Markas Militan ISIS Paling Ternama Menjadi Simbol Ancaman

kamis pagi di Jakarta

Pada Kamis pagi yang tampak biasa di Jakarta, para komuter tak banyak menyadari bahwa di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dengan ojek yang bergegas menembus kemacetan, sekelompok pemuda bersenjata dengan niat membunuh segera hadir di antaranya.

Pada pukul 10.43, sekelompok orang dengan bahan peledak, rompi bunuh diri dan senjata api menyerbu kafe Starbucks dan melancarkan aksi teror besar. Lima jam berselang, seluruh pelaku tewas. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan pertama mereka di Asia Tenggara.

Apabila para pelaku berniat melakukan pembantaian besar-besaran, upaya itu tidak tercapai. Empat warga sipil kehilangan nyawa, tetapi yang lebih mencemaskan adalah ambisi yang mereka miliki.

Meski terlihat kurang terlatih, mereka memiliki niat jahat yang kuat. Serangan ini berlangsung di tengah peringatan yang tidak jelas, dan lebih signifikan lagi setelah muncul serangkaian deklarasi kesetiaan kepada ISIS dari sejumlah kecil pemuda dan pemudi di berbagai wilayah.

Daerah seperti Solo, yang berjarak sekitar 650 km, menjelaskan alasan anak muda semakin terjerumus ke radikalisme.

Kota ini membina generasi muda yang terjerumus radikalisme, termasuk Bahrun Naim, sosok terkenal berusia 32 tahun.

Otoritas menyatakan bahwa ia berangkat ke Suriah pada 2014 untuk bertempur bersama ISIS dan merencanakan serta mendanai serangan-serangan tersebut.

Akar Ideologi Radikal

Bentangan sawah mengelilingi Solo, atau Surakarta, sebuah kota kecil yang tenang.

Sekitar 500 ribu penduduk menghuni kota ini, yang juga terkenal sebagai tempat asal Presiden Joko Widodo.

Meski demikian, otoritas menyebutkan bahwa sejumlah kelompok militan juga lahir dari kota ini. Abu Bakar Bashir, sebagai pemimpin spiritual Jemaah Islamiah—organisasi pelaku bom Bali 2002—mendirikan pesantren di sini, yang menurut banyak akademisi masih menyebarkan ideologi radikal.

Bahrun menempuh pendidikan di Solo—bukan di pesantren Bashir, melainkan di sekolah yang berlokasi tak jauh dari sana—dan mulai menumbuhkan benih ideologi radikal di tempat tersebut. Dari sini pula perjalanannya berawal, dari seorang operator warung internet sekaligus mahasiswa matematika hingga akhirnya menjadi militan di Suriah.

Kami Bukan Teroris

Dalam beberapa tahun terakhir, Solo berusaha keras mengejar keberhasilan ekonomi layaknya kota-kota tetangganya. Dahulu menjadi pusat industri tekstil, kini kota ini tersisih oleh daerah produksi lain yang lebih unggul dalam persaingan.

Menurut para pakar, tekanan ekonomi menjadi salah satu pemicu yang mendorong kaum muda untuk menyerukan jihad.

Saat surat kabar menyoroti serangan mengejutkan dengan tajuk utama — Dalang ISIS Bocah Solo — seorang penjual koran di taman kota mengaku merasa malu.

“Saya merasa amat malu. Benar atau tidak, orang Solo bukanlah seperti itu. Kami bukan teroris.”

Orang-orang di pasar setempat turut memperbincangkan topik ini. Yati, yang merupakan tetangga keluarga Bahrun, ikut menyinggungnya.

Menurutnya, mereka hidup menyendiri, sangat tertutup dan pendiam, serta tidak pernah berinteraksi dengan warga sekitar.

Ia juga menuturkan tentang bertambahnya jumlah pemuda muslim radikal di wilayah ini, yang menurutnya kerap melakukan penggerebekan terhadap acara nyanyi maupun hiburan malam, sehingga mengacaukan pesta dan perayaan.

Ia mengatakan bahwa mereka kini terbiasa mengadakan acara lebih awal pada malam hari. Jika tidak, ada risiko kelompok itu datang dan menuduhnya mengonsumsi alkohol, yang bisa menimbulkan banyak persoalan.

Tidak Bersalah

Rumah keluarga Bahrun Naim, berwarna biru dan putih, terletak di sebuah gang kecil. Bangunan itu tampak tertutup dan sepi, menunjukkan bahwa penghuni tidak berkeinginan menerima tamu.

Ayah Bahrun menegaskan bahwa mereka tidak ingin berbicara dengan siapa pun.

Rumahnya tampak sederhana, dengan dapur darurat di sudut yang mereka gunakan untuk memasak makanan dagangan. Sementara itu, keluarga tersebut telah menutup toko kelontong kecil mereka, meski mereka mengaku masih melayani penjualan untuk orang-orang sekitar.

Orang-orang mengenal ibu Bahrun sebagai sosok pendiam sekaligus keras, dengan raut wajah yang menunjukkan ketidaksenangannya terhadap orang asing. Baik ia maupun ayah Bahrun menolak untuk berbicara, sementara adik laki-lakinya, Dahlan, bersedia memberikan keterangan meski dengan rasa enggan.

