Para konservasionis menyelamatkan seekor orangutan terdampar di Sumatra karena perluasan perkebunan kelapa sawit. Pusat Informasi Orangutan melakukan operasi penyelamatan awal April setelah menerima laporan tentang seekor orangutan jantan dewasa yang terisolasi. Krisna, koordinator lapangan Unit Respons Konflik Manusia‑Orangutan OIC, mengatakan tim menemukan orangutan itu dalam kondisi kesehatan buruk. Dokter hewan memeriksa orangutan, mendapati ia sangat kurus, dan mengeluarkan peluru dari dadanya di lokasi. Tim menegaskan bahwa tanpa penyelamatan, orangutan itu akan mati kelaparan atau melarikan diri dan berisiko tertembak. Setelah pemeriksaan, tim memindahkan orangutan ini ke kawasan hutan yang lebih luas dan melepaskannya kembali.
Direktur OIC Panut Hadisiswoyo mengatakan OIC telah menyelamatkan 64 orangutan di Sumatra Utara dan Aceh dalam tiga tahun terakhir, termasuk 11 individu pada 2015. Panut menyatakan bahwa 11 kasus dalam tiga bulan sangat mengkhawatirkan, dan menegaskan bahwa perkebunan bukan lingkungan yang aman bagi orangutan. Ia menambahkan bahwa tim sering menemukan peluru di tubuh orangutan saat penyelamatan; orang-orang kadang menembak untuk melindungi tanaman, membunuh induk untuk menangkap dan menjual anaknya, atau bahkan menembak hanya untuk kesenangan. Penyelamatan ini berlangsung di tepi perkebunan milik PT Ibris Palm, yang sedang disorot karena dugaan pelanggaran standar RSPO terkait penebangan hutan meskipun ada keberadaan orangutan.
Mengajukan Banding
Ibris Palm tengah mengajukan banding atas penangguhan keanggotaannya oleh RSPO. Perusahaan mengklaim area ini hutan sekunder dan orangutan hanya populasi sementara, namun menurut kriteria RSPO klaim tersebut tidak membebaskan mereka dari kewajiban menghentikan penebangan saat orangutan terdeteksi. Sejak pengaduan, perusahaan membentuk tim pemantauan orangutan sendiri. Lokasi penyelamatan terletak di blok hutan yang sangat terdegradasi dan terisolasi dari habitat berkualitas oleh perkebunan sawit dan pertanian, menurut citra satelit Global Forest Watch. Sebagian besar penebangan dan degradasi di kawasan hutan tersebut terjadi sebelum tahun 2000. Kasus ini mencerminkan berlanjutnya penyusutan habitat orangutan akibat perluasan perkebunan di Sumatra.
Data Universitas Maryland menunjukkan pulau ini kehilangan 2,86 juta hektare hutan primer antara 2000 dan 2012. Saat ini, hutan primer dataran rendah Sumatra tersisa kurang dari 4,5 juta hektare, sekitar 9% dari luas daratan pulau. Diperkirakan kurang dari 7.000 orangutan masih hidup liar di Sumatra. Sebagian besar populasi ini berada di Ekosistem Leuser, kawasan hutan dan lahan gambut di Aceh serta Sumatera Utara. Leuser menjadi prioritas konservasi karena merupakan satu‑satunya wilayah di dunia di mana badak, orangutan, harimau dan gajah hidup bersama dalam habitat yang sama.