Presiden Joko Widodo menyampaikan penyesalan kepada Malaysia atas kabut asap yang menyelimuti kawasan tersebut dalam dua bulan terakhir, kata Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak. Najib menyebut Jokowi menghadapi tekanan akibat kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Sumatra dan Kalimantan. Peristiwa tersebut memicu pencemaran udara hingga mencapai tingkat tidak sehat di negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia. Masyarakat mengkritik pemerintahan Jokowi karena belum berhasil menangani kebakaran yang berulang setiap tahun di kawasan tersebut. Najib menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa Jokowi menyampaikan permintaan maaf secara tidak langsung.
Menurut Najib, Jokowi memahami persoalan tersebut serta merasa malu dan tertekan. Ia menambahkan bahwa persoalan tersebut sangat kompleks dan Jokowi tidak berniat membiarkan praktik pembakaran terus terjadi. Najib berbicara kepada awak media seusai pertemuannya dengan Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor. Pertemuan ini merupakan bagian dari agenda kunjungan kerja dua harinya. Najib membela Jokowi dengan menjelaskan bahwa tingginya biaya pembukaan lahan di Indonesia mendorong banyak pekerja miskin menggunakan cara berbahaya. Salah satunya adalah membakar lahan, yang kemudian dapat memicu kebakaran besar.
Tebang Bakar
Ia menjelaskan bahwa pembukaan lahan tanpa metode tebas-bakar membutuhkan biaya hingga 40 kali lebih besar. Namun, sejumlah pihak masih melakukan praktik pembakaran secara luas. Kekeringan akibat El Nino turut mempercepat penyebaran kebakaran. Najib menyatakan bahwa Malaysia telah mengusulkan pemanfaatan sumur bor sebagai solusi jangka panjang untuk membantu Indonesia menangani kebakaran lahan gambut. Najib menjelaskan bahwa Malaysia telah menggunakan metode tersebut secara luas. Indonesia dapat menggunakan metode ini sebagai alternatif sistem kanal air untuk menangani kebakaran. Sumur bor mampu menjaga kelembapan tanah di wilayah rawan kebakaran.
Metode ini juga memberikan hasil lebih cepat daripada kanal air yang membutuhkan tiga tahun. Ia menilai waktu tiga tahun terlalu lama bagi kedua negara karena ancaman kabut asap harus dihadapi selama periode tersebut. Najib menegaskan bahwa Indonesia dan Malaysia berkomitmen menangani masalah kabut asap secara serius demi melindungi masyarakat. “Saya menjelaskan kepada Jokowi bahwa kabut asap mengancam kepentingan masyarakat Malaysia, terutama dalam bidang kesehatan, transportasi dan pendidikan. Kondisi tersebut bahkan memaksa pemerintah menutup sekolah dan fasilitas lainnya.” Ia menambahkan bahwa dampak kabut asap juga dirasakan dalam berbagai aktivitas ekonomi dan sosial.