Berbagai pihak kini menerapkan pendekatan konservasi di wilayah tropis untuk menahan deforestasi, melindungi keanekaragaman hayati, dan mengurangi pemanasan global. Namun, para konservasionis dan peneliti kerap menekankan perlunya evaluasi yang lebih luas dan mendalam terhadap efektivitas inisiatif tersebut. Mereka memandang evaluasi itu penting untuk memastikan program mana yang benar-benar berhasil dan mana yang tidak. Sejumlah studi dalam jurnal PLOS ONE pada awal bulan ini berupaya mengisi kekosongan pengetahuan tersebut. Studi-studi itu menilai beragam kebijakan konservasi hutan tropis di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Para peneliti mengkaji kebijakan seperti sertifikasi, pengelolaan hutan berbasis komunitas, penegakan hukum kehutanan, PES, dan kawasan lindung.
Jan Börner dari Universitas Bonn dan CIFOR memimpin tinjauan umum yang menganalisis perubahan tutupan hutan tahunan. Tinjauan itu menggunakan 14 studi dalam koleksi tersebut sebagai dasar untuk menilai dampak konservasi. FAO melaporkan bahwa tutupan hutan alami global terus menurun, meskipun lajunya kini mulai melambat. Börner dan rekan-rekannya menduga bahwa ekonomi, urbanisasi, atau mulai efektifnya kebijakan konservasi memengaruhi perlambatan ini. Di daerah tropis, para pihak menjadikan kawasan lindung sebagai strategi umum. Mereka mengevaluasi strategi ini melalui empat studi di Brasil, Chili, Kosta Rika, dan Indonesia. Hasilnya menunjukkan dampak positif kecil hingga sedang, dengan peningkatan tutupan hutan sekitar 0,08–0,59% per tahun. Menurut blog CIFOR, Amazon Brasil sebagai kawasan lindung paling efektif mempertahankan tutupan hutan hampir 6% lebih banyak selama 10 tahun. Sebaliknya, di Indonesia, kawasan lindung yang paling kurang efektif hanya mempertahankan peningkatan tutupan hutan sekitar 0,8% dalam periode yang sama.
Penurunan Laju
Borner dan tim menyatakan bahwa beberapa negara, termasuk Brasil, sangat memengaruhi penurunan kehilangan tutupan pohon tropis global. Kondisi ini kemungkinan mendorong banyak pihak memberi Brasil perhatian dan pengawasan lebih besar daripada negara lain. Studi di Amazon Brasil menunjukkan kawasan lindung mampu menekan rata-rata deforestasi sebesar 2% pada 2000–2008. Namun, dampak perlindungan tidak sama pada setiap lokasi maupun periode waktu. Efektivitas perlindungan menurun ketika kehilangan hutan tahunan secara umum juga menurun dari waktu ke waktu. Kawasan lindung dekat kota dan transportasi lebih efektif karena menghadapi tekanan sumber daya hutan lebih besar.
Tiga studi lain menilai efektivitas kebijakan komando dan kontrol di Brasil, yang membantu menurunkan deforestasi Amazon selama dekade terakhir. Pada 2012, Amazon Brasil mencatat kehilangan hutan tahunan terendah sejak data deforestasi satelit pertama tersedia pada 1989. Meski kemudian meningkat lagi, laju deforestasi itu tetap termasuk yang terendah sepanjang sejarah. Penegakan hukum kehutanan dan pengungkapan pelanggar kepada publik menekan kehilangan hutan tahunan masing-masing 0,13% dan 0,29%. Sebaliknya, konservasi berbasis yurisdiksi dengan insentif anggaran bagi pemerintah daerah di Amazon Timur menunjukkan hasil lebih bervariasi. Kebijakan ini berhasil menurunkan tingkat deforestasi pada beberapa tahun tertentu, tetapi tidak menurunkannya secara konsisten selama seluruh periode penelitian.
Sejumlah studi dalam kumpulan ini juga mengkaji pendekatan konservasi yang berbasis insentif, seperti skema pembayaran jasa ekosistem (Payment for Ecosystem Services atau PES). Menurut CIFOR, salah satu program di Kosta Rika menunjukkan dampak konservasi hutan pada tingkat sedang, yakni sekitar 0,32% per tahun. Sementara itu, skema tingkat subnasional di Meksiko menunjukkan hasil yang lebih kuat dengan meningkatkan luas hutan tahunan hingga 2,91%. Para peneliti juga menganalisis dampak jangka panjang dari skema pembayaran jasa ekosistem (PES). Sebagai contoh, sebuah penelitian mengenai skema pembayaran subnasional di Kolombia menunjukkan bahwa pengaruh program tersebut hampir sepenuhnya tetap bertahan, bahkan setelah pelaksanaannya berakhir.
Dampak Terbatas
Oleh karena itu, meskipun penelitian meta sebelumnya umumnya menunjukkan bahwa skema pembayaran jasa ekosistem (PES) hanya memberikan dampak lingkungan yang terbatas, studi-studi terbaru ini menghadirkan pandangan yang sedikit lebih optimistis, sebagaimana disampaikan oleh CIFOR. Meski demikian, dampak konservasi hutan paling besar secara keseluruhan di antara berbagai instrumen berbasis insentif, yakni 4,56% per tahun, ditemukan pada perbandingan perubahan tutupan hutan antara konsesi kayu bersertifikat dan yang tidak bersertifikat di Indonesia.
Studi kompilasi data mengenai konsesi kayu di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) menunjukkan bahwa selama periode 2000–2008, sertifikasi tersebut mampu meningkatkan rata-rata tutupan hutan sebesar 5% dibandingkan konsesi yang belum tersertifikasi. Selain itu, Borner dan rekan-rekannya mencatat bahwa sertifikasi juga berkaitan dengan penurunan yang signifikan dalam ketergantungan pada kayu bakar (33%), polusi udara (31%), infeksi saluran pernapasan (32%), serta masalah kekurangan gizi di desa-desa yang terlibat.
Mengidentifikasi Dampak
Tiga penelitian tambahan dalam kumpulan ini juga berupaya mengidentifikasi dampak sosial, ekonomi, dan pembangunan dari kebijakan konservasi hutan tropis. Salah satu studi menunjukkan bahwa skema pembayaran jasa ekosistem (payment for ecosystem services atau PES) di Kosta Rika tidak menimbulkan perubahan yang signifikan, baik berupa peningkatan maupun penurunan, terhadap kesejahteraan masyarakat lokal. Sementara itu, program pengelolaan hutan berbasis komunitas di Tanzania dan Namibia terbukti memberikan manfaat yang nyata, terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan.
Namun, para penulis studi tinjauan tersebut pada akhirnya menyimpulkan bahwa variasi besar kecilnya dampak konservasi tidak ditentukan oleh jenis intervensi konservasi yang diterapkan. Oleh sebab itu, temuan utama dari kumpulan penelitian ini menekankan pentingnya melampaui fokus pada estimasi rata-rata program konservasi yang bersifat umum, dengan memberi perhatian lebih pada unsur-unsur spesifik setiap program serta konteks implementasinya. Menurut para penulis, kedua aspek tersebut sama pentingnya dalam memahami efektivitas program konservasi. Mereka juga menegaskan bahwa hal yang paling utama ialah memperdalam pemahaman mengenai mekanisme sebab-akibat yang membuat suatu program konservasi dapat menghasilkan dampak, yang hanya dapat dicapai melalui kemajuan dalam teori maupun metode penelitian.