Ia menuturkan bahwa Bahrun berangkat ke Suriah untuk menempuh pendidikan, bukan terlibat dalam perkara ini. Teman-temannya terus mempertanyakan apa yang terjadi, sementara para dosen menyebut ia berasal dari keluarga teroris. Namun, menurutnya, aparat hanya menuding sang kakak, dan bahkan belum pasti apakah ia benar-benar bersalah.

Sikap curiganya terhadap orang luar memang menimbulkan keresahan, tetapi warga sekitar dan aparat berwenang terus mengawasi mereka sehingga hal ini bisa mereka pahami.

Sedikitnya empat polisi dengan sepeda motor melintas di depan rumah ini. Sejumlah warga sekitar juga mengatakan bahwa aparat intelijen pernah terlihat berada di desa tersebut.

Diradikalisasi di Penjara

Anis Priyo Anshori, mantan pengacara yang ditunjuk oleh keluarga Bahrun, menyatakan bahwa Bahrun telah dijadikan sebagai kambing hitam.

Menurut Anis, dia adalah sosok yang tenang dan penuh ide. Ia sangat pintar, namun cenderung tertutup.

Ia mengakui bahwa Bahrun pernah terlibat masalah hukum. Pada 2010, ia dijatuhi hukuman karena kepemilikan amunisi, sebuah perkara yang membuatnya mendekam di penjara selama dua setengah tahun.

Anis menegaskan bahwa ia pernah dipenjara, dan menurutnya hukuman ini terkait kejahatan yang ia yakini tidak dilakukan olehnya. Kini hal serupa terjadi lagi. Ia menambahkan, setahunya ketika masih muda, orang tersebut pernah bergabung dengan kelompok radikal, namun kelompok ini tidak memiliki riwayat kekerasan. Keikutsertaannya dalam kelompok tersebut bukan berarti ia pelaku serangan ini.

Sebagian besar pakar berpendapat bahwa ia mengalami proses radikalisasi, yang kemungkinan terjadi saat ia berada di sekolah atau di penjara.

Menurut polisi, para militan kerap mendatangi masjid yang terkait dengan sekolah tempat Bahrun belajar. Namun, pihak direktur sekolah menegaskan bahwa mereka hanya mengajarkan kurikulum nasional dan bukan menyebarkan ideologi ekstremis.

Namun, hal ini mencerminkan persoalan yang lebih mendasar, yaitu lemahnya pengawasan terhadap aktivitas di sejumlah sekolah dan, yang lebih krusial, di dalam penjara. Ada dugaan bahwa Abu Bakar Bashir, misalnya, masih dapat memberikan ceramah mingguan dari balik jeruji, menyebarkan paham radikal kepada para calon pengikut yang mudah direkrut.

Intelijen juga menduga bahwa Bahrun termasuk salah satu rekrutan awal. Namun, sejauh ini belum ditemukan bukti yang mengaitkan Bashir secara langsung dengan Bahrun, meskipun keduanya berasal dari Solo.

Sejak menetap di Suriah, otoritas menyebut Bahrun memainkan peran penting dalam perekrutan anggota dan perencanaan serangan. Dalam sebuah blog yang dikaitkan dengannya, ia memuji aksi serangan di Paris dan mendorong para pengikutnya untuk melakukan hal serupa.

Merek Jihad ala Pahlawan Super

Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, mayoritasnya moderat dan dipimpin oleh pemerintahan sekuler. Negara ini telah memerangi paham ekstremisme selama bertahun-tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejak ISIS gencar merekrut anggota, diperkirakan sekitar 500–600 warga telah berangkat ke Suriah untuk bertempur. Selain itu, ada perkiraan sekitar 1.000 simpatisan ISIS yang berada di dalam negeri.

Meski jumlah ini relatif kecil untuk negara sebesar ini, pihak berwenang tetap khawatir karena daya tariknya. Mereka menyebut banyak pemuda muslim tergiur oleh konsep jihad ala pahlawan super yang dipromosikan ISIS.

Menurut Taufik Andrie, seorang peneliti ekstremisme militan, mempelajari Islam dianggap tidak menarik atau heroik. Sebaliknya, jihad dipandang keren dan memiliki unsur petualangan, yang justru dicari oleh para pemuda.

Menurut Hamidin, juru bicara badan anti-teror, terdapat 21 kelompok yang berafiliasi dengan gerakan militan; tujuh di antaranya mendukung ISIS, dan tiga kelompok fokus merekrut pejuang untuk dikirim ke Suriah.

“Mereka adalah para pemuda berusia 18 hingga 30 tahun yang terlibat dalam aksi teror. Meski mungkin tidak memiliki kemampuan merakit bom, mereka hanya ingin tampil seolah-olah sedang beraksi dan menunjukkan keberanian. Tujuannya adalah terlihat berada di tengah peristiwa.”

Peristiwa yang kita saksikan pekan lalu mencerminkan perpaduan antara kesombongan dan ideologi yang salah arah, sebuah kombinasi mematikan. Hal ini membuat pihak berwenang yakin bahwa serangan tersebut bukanlah yang terakhir dilakukan pengikut ISIS di Indonesia.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *