Konservasi Badak Asia Terancam Gagal

Banyak orang saat memikirkan

Banyak orang saat memikirkan badak langsung membayangkan Afrika, tempat badak hitam dan putih berkeliaran di padang rumput. Asia menampung tiga jenis badak berbeda: Jawa, Sumatra, dan India (badak bercula satu). Saat konservasionis dunia memperingati Hari Badak Sedunia, setiap spesies menghadapi tantangan unik.

Badak bercula satu India (Rhinoceros unicornis) dulu tersebar dari Pakistan hingga Myanmar. Kini populasinya terkonsentrasi di beberapa cagar alam di selatan Nepal dan negara bagian India. Sebagian besar individu berada di Taman Nasional Kaziranga, Assam.

Para ahli memperkirakan populasi badak bercula satu sekitar 3.500 ekor—lebih sedikit daripada dua spesies badak Afrika. Namun jumlah itu terus bertambah, menunjukkan kemajuan signifikan daripada kondisi 100 tahun lalu. CeCe Sieffert, Wakil Direktur International Rhino Foundation, mengatakan populasinya dulu hanya 100–200 ekor pada awal abad ke-20. Kini populasinya telah pulih.

Pada 2008 IUCN menurunkan status badak India dari terancam punah menjadi rentan. Nilanga Jayasinghe dari WWF menyebut perubahan itu sebagai salah satu keberhasilan terbesar dalam konservasi satwa besar di Asia.

Program konservasi di Taman Kaziranga sangat sukses. Pihak berwenang kini memfokuskan upaya memindahkan badak ke lokasi lain untuk membentuk populasi kedua yang layak di India.

Jayasinghe dan Sieffert memuji peran pemerintah India dan Nepal dalam keberhasilan program ini. Menurutnya, upaya konservasi antara pemerintah dan organisasi nonpemerintah berjalan terkoordinasi dan penindakan terhadap perburuan liar sangat kuat. Pihak berwenang Nepal berhasil menekan perburuan; awal bulan ini, pemburu menembak seekor badak di luar kawasan lindung. Sebelumnya, negara itu lebih dari dua tahun tanpa kematian akibat perburuan yang terdokumentasi.

Namun ancaman masih ada. Tekanan terbesar berasal dari kenaikan permintaan cula badak di Asia Timur, khususnya di China dan Vietnam. “Ada kepercayaan bahwa cula badak punya khasiat obat,” ujar Jayasinghe. “Tidak ada bukti nyata yang mendukung klaim ini, tetapi kepercayaan tersebut tampaknya mendorong permintaan cula.”

Pasar Gelap

Cula badak terbuat dari keratin, sama seperti kuku manusia; pasar gelap menjualnya lebih dari $60.000 per kilogram. Meskipun patroli bersenjata ada, pemburu liar meningkat; IUCN memperkirakan 121–125 badak dibunuh di Assam antara 2011 dan 2015.

Sieffert mengatakan badak India sedang menjadi sasaran perburuan liar yang intens, dan tekanan dari perburuan ini nyaris menghapuskan keberhasilan konservasi yang telah tercapai.

Perambahan manusia juga mengancam habitat badak. Pengadilan Tinggi Assam memerintahkan penggusuran sekitar 300 keluarga yang tinggal di zona penyangga Taman Nasional Kaziranga, memicu bentrokan sengit di perbatasan; pada 20 September polisi bentrok dengan demonstran anti‑penggusuran, menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) juga terancam oleh hilangnya habitat dan perburuan liar, namun populasinya jauh lebih kecil. IUCN mencatat spesies ini terancam punah; para peneliti hanya menemukan sekitar 65 individu liar, dan semuanya berada di satu taman.

Para konservasionis menilai pengelolaan yang hati‑hati dapat mempertahankan populasi ini, meskipun beberapa aspek masih membuatnya rentan. Karena seluruh individu terpusat di Taman Nasional Ujung Kulon di ujung barat Jawa, wabah penyakit atau bencana alam berpotensi memusnahkan seluruh populasinya.

Karena Ujung Kulon berada di seberang selat sempit dari gunung berapi Krakatau, risiko bencana alam sangat nyata. Letusan Krakatau pada 1883 menewaskan sekitar 40.000 orang dan menghancurkan kawasan ini, dan Anak Krakatau—generasi berikutnya dari gunung tersebut—masih aktif di lokasi yang sama.

Tetap Terancam

Walau berada di lokasi terpencil, badak Jawa tetap terancam oleh aktivitas manusia. Menurut Widodo Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI), orang-orang masih berupaya memburu bukan hanya badak tetapi juga satwa lain; banyak pihak yang terus mencari keuntungan dari hutan. YABI menjalankan empat unit perlindungan di taman ini, masing‑masing dengan tim beranggotakan empat orang yang bertugas di hutan minimal 15 hari setiap bulan. Hingga kini mereka belum menemukan bukti perburuan badak sejak 2006, namun kehadiran pemburu yang terus‑menerus membuat kewaspadaan tetap wajib.

