Indonesia dan Hungaria menyampaikan kesiapan untuk mempererat kerja sama ekonomi melalui bidang riset dan pendidikan, ujar seorang pejabat.
Pejabat Kemlu Adiyatwidi Adiwoso menyatakan Indonesia dan Hungaria perlu memperkuat kerja sama ekonomi melalui riset dan pendidikan.
“Indonesia dan Hungaria memiliki peluang luas, tidak hanya komoditas dan investasi, tetapi juga riset dan pendidikan untuk mendorong bisnis,” ujarnya.
“Karena setiap kerja sama bisnis berawal dari hubungan persahabatan,” tegasnya.
Adiyatwidi mengusulkan kolaborasi perguruan tinggi Hungaria dan Indonesia untuk menarik startup muda melalui skema ekonomi berbasis penemuan, inovasi, dan pengetahuan.
Buku putih tersebut menjelaskan secara rinci skema ekosistem kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Hungaria.
Duta Besar Hungaria Judit Nemeth‑Pach menyatakan pemerintahnya berupaya memperluas hubungan internasional melalui penguatan bisnis dan perdagangan luar negeri.
“Hungaria meyakini pentingnya membangun kerja sama di bidang bisnis dan perdagangan luar negeri. Kami bukan hanya menjaga hubungan internasional yang baik, tetapi juga mendorong pembangunan nasional,” tegasnya.
Untuk tujuan tersebut, Duta Besar Nemeth‑Pach menjelaskan bahwa pemerintah Hungaria telah mengubah nama kementerian luar negerinya menjadi Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Luar Negeri.
Rektor Budapest Business School (BBS), Profesor Kriset Eva Sandorne, bersama Duta Besar Judit Nemeth‑Pach turut menghadiri diskusi di Jakarta.
Sandorne menyatakan bahwa BBS ingin menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia melalui program pertukaran mahasiswa dan peneliti, serta mengeksplorasi peluang lain di bidang tersebut.
“Hungaria memang tidak sebesar Indonesia, tetapi di bidang pendidikan kami menawarkan berbagai peluang untuk menjalin kerja sama,” tegasnya.
Indonesia memandang Hungaria sebagai salah satu pasar potensial di kawasan Eropa Tengah dan Timur. Namun, nilai perdagangan kedua negara masih relatif kecil, dengan rata-rata hanya sekitar $200–220 juta dalam lima tahun terakhir, lebih rendah dibandingkan perdagangan Indonesia dengan Polandia yang mencapai $300–350 juta pada periode yang sama.