Para mitra menargetkan replikasi dan perluasan skala pendekatan Membangun dengan Mangrove ke wilayah pedesaan, perkotaan serta pesisir berlumpur rentan di berbagai negara, melalui peningkatan kapasitas, berbagi pengetahuan dan integrasi ke dalam kebijakan serta perencanaan.
Kampanye edukasi yang terfokus, disertai dialog kebijakan nasional, mendorong integrasi pendekatan ini di sektor air dan memastikan replikasi di wilayah perkotaan maupun pedesaan.
Kemitraan Publik-Swasta
Inisiatif ini merupakan salah satu studi kasus internasional unggulan dari program Inovasi Membangun dengan Alam, dengan dukungan kuat pemerintah dan masyarakat setempat. Melalui kemitraan publik–swasta, Membangun dengan Alam memajukan rekayasa pesisir berkelanjutan yang memanfaatkan perlindungan alami ekosistem seperti hutan bakau dan habitat rawa asin. Pendekatan ini menandai peralihan dari infrastruktur konvensional yang kerap berseberangan dengan alam menuju solusi yang bekerja selaras dengannya, sering lebih hemat biaya, sekaligus meningkatkan kemakmuran ekonomi lokal, misalnya melalui penguatan perikanan dan penyimpanan karbon.
Membangun Bersama Alam merupakan program yang diinisiasi oleh Ecoshape, Wetlands International, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pekerjaan Umum; program ini bermitra dengan konsultan Witteveen+Bos, lembaga pengetahuan Deltares, Wageningen University & Research Centre, IMARES dan UNESCO-IHE serta LSM Blue Forests, dengan dukungan Universitas Diponegoro dan masyarakat setempat.
Program Membangun dengan Mangrove terlaksana berkat dukungan Dana Air Berkelanjutan Belanda, Yayasan Waterloo, Yayasan Otter, Topconsortia untuk Pengetahuan dan Inovasi serta Mangroves for the Future.