Leuser Terancam: Wilmar dan Musim Mas Prioritaskan Sawit

Wilmar dan Musim Mas

Laporan Greenomics menyebut Wilmar dan Musim Mas masih merusak hutan bernilai tinggi di Ekosistem Leuser. Padahal mayoritas pelanggan utama mereka telah berkomitmen menghindari deforestasi dan berulang kali menyoroti praktik itu.

Wilmar dan Musim Mas menghentikan kemitraan dengan Mopoli Raya setelah foto menunjukkan Aloer Timur merusak hutan HCS Leuser. Wilmar meminta Mopoli menerapkan kebijakan keberlanjutan sesuai standar dan memberi tenggat tiga bulan. Jika Mopoli gagal, Wilmar akan menghentikan kerja sama.

Greenomics mengatakan aktivitas Mopoli Raya berbulan-bulan meragukan efektivitas penangguhan pembelian terhadap pemasok tidak patuh. Laporan itu menyebut penangguhan gagal mencegah pembukaan perkebunan sawit baru di hutan HCS dan HCV.

Musim Mas menyatakan meskipun ada kemajuan menangani pemasok deforestasi, penghentian pembelian belum terbukti efektif melindungi Ekosistem Leuser. Perusahaan kini berdialog dengan industri dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi pendekatan konservasi hutan yang lebih tepat.

Pegawai Mopoli Raya yang menerima panggilan di kantor pada Rabu dan Jumat mengatakan manajer lapangan tidak dapat dia hubungi.

Wilmar dan Musim Mas tergabung dalam Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP), sebuah inisiatif penting yang menandai komitmen bersama untuk keberlanjutan. Kesepakatan ini juga melibatkan perusahaan-perusahaan besar lainnya seperti Cargill, Golden Agri-Resources, Asian Agri serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Kelima perusahaan pengolah tandan buah segar menguasai sekitar 80–90% pasar global. Eksekutif IPOP mengatakan mereka belum tentu mengendalikan pemasok seperti Mopoli Raya.

Terikat Komitmen

Di wilayah Provinsi Sumatera Utara dan Aceh, masih terdapat beberapa pabrik yang tidak terikat pada komitmen untuk menghentikan deforestasi. Meskipun IPOP menangguhkan anggotanya, pabrik-pabrik itu tetap menerima tandan buah segar dari Mopoli Raya.

Dalam laporannya, Greenomics menyatakan bahwa hingga kini Wilmar dan Musim Mas belum berhasil merumuskan langkah yang benar-benar efektif untuk melindungi Ekosistem Leuser.

Menurut Greenomics, inti persoalan terletak pada ketidakmampuan perusahaan-perusahaan IPOP dalam melakukan pengawasan yang cukup terhadap para pemasoknya serta dalam mencegah praktik deforestasi.

Greenomics menuliskan dalam laporannya bahwa tanpa adanya pemantauan yang konsisten, pelaksanaan kebijakan tersebut tidak akan lebih dari sekadar tercantum di halaman siaran pers IPOP.

Wilmar mengakui bahwa pengawasan yang dilakukan masih bisa ditingkatkan dan menyatakan bahwa tengah berusaha untuk memperbaiki dan memperkuat mekanisme tersebut.

Juru bicara Wilmar menyampaikan bahwa mereka memandang tanggung jawab ini dengan penuh keseriusan, yang mencakup keterlibatan aktif serta dukungan terhadap para pemasok dalam proses menuju praktik berkelanjutan. Meskipun para pemasok belum sepenuhnya mampu memenuhi Kebijakan Grup karena berbagai kendala, selama menunjukkan niat dan komitmen yang disertai dengan tindakan nyata, perusahaan tetap memberikan dukungan.

Wilmar meyakini bahwa mendampingi proses perubahan industri merupakan langkah yang lebih tepat dibandingkan langsung memutus kerja sama dengan pemasok yang menghadapi kendala.

Visited 18 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *