Pihak berwenang Indonesia, Malaysia dan Singapura menolak hasil penelitian yang menyatakan kabut asap kebakaran hutan tahun lalu menyebabkan 100.000 kematian. Beberapa pejabat mengklaim kabut asap tak menyebabkan masalah kesehatan serius. Para ahli mengatakan klaim itu bertentangan dengan bukti ilmiah yang ada.
Kebakaran besar tahun lalu di Sumatra dan Kalimantan adalah yang terparah sejak 1997. Kebakaran membakar sekitar 261.000 hektare hutan dan lahan gambut serta menimbulkan kabut asap meluas berminggu-minggu. Perusahaan sengaja membakar lahan untuk membuka area bagi perkebunan kelapa sawit dan industri pulp kayu.
Studi di Environmental Research Letters oleh peneliti Harvard dan Columbia memperkirakan emisi PM2.5 dari kebakaran Juli–Oktober. Mereka melacak penyebaran PM2.5 di Asia Tenggara menggunakan pengamatan satelit.
Juru bicara badan mitigasi bencana nasional menyatakan studi ini mungkin tidak berdasar atau memakai data yang keliru. Indonesia secara resmi mencatat 24 kematian terkait kabut asap, termasuk korban yang tewas saat memadamkan kebakaran.
Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan paparan singkat kabut asap biasanya tidak menimbulkan masalah kesehatan serius. Mereka menilai studi ini tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dan mencatat tidak ada perubahan angka kematian total tahun lalu.
Menteri Kesehatan Malaysia Subramaniam Sathasivam mengatakan otoritas masih menelaah penelitian itu karena berbasis model komputer, bukan data lapangan. Ia mengakui ada korban jiwa, namun sulit memastikan seberapa besar kontribusi kabut asap. Ia mencontohkan seorang pria 80 tahun dengan hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung yang terpapar kabut asap. Menentukan penyebab kematiannya sangat kompleks.
Kebakaran musim kemarau menjadi masalah tahunan yang merusak hubungan dengan Singapura dan Malaysia, dan temuan beban kesehatan memperburuk ketegangan. Musim kebakaran 2015, diperparah El Nino, mencoreng reputasi internasional dengan emisi karbon besar yang mempercepat pemanasan.
Pemerintah memperkuat upaya menuntut perusahaan dan individu penyebab kebakaran serta meningkatkan kapasitas pemadaman. Tahun ini kebakaran hanya melanda area lebih kecil, terutama karena hujan yang tidak biasa.
Tidak Boleh Mengabaikan
Jamal Hisham Hashim, peneliti di International Institute for Global Health Kuala Lumpur, mengatakan pemerintah tidak boleh mengabaikan studi ini meski estimasi kematiannya masih diperdebatkan.
Ia menyatakan bahwa penelitian polusi udara bertahun-tahun pasca kabut asap mematikan London 1952 menunjukkan kaitan antara partikel halus dan kematian dini, terutama pada penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Ia menyatakan tingkat polusi selama kabut asap cukup tinggi untuk menyebabkan kematian dini dan hal ini tak bisa disangkal. Studi ini berfungsi sebagai peringatan; kita perlu terkejut karena selama ini terlalu santai terhadap masalah kabut asap.
Joel Schwartz, salah satu penulis studi dan pakar terkemuka soal dampak kesehatan polusi udara, mengatakan otoritas di negara terdampak belum menjelaskan secara rinci dasar kritiknya terhadap penelitian ini.
Ia mengatakan bahwa selama kabut asap, polusi udara di Malaysia mencapai sekitar 10 kali lipat ambang WHO untuk kematian dini, dan klaim Singapura bahwa paparan singkat tidak berdampak serius tidak tepat secara faktual.
Schwartz mengatakan klaim Singapura bahwa angka kematian tidak berubah sejak 2014 tidak relevan karena ada tren penurunan mortalitas global. Ia menegaskan studi ini membandingkan kematian aktual dengan jumlah yang seharusnya terjadi tanpa kabut asap, bukan membandingkan antar tahun tertentu.
Secara terpisah, Kementerian Kesehatan Singapura tidak menanggapi pertanyaan tentang mengapa proporsi kematian akibat penyakit jantung dan pneumonia—yang keduanya bisa dipicu oleh paparan partikel halus—meningkat pada 2015.
Di sisi lain, Malaysia belum mengukur PM2.5 dalam indeks kualitas udaranya, tetapi berencana memulainya tahun depan.
Sejumlah ilmuwan yang ahli di bidang polusi udara dan meninjau studi ini menilai metodologinya layak dan kesimpulannya masuk akal. Namun, beberapa dari mereka memperingatkan bahwa perkiraan—91.600 kematian di Indonesia, 6.500 di Malaysia dan 2.200 di Singapura—masih penuh ketidakpastian karena model bergantung pada asumsi; angka sebenarnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah.
Seluruh Zat
Penelitian ini hanya menilai dampak kesehatan pada orang dewasa dan berfokus pada efek partikel halus (PM2.5), bukan pada seluruh zat beracun lain yang mungkin terkandung dalam asap.
Philip Hopke, Direktur Pusat Rekayasa dan Sains Sumber Daya Udara di Universitas Clarkson, mengatakan studi polusi udara menghadapi tantangan karena pasien yang sakit atau meninggal jarang datang ke dokter dengan label yang jelas menyatakan partikel udara atau ozon sebagai penyebabnya. Ia menambahkan bahwa penelitian sering menganggap partikel halus sebagai satu-satunya penyebab, padahal asap kebakaran juga mengandung ozon dan berbagai senyawa volatil yang turut memengaruhi kesehatan.
Ia mengatakan kejadian besar semacam ini sangat berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius, termasuk peningkatan penyakit dan angka kematian.