Hanya sedikit negara yang merayakan terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS pada 2008 dengan antusiasme sebesar Indonesia, tempat masa kecilnya. Tumbuh di kawasan hijau Menteng, ia membawa citra baru dan publik menjulukinya Anak Menteng. Publik menaruh harapan besar pada kepemimpinannya. Mereka berharap kepemimpinannya membuka babak baru dalam hubungan kedua negara.
Awalnya pemerintah Amerika menjadikan Indonesia prioritas; mereka menandatangani Kemitraan Komprehensif dan membuka pusat kebudayaan Amerika berteknologi tinggi pertama di Jakarta. Namun kemudian situasi berubah.
Sejak kunjungan terakhirnya pada 2011, Obama jarang kembali meski sempat mengunjungi Malaysia dan Myanmar, membuat banyak warga kecewa. Namun masa kepresidenannya tetap mendorong perbaikan hubungan bilateral, dan minimnya liputan media selama dekade ini justru menandakan kekuatan hubungan tersebut.
Pelantikan Obama mengubah arah hampir 180 derajat, baik di ranah politik maupun sosial. Popularitas Amerika pulih dari titik terendah akibat warisan delapan tahun pemerintahan George W. Bush. Publik menilai negara itu sebagai medan perang dalam Perang Melawan Teror, yang merusak citra internasional. Namun popularitas Amerika meningkat ke puncak yang belum pernah tercapai sebelumnya. Hubungan pribadi Obama berperan penting dalam perubahan persepsi tersebut.
Ann Marie Murphy, Direktur Pusat Kekuatan Baru dan Tren Transnasional di Seton Hall, mengatakan perubahan citra Amerika sangat dramatis. Dulu Amerika dipandang pro-Kristen dan bergaya koboi pada era George W. Bush. Kini negara itu memilih seorang pria Afrika-Amerika, yang ayahnya seorang Muslim dan imigran. Publik internasional mudah mengenali perubahan ini.
Perang Irak merusak citra Amerika, dan peristiwa di Timor-Leste juga menarik perhatian internasional. Hingga 2008, Amerika Serikat menerapkan kebijakan tertentu terhadap militer. Sementara itu, kerja sama keamanan berkembang secara bertahap.
Membuka Peluang
Obama membuka peluang untuk memulai kembali hubungan. Mitra yang bersedia bekerja sama mendukung upayanya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berpandangan global memprakarsai inisiatif perdamaian awal. Sebulan setelah Obama menjabat, Yudhoyono menghubungi pihak-pihak yang kemudian merumuskan Kemitraan Komprehensif.
Pada 2010 Obama kembali ke kampung halamannya dan menarik perhatian publik dengan beberapa kalimat bahasa Indonesia yang masih dia ingat. Tahun itu pemerintah AS mencabut sanksi atas kekerasan di Timor-Leste, membuka kerja sama militer lebih luas, dan menerapkan kemitraan.
Pemerintah merancang Kemitraan Komprehensif, seperti banyak inisiatif era Obama, dengan cakupan yang luas dan ambisius. Kesepakatan ini meliputi beragam bidang—demokrasi, hak sipil, pendidikan, keamanan—serta fokus utama pada perdagangan dan investasi. Di bawah kerangka ini, pertukaran ekonomi dan budaya antara kedua negara berkembang pesat, dengan tujuan kerja sama jangka panjang antara dua dari tiga demokrasi sekuler terbesar dunia pada masa itu dan hingga kini.
Kemitraan ini masih berlangsung hingga kini, meski Obama tidak kembali ke Indonesia sejak 2011 dan perhatian media terhadap hubungan kedua negara semakin berkurang. Hubungan tersebut tetap berjalan secara tenang di tengah perubahan besar di dunia.
Gregory Poling mengatakan hal serupa sering terjadi dalam banyak hubungan: masa jabatan pertama Obama menghasilkan banyak pencapaian besar, dan periode berikutnya menuntut kerja keras berkelanjutan yang terus mendorong perkembangan hubungan.
