Perdana Menteri Tony Abbott yakin Indonesia dan Australia dapat memulihkan hubungan meski terjadi ketegangan. Ketegangan muncul karena eksekusi dua warga Australia terkait narkoba. Media melaporkan jenazah mereka tiba kembali hari ini.
Regu tembak mengeksekusi Andrew Chan (31) dan Myuran Sukumaran (34) pada Rabu karena keterlibatan mereka dalam penyelundupan heroin dari Bali ke Australia, meskipun komunitas internasional mengajukan permohonan pengampunan.
Perdana Menteri Abbott mengatakan ia memahami rasa kecewa dan kemarahan publik akibat eksekusi tersebut. Ia tetap menghormati kedaulatan Indonesia dalam menetapkan kebijakan hukumnya.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Sydney, ia mengatakan pihak berwenang tetap melaksanakan eksekusi yang ia anggap brutal dan tidak perlu.
“Rasa marah dan duka yang kami rasakan, sayangnya, tidak dapat mengubah kenyataan atau mengembalikan kedua pemuda tersebut.”
“Yang paling krusial saat ini adalah menghindari tindakan apa pun yang dapat memperparah kondisi yang sudah penuh tantangan.”
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan belum dapat memastikan kebenaran laporan itu. Laporan menyebut jenazah pria tersebut berada dalam pesawat yang mendarat di Sydney pagi ini.
Orangtua serta saudara laki-laki dan perempuan Myuran Sukumaran ikut dalam penerbangan itu. Febyanti Herewila, istri Andrew Chan, juga ikut; mereka menikah malam sebelum eksekusi.
Australian Broadcasting Corporation melaporkan bahwa ibu dan saudara laki-laki Andrew Chan berniat memulangkan jenazahnya ke Australia. Kendala dalam proses repatriasi menghambat rencana itu. Keduanya akhirnya kembali ke Australia pada hari Jumat.
Chan dan Sukumaran termasuk dalam kelompok tujuh warga negara asing yang pemerintah eksekusi Rabu dini hari. Satu warga Indonesia juga menjalani eksekusi pada waktu yang sama.
Warga Australia itu menjalani hukuman penjara 10 tahun karena menjadi otak jaringan penyelundupan narkoba Bali Nine. Selama masa tahanan, Chan memilih jalan spiritual sebagai pendeta Kristen, sementara Sukumaran mendalami bidang seni.
Eksekusi itu memberi dampak signifikan pada hubungan diplomatik Indonesia dan Australia, sehingga Perdana Menteri Abbott menarik duta besar Australia sebagai respons.
Membangun Kembali Hubungan
Meski demikian, Perdana Menteri menegaskan pada hari ini bahwa upaya memperbaiki hubungan dengan Indonesia tetap menjadi prioritas strategis demi masa depan bangsa.
Abbott meyakini bahwa Indonesia dan Australia dapat memulihkan serta membangun kembali hubungan ke arah yang lebih baik.
Indonesia dan Australia menjalin persahabatan penting bagi kedua negara dan komunitas internasional, sehingga kedua negara harus menjaganya dan memperkuatnya.
Indonesia dan Australia menjalin kemitraan strategis dalam bidang kontraterorisme, di samping peran Indonesia sebagai mitra ekonomi yang signifikan bagi Australia.
Sebelumnya, Abbott menyatakan bahwa keputusan Australian Catholic University (ACU) untuk menawarkan program beasiswa bagi mahasiswa Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap pasangan yang telah dieksekusi, merupakan hal yang dianggapnya tidak lazim.
Wakil Rektor Greg Craven menyatakan bahwa langkah tersebut diambil sebagai wujud komitmen Australian Catholic University (ACU) terhadap penghormatan terhadap martabat manusia, yang berlaku secara universal—baik bagi para korban maupun individu yang telah dijatuhi hukuman atas tindak kejahatan.
Abbott menyatakan bahwa para pria tersebut menghadapi akhir hidupnya dengan sikap yang dapat dianggap terhormat, namun meragukan apakah hal tersebut cukup menjadi dasar untuk pendirian program beasiswa atas namanya.
Dalam wawancaranya dengan radio komersial pada hari Jumat malam, ia menyampaikan bahwa meskipun pengampunan merupakan salah satu aspek penting dalam ajaran Kristen, terdapat pula prinsip lain yang menekankan dorongan bagi setiap individu untuk menjalani kehidupan yang mencerminkan versi terbaik dari dirinya.