Tragedi Raja Ampat: Kerusakan 12 Kali Lebih Parah

Pemerintah Indonesia mengungkapkan kerusakan terumbu karang akibat kapal pesiar yang kandas di Raja Ampat. Luas kerusakan mencapai sekitar 3,5 kali lapangan sepak bola Amerika. Hasil investigasi terbaru mengungkap bahwa kerusakan yang terjadi jauh melebihi estimasi sebelumnya. Pada 4 Maret, kapal pesiar Caledonian Sky sepanjang 90 meter kandas di Papua Barat saat air surut. Noble Caledonia mengoperasikan kapal tersebut. Kapal itu melintasi area beting di perairan setempat saat insiden terjadi. Peristiwa tersebut merusak 18.882 meter persegi terumbu karang di Selat Dampier, berdasarkan pernyataan resmi yang terbit pada Selasa. Pada hari kejadian, kapal tersebut mengangkut 102 wisatawan. Mereka mengikuti ekspedisi pengamatan burung selama pelayaran 16 malam. Perjalanan itu berlangsung dari Papua Nugini menuju Filipina. Hasil investigasi terbaru menunjukkan luas area terdampak hampir 12 kali lebih besar daripada perkiraan awal. Pemerintah Indonesia dan London P&I Club menyusun temuan tersebut melalui investigasi bersama.

Menurut Arif Havas, pemerintah dan pihak terkait telah menyepakati hasil investigasi bersama. Kedua belah pihak juga telah menandatangani dokumen hasil penyelidikan tersebut. Menurut Arif Havas, kapal pesiar berbobot 4.290 ton itu merusak lebih dari 13.000 meter persegi terumbu karang. Kerusakan tersebut tergolong kehancuran total pada area yang terdampak. Selain menghancurkan area terumbu karang, kapal tersebut menyebabkan kerusakan tingkat menengah pada 5.612 meter persegi kawasan karang akibat pergeseran pasir dan serpihan karang. Proses penarikan kapal menggunakan kapal tunda untuk mengapungkannya kembali bahkan memperluas tingkat kerusakan yang terjadi. “Terumbu karang yang mengalami kerusakan tingkat sedang hanya memiliki peluang bertahan hidup sekitar 50%,” kata Arif. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah akan meninjau ulang nilai kompensasi apabila terumbu karang tersebut tidak berhasil pulih. Di bawah arahan Presiden Joko Widodo, pemerintah membentuk tim khusus untuk menghitung kerugian finansial akibat kerusakan terumbu karang. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memimpin tim tersebut.

Evaluasi Awal

Sesaat setelah insiden terjadi, Ricardo Tapilatu memimpin evaluasi awal dan menjelaskan besaran kompensasi standar. Ia memperkirakan nilai kompensasi berkisar antara 200 hingga 400 dolar AS per meter persegi. Ricardo menilai nilai kerugian dalam kasus ini akan melebihi standar umum. Raja Ampat memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kawasan ini juga menjadi salah satu destinasi selam terbaik dunia. Selain itu, kawasan tersebut berada di dalam taman nasional. Ricardo memimpin survei awal yang menemukan kerusakan pada struktur habitat terumbu karang. Kerusakan tersebut mengurangi bahkan menghilangkan keanekaragaman dari delapan genus karang. Sementara itu, Conservation International pada 2002 melaporkan bahwa Raja Ampat menjadi habitat bagi hampir 1.400 spesies ikan dan 603 spesies karang.

Ricardo memperkirakan kawasan yang terdampak membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk pulih sepenuhnya. Noble Caledonia menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Perusahaan wisata asal Inggris itu juga menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pemerintah Indonesia demi mencapai penyelesaian yang adil dan realistis. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa pemerintah akan melibatkan sejumlah negara dalam penanganan kasus tersebut, termasuk Inggris, Swedia dan Bahama. Pada 17 Maret, Luhut juga mengundang Duta Besar Inggris, Moazzam Malik, ke kantornya untuk membahas insiden tersebut. “Saya menyesalkan kerusakan terumbu karang yang terjadi di Papua Barat, sebagaimana kami prihatin terhadap setiap insiden yang merusak lingkungan, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya,” kata Malik.

Sangat Sensitif

“Kami berharap pihak berwenang Indonesia dan perusahaan pengelola kapal yang bertanggung jawab atas insiden ini dapat segera mencapai penyelesaian,” ujarnya. Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman sedang mengajukan usulan agar Raja Ampat ditetapkan sebagai Kawasan Laut Sangat Sensitif (Particularly Sensitive Sea Area atau PSSA) oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur sektor pelayaran. Status tersebut akan memberikan perlindungan khusus bagi Raja Ampat melalui berbagai kebijakan yang ditetapkan IMO. Perlindungan ini didasarkan pada nilai ekologis, sosial-ekonomi dan ilmiah kawasan tersebut serta tingginya kerentanan terhadap dampak aktivitas pelayaran internasional. Kita dapat menjadikan pengelolaan wisata bawah laut di Great Barrier Reef, Australia, sebagai contoh.

“Di kawasan laut yang sensitif ini, kapal pesiar tetap diizinkan beroperasi, tetapi otoritas setempat menerapkan aturan yang ketat untuk memastikan aktivitas tersebut tidak merusak ekosistem laut,” ujar Wakil Menteri Oegroseno. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mengkaji revisi aturan terkait operasional kapal pesiar asing di perairan Indonesia, termasuk pembatasan jumlah kapal yang dapat masuk serta pengaturan ukuran dan jenis kapal yang diizinkan berlayar. “Kami ingin memastikan potensi sumber daya kelautan Indonesia dapat memberikan manfaat yang optimal, baik bagi perekonomian maupun kelestarian lingkungan,” ujar Oegroseno. “Karena itu, kita perlu merancang kebijakan yang tepat dan berlandaskan pertimbangan yang matang.”

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *