Aksi pemberontakan jihadis semakin meluas. Aparat anti-teror menangkap tersangka asal barat laut China. Penangkapan terjadi setelah penggerebekan rumah di Bekasi minggu lalu.
Pada pagi 24 Desember, polisi melakukan penggerebekan. Mereka menemukan alat peledak di mobil. Di rumah itu, polisi juga menemukan miniatur gedung pemerintah serta bahan pembuat bom. Kelompok teroris sedang mempersiapkan Alli, pria 35 tahun dari etnis minoritas Uighur China, untuk melakukan aksi bom bunuh diri.
Kapolri Badrodin Haiti menjelaskan pria Uighur itu sedang mempelajari bahasa Indonesia. Ia juga mengikuti pelatihan sebagai calon pelaku bom bunuh diri.
Alli menjadi tersangka teroris ke-11 yang tertangkap tim anti-teror setelah serangkaian penggerebekan di sejumlah kota di Jawa menjelang Natal. Polisi menjelaskan operasi 18 Desember berjalan berkat informasi dari FBI dan Kepolisian Federal Australia. Operasi tersebut berhasil menggagalkan rencana serangan di beberapa kota di Jawa, Sumatra dan Kalimantan.
Target serangan mencakup perwira polisi senior, pejabat pemerintah tingkat tinggi, gereja Kristen serta masjid Syiah.
Alli bersama enam tersangka teroris tertangkap beberapa hari sebelumnya. Mereka tergabung dalam jaringan berafiliasi dengan ISIS. Jaringan tersebut memiliki kaitan dengan Bahrun Naim, mantan narapidana terorisme yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Sementara itu, empat tersangka lainnya adalah anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang berafiliasi dengan al-Qaeda.
Sebagian dana jaringan teroris Bahrun bersumber dari seorang pekerja migran di China. Tasmina, istri Zaenal yang tertangkap di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 18 Desember sebagai calon pelaku bom bunuh diri, menyumbang $600—jumlah yang melebihi gaji bulanan seorang asisten rumah tangga asing di China—untuk membeli bahan pembuat bom, menurut Rakyan Adibrata, pakar terorisme sekaligus penasihat DPR RI.
Tersangka Uighur
Alli, tersangka asal Uighur, masuk lewat Batam sekitar dua bulan lalu bersama dua rekannya yang masih buron. Ia menggunakan KTP palsu yang mencantumkan Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai tempat lahirnya. Rakyan menjelaskan, “Ia mengaku sebagai warga China Pontianak, tetapi kemampuan bahasa Indonesianya sangat buruk sehingga menyulitkan interogasi.”
Sebelum masuk ke Indonesia, polisi menduga warga Uighur itu sempat berada di Thailand dan Malaysia. Menurut sumber kepolisian, Alli memiliki kaitan dengan pengeboman Kuil Erawan di Bangkok pada 17 Agustus, meski kepolisian Thailand kemudian membantah dugaan tersebut.
Suku Uighur dari Xinjiang, barat laut China, merupakan komunitas muslim berbahasa Turki yang lama mengeluhkan penindasan dan kekerasan dari mayoritas etnis Han. Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan orang meninggalkan China menuju negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Kamboja. Sebagian besar darinya tidak terkait dengan terorisme atau ekstremisme, melainkan mencari suaka resmi. Mereka berharap dapat melanjutkan perjalanan ke Turki, namun pemerintah Thailand dan Kamboja justru mendeportasinya kembali ke China, meski ada kekhawatiran kuat bahwa Uighur akan menghadapi penganiayaan setelah kembali.
Alli bukanlah warga Uighur pertama yang ditangkap. Pada September 2014, polisi menahan empat orang Uighur di Poso, Sulawesi Tengah, ketika mereka berusaha bertemu Santoso—pemimpin Mujahidin Indonesia Timur, buronan utama sekaligus jihadis yang telah berbaiat kepada ISIS—untuk bergabung dengan kelompoknya. Sama seperti Alli, mereka sebelumnya berada di Thailand, memperoleh paspor Turki palsu, lalu pergi ke Malaysia sebelum tiba di Bandung, Jawa Barat. Pada Juli tahun ini, pengadilan menjatuhkan hukuman enam tahun penjara kepadanya, dan atas permintaan pemerintah China, mereka dipulangkan ke negara asal.
Pada awal November, pasukan keamanan menewaskan seorang warga Uighur bernama Farouk, alias Magalasi, saat melakukan serangan terhadap kelompok militan Santoso di sebuah desa di Sulawesi Tengah.
Jemaah Islamiyah
Sejak berhasil menumpas Jemaah Islamiyah—kelompok jihadis pelaku bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang—Indonesia belum lagi mengalami serangan teroris dengan korban massal. Dalam lima tahun terakhir, hampir seluruh korban terorisme di Indonesia adalah polisi, yang dianggap bertanggung jawab atas penangkapan dan penindakan terhadap para jihadis.
Kebangkitan ISIS yang piawai memanfaatkan media sosial telah menumbuhkan minat baru. Institut Analisis Kebijakan untuk Konflik mencatat lebih dari 1.000 warga menyatakan sumpah setia kepada ISIS sejak Juni 2014. Sementara itu, Badan Intelijen Negara memperkirakan sekitar 800 warga bergabung dengan ISIS di Timur Tengah, namun Kapolri Badrodin membantah dan menyebut jumlahnya hanya berkisar 60 hingga 70 orang.
China telah mengalami sejumlah serangan teroris, antara lain penusukan massal di stasiun kereta Kunming dan Guangzhou pada 2014, serangan bom serta penusukan di pasar dan stasiun Urumqi pada tahun yang sama, serta aksi mobil bunuh diri di Lapangan Tiananmen Beijing—semuanya dikaitkan dengan warga Uighur.
Menurut pakar terorisme Rakyan, keberadaan warga Uighur yang berjarak ribuan kilometer mencerminkan dinamika menarik. Ia menekankan bahwa terorisme sebagai senjata kaum lemah kini tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu.