Indonesia mengurangi ekspor gas alam ke Singapura. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Presiden Prabowo Subianto memperkuat pasokan energi domestik. Pemerintah juga ingin meningkatkan ketahanan energi nasional. Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Menurut Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, Indonesia mengurangi pasokan gas pipa ke Singapura sekitar 31 juta kaki kubik standar per hari untuk memperkuat pasokan listrik domestik. Berdasarkan perhitungan Bloomberg yang mengacu pada data Kementerian Energi dan laporan SKK Migas, pemangkasan tersebut setara dengan sekitar 14% dari rata-rata ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura sepanjang tahun sebelumnya. Dalam pernyataan yang dikirim melalui surat elektronik, Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) menegaskan bahwa pasokan energi negara tersebut tetap memadai. EMA juga memperkirakan pengurangan pasokan gas tersebut hanya berlangsung selama 18 hari dan berdampak pada kurang dari 2% kebutuhan gas harian Singapura.
Indonesia menjadi pemasok gas utama bagi Singapura. Negara kota tersebut mengandalkan gas impor untuk memenuhi hampir seluruh kebutuhan pembangkit listriknya. EMA menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi pengurangan pasokan tersebut. Pada Sabtu, lembaga ini juga menegaskan bahwa Singapore GasCo siap meningkatkan impor gas alam cair apabila perlu. Dalam pesan singkatnya, Djoko dari SKK Migas menyatakan bahwa Indonesia akan mengalihkan 15 juta scfd gas dari Natuna ke perusahaan utilitas negara di Batam. Indonesia juga akan menyalurkan 16 juta scfd gas dari Sumatra untuk memenuhi kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra. Sebelumnya, Djoko menegaskan bahwa pengurangan pasokan tersebut tidak berdampak pada negara lain. Pemerintah mulai memberlakukan kebijakan pengurangan pasokan itu pada Sabtu. Perusahaan Gas Supply Pte dari Singapura, yang selama ini mengimpor gas dari Indonesia, mengakui bahwa mereka telah merasakan dampak dari pengurangan pasokan tersebut.
Memengaruhi Distribusi
Juru bicara Gas Supply mengatakan bahwa pengurangan sementara pasokan dari pemasok hulu di Indonesia telah memengaruhi distribusi gas kepada pelanggan perusahaan. Ia juga menyebutkan bahwa Gas Supply sedang berkoordinasi dengan pemasok dan pelanggan untuk mengatasi dampak dari kondisi tersebut. Meskipun Indonesia masih menjadi salah satu eksportir gas utama, volume ekspor gasnya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir karena semakin banyak produksi yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Untuk ekspor LNG, Indonesia terutama memasok pasar China, Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, gas alam yang disalurkan melalui jaringan pipa diekspor ke Singapura dan Malaysia. Pemadaman listrik selama 16 jam di Batam pada awal bulan ini berdampak pada lebih dari 411.000 pelanggan. Peristiwa tersebut semakin menguatkan alasan Indonesia untuk mengalihkan lebih banyak pasokan gas bagi pembangkit listrik domestik. Setelah insiden ini terjadi, pemerintah mengganti Direktur Utama PLN.
Dalam pidato yang membahas berbagai isu di hadapan jajaran kabinet pekan ini, Prabowo menegaskan pentingnya menjaga sumber daya alam Indonesia dan mengutamakan pemenuhan kebutuhan domestik. Ia juga menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kabut asap lintas negara, potensi penurunan peringkat pasar oleh MSCI Inc. hingga capaian pemerintahannya yang kini memasuki tahun kedua dari masa jabatan lima tahun. Setelah pidato tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, kembali menegaskan seruan Presiden mengenai pentingnya kemandirian ekonomi. Ia juga memberi sinyal bahwa Indonesia berpotensi membatasi ekspor gas ke negara-negara tetangga. “Kami meminta pihak lain berhati-hati apabila mereka memiliki pandangan yang berbeda terhadap Indonesia,” ujarnya kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa dirinya cenderung mempertimbangkan penghentian perpanjangan ekspor gas ke negara-negara tetangga. Menurutnya, Indonesia saat ini perlu berfokus pada ketahanan nasional dan mengutamakan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.