Hal ini mencerminkan pola kepresidenan Obama secara umum: dua tahun pertama penuh ambisi dan tindakan nyata dengan Kongres Demokrat yang kompak, sehingga harapan tinggi muncul dari perubahan kebijakan sebelumnya. Namun pada 2011, Kongres baru yang Partai Republik kuasai menimbulkan gejolak domestik, lalu Musim Semi Arab mengalihkan fokus Obama dari Asia, termasuk Indonesia.
Berkurangnya Sorotan
Kadang-kadang berkurangnya sorotan justru menguntungkan. Sejak 2011 Amerika memusatkan perhatian pada negara tetangga seperti Libya, Suriah dan Myanmar yang mengalami transisi demokrasi rentan. Ketika AS membagi fokus pada banyak isu, pejabatnya sering mengabaikan hubungan lain, terutama setelah kemajuan pesat.
Murphy mengatakan Indonesia bukan sekutu dan tidak menghadapi masalah besar—yang justru positif—sehingga hubungan ini tetap kokoh sementara banyak persoalan muncul di tempat lain.
Perubahan besar sejak krisis keuangan 1997–98 mengubah wajah negara ini. Meskipun masih menghadapi beberapa tantangan, negara ini kini umumnya menjadi demokrasi lebih stabil dengan kepemimpinan relatif efektif dan jauh lebih sedikit konflik dibandingkan dekade sebelumnya. Hubungan yang semakin dekat dengan Amerika Serikat membuktikan kemajuan ini, yang baru tampak jelas dari perspektif lebih luas.
Poling menyatakan hubungan kini membaik di semua aspek, termasuk keamanan, perdagangan, investasi dan terutama kekuatan lunak—terlihat dari meningkatnya jumlah warga yang belajar di Amerika Serikat—sebagai tanda kemajuan penting.
Semua ini bukan berarti keadaan tidak bisa membaik lagi. Tetapi Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Obama, telah melakukan bagiannya. Menurut Murphy, sekarang bola berada di tangan Indonesia.
“Ada peluang perkembangan yang jauh lebih besar—diperlukan reformasi dalam regulasi dan iklim investasi—dan perubahan besar di bidang ini bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya diwujudkan oleh seorang Presiden Amerika.”
Artinya, sosok setara Obama di Indonesia adalah presiden muda dan pendatang baru yang menggantikan SBY, Joko Widodo. Di sinilah tantangannya: pemerintahan Jokowi beralih fokus ke isu domestik dan kebijakan yang lebih berorientasi nasionalisme, berbeda signifikan dari era SBY.
“Obama melanjutkan peluang yang sudah tersedia. Namun kebijakan bergeser di bawah Jokowi, yang tampak kurang menaruh perhatian pada urusan luar negeri,” ujar Poling.
Belum Terganggu
Hubungan AS–Indonesia sejauh ini belum terganggu, meskipun laju investasi mungkin melambat. Dengan demikian, kondisi saat ini kemungkinan akan bertahan sampai terjadi perubahan di Indonesia atau di Amerika Serikat, yang dalam beberapa minggu mendatang menghadapi keputusan penting terkait siapa yang akan menggantikan Obama.
Satu kekecewaan dari masa kepresidenan Obama adalah meski citra Amerika berubah secara signifikan, hal sebaliknya tidak terjadi: harapan bahwa hubungan keluarga Obama dengan Indonesia akan menarik perhatian Amerika Serikat ternyata tidak terpenuhi.
Beberapa kabar yang beredar—misalnya hoaks bahwa Obama pernah bersekolah di madrasah Islam radikal yang memang ada beberapa pada 1960-an—lebih banyak menimbulkan informasi keliru daripada menggambarkan realitas yang dipahami publik Amerika.
Murphy mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara terbesar dan paling penting yang masih relatif tidak dikenal oleh masyarakat Amerika, dan menurutnya hal ini belum banyak berubah.
Beberapa perubahan memang lebih mudah dilakukan daripada yang lain. Ketika Obama meninggalkan jabatan, tantangan bagi Jokowi—yang masih menyisakan tiga tahun pada masa jabatan pertamanya—serta bagi siapa pun yang akan menempati Gedung Putih pada Januari, adalah melanjutkan dan memperkuat kemajuan besar yang telah dicapai selama delapan tahun terakhir.