Habitat badak Jawa di Ujung Kulon juga terancam oleh spesies invasif, yakni pohon arenga (Arenga obtusifolia) atau langkap, yang menutup dan menekan vegetasi asli yang menjadi sumber hidup badak.

Yayasan Widodo menggantungkan harapannya pada Area Studi dan Konservasi Badak Jawa, sebuah hutan seluas 5.000 hektare yang berbatasan dengan taman nasional. Unit perlindungan badak mematrol kawasan ini, dan petugas menebang pohon arenga untuk memulihkan tanaman asli sebagai sumber makanan badak. Widodo mengatakan upaya ini berjalan baik; mereka sudah menemukan tanda-tanda tiga badak yang mengunjungi area tersebut dan berharap hewan‑hewan ini akan menetap.

Selain menyediakan ruang untuk memperluas populasi badak di Ujung Kulon, para konservasionis berharap kawasan ini kelak bisa menjadi area transit untuk memindahkan beberapa badak Jawa ke lokasi kedua yang cocok. Tujuan akhirnya adalah membentuk dua populasi yang layak sehingga seluruh spesies tidak punah akibat satu bencana atau wabah. “Tantangannya adalah menemukan lokasi kedua untuk badak,” kata Seiffert.

Yang paling kritis adalah badak Sumatra berbulu lebat dan bercula dua, satu‑satunya anggota genus yang masih hidup. John Payne, Direktur Eksekutif Borneo Rhino Alliance (BORA), menilai peluang kelangsungan hidupnya sekitar separuh‑separuh. “Beberapa orang menganggap ini kasus yang tanpa harapan,” tambahnya.

Badak Sumatra

Sebagian badak Sumatra dipelihara di penangkaran—tujuh ekor di Indonesia dan tiga ekor di Malaysia. Beberapa perkiraan menyebut populasi liar bisa mencapai 100 ekor, namun Payne menilai jumlah sebenarnya kemungkinan tidak lebih dari 55 ekor di Kalimantan dan Sumatra; tahun lalu pejabat Malaysia mengakui bahwa negara ini sudah tidak lagi memiliki badak liar.

Yang paling mengkhawatirkan adalah populasi badak terpecah menjadi kantong‑kantong kecil yang terisolasi. Sieffert dari IRF mengatakan populasinya kini sangat kecil; beberapa kelompok bahkan tidak cukup besar untuk bertahan dari ancaman perburuan. Mereka terdiri dari satu, dua atau tiga ekor saja, dan karena terpisah dari populasi utama, kelompok‑kelompok ini berisiko punah.

Payne berpendapat bahwa karena populasi yang terpisah terlalu kecil untuk berkembang biak secara sehat—atau bahkan bereproduksi sama sekali—rendahnya angka kelahiran menjadi ancaman yang lebih besar dibandingkan perburuan atau hilangnya habitat. “Dengan hanya sedikit individu liar, hampir mustahil mereka akan berkembang biak,” ujarnya. Menurut Payne, meski upaya anti‑perburuan dan pelestarian habitat dapat mengurangi kematian, langkah‑langkah ini saja tidak cukup; yang paling dibutuhkan adalah peningkatan jumlah kelahiran.

Dengan populasi yang menyusut dan sumber daya terbatas, strategi untuk meningkatkan angka kelahiran memicu perdebatan sengit. Beberapa pihak, termasuk kelompok Payne, berargumen agar dana difokuskan pada program fertilisasi berteknologi tinggi. Intervensi semacam ini mungkin diperlukan karena banyak badak yang tersisa rentan terhadap masalah kesuburan. Hanya satu betina di penangkaran Indonesia dan Malaysia yang mampu berkembang biak secara alami.

Sebagian pihak memilih pendekatan lebih moderat, yakni memberi kesempatan badak liar untuk saling kawin di habitat aslinya atau mendukung reproduksi alami di kandang semi‑liar yang luas.

Jayasinghe dari WWF mengatakan tujuan mereka adalah melindungi spesies di habitat aslinya, namun mereka tidak menolak keberadaan kebun binatang asalkan kebun binatang tersebut memiliki akreditasi.

Menunjukkan Hasil

Setelah bertahun‑tahun kekecewaan, program penangkaran mulai menunjukkan hasil. Andatu, seekor jantan sehat, lahir di Suaka Badak Sumatra pada 2012; ibunya, Ratu, adalah badak liar yang ditangkap dan dibawa ke suaka, sedangkan ayahnya, Andalas, lahir di penangkaran Cincinnati. Pasangan ini kemudian dikaruniai anak betina kedua pada bulan Mei.

Kelahiran‑kelahiran ini memberi harapan, tetapi belum cukup untuk menghentikan penurunan jumlah. Meski ada perbedaan pendapat tentang langkah selanjutnya, para konservasionis sepakat bahwa badak Sumatra yang terpisah‑pisah harus dikumpulkan kembali agar memiliki peluang bertahan hidup.

Setelah perundingan antara YABI dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Widodo menyatakan bahwa telah disepakati rencana pemindahan dan penggabungan kelompok badak Sumatra yang berjumlah kurang dari lima ekor ke dalam populasi yang lebih besar. Yang masih kurang hanyalah dana, yang ