Rencana Atasi Kabut Asap Dinilai Lamban, Dampak Belum Terlihat

pengamat menilai langkah pemerintah

Para pengamat menilai langkah pemerintah mengatasi kabut asap membutuhkan waktu lama sebelum efektivitasnya terlihat.

Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi menyatakan hal itu pada Minggu, 4 Oktober 2015. Ia mengatakan Malaysia menyambut baik langkah tersebut, namun pihak terkait harus menunjukkan komitmen yang lebih kuat. Pemerintah harus mengambil tindakan tegas karena hasil rencana itu baru akan terlihat dalam tiga tahun.

“Masalah ini muncul setiap tahun, selalu terjadi praktik pembakaran lahan secara terbuka.”

Ia mengatakan Malaysia menghargai upaya pemerintah Indonesia menyelesaikan masalah ini. Namun ia menilai rencana itu terlalu lama untuk menunjukkan efektivitasnya. Pernyataan itu dia sampaikan saat peluncuran U-turn, acara bincang TV Alhijrah dan Kementerian Dalam Negeri.

Datuk Seri Ahmad Zahid menyatakan bahwa setiap tahun warga Malaysia harus menanggung biaya tambahan untuk pengobatan akibat dampak kabut asap.

“Kami telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk pengobatan, terutama bagi yang mengalami gangguan pernapasan.”

Ia mengatakan pihak terkait telah mengambil langkah-langkah, namun sejauh ini langkah tersebut masih belum memadai.

Ia menyampaikan bahwa penegakan hukum terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas aktivitas pemicu kebakaran hutan penting. Langkah itu menjadi bagian dari upaya bersama kedua negara mengatasi kabut asap.

Ia menyebutkan Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Malaysia, Wan Junaidi Tunku Jaafar, telah berdiskusi dengan pemerintah Indonesia. Diskusi membahas langkah-langkah yang perlu kita tempuh untuk mengatasi masalah tersebut.

Presiden Joko Widodo menyatakan pada Selasa lalu bahwa penanganan kebakaran hutan memerlukan waktu. Ia menegaskan warga juga menjadi korban kabut asap yang melanda wilayah tersebut.

Dalam laporannya, Jokowi menyatakan bahwa perlu waktu sekitar tiga tahun untuk melihat hasil dari upaya menghentikan kebakaran hutan tahunan, karena masalah ini tidak dapat selesai secara cepat.

Pihak berwenang mengerahkan lebih dari 3.700 personel militer, hampir 8.000 anggota kepolisian, dan empat pesawat pengebom air untuk memadamkan kebakaran.

Semakin Memburuk

Pada hari Minggu, kondisi kabut asap di Malaysia semakin memburuk, dengan kualitas udara di Shah Alam mencapai tingkat berbahaya.

Pada pukul 9 pagi, Indeks Pencemaran Udara (API) tercatat 308, naik dari 299 satu jam sebelumnya, menurut situs resmi Departemen Lingkungan Hidup Malaysia pada hari Minggu.

Lima wilayah mencatat kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat, yaitu Batu Muda (271), Petaling Jaya (256), Banting (249), Port Klang (243) dan Putrajaya (235).

Wilayah dengan kualitas udara tidak sehat meliputi Seremban (200), Cheras (184), Kuala Selangor (171), SK Jalan Pegoh, Ipoh (175) dan Seberang Jaya 2 (166).

Sebanyak 14 wilayah mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) pada kategori sedang.

Wilayah tersebut mencakup Kota Tinggi, Pasir Gudang, Tanjung Malim, Kangar, Tawau, Kuching, Samarahan dan Sri Aman.

Memburuknya kabut asap juga menyebabkan penutupan tiga landasan pacu bandara pada hari Minggu.

Bandara yang terdampak meliputi Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di Subang, Bandara Sultan Abdul Halim di Alor Setar serta Bandara Sultan Azlan Shah di Ipoh.

Meski ketiga bandara telah kembali beroperasi, Malaysia Airports Berhad (MAB) melalui unggahan di Facebook pada hari Minggu mengimbau seluruh penumpang yang bepergian hari itu untuk memeriksa jadwal penerbangan dengan maskapai masing-masing.

Dalam serangkaian tweet sebelumnya, MAB melaporkan bahwa jarak pandang di Bandara Sultan Abdul Aziz Shah menurun hingga 350 meter pada pukul 06.35 pagi.

MAB juga melaporkan bahwa jarak pandang di Bandara Sultan Abdul Halim dan Bandara Sultan Azlan Shah masing-masing berada pada 500 meter, yakni pada pukul 07.20 pagi dan 07.30 pagi.

Namun, operasional di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) dan KLIA2 dilaporkan tetap berjalan normal.

Pada pukul 8 pagi, jarak pandang di KLIA dan KLIA2 dilaporkan mencapai 1.000 meter. Saat ini, operasional bandara berjalan normal.

“Namun, seluruh penumpang disarankan untuk memeriksa jadwal penerbangan masing-masing maskapai,” ujarnya.

Visited 9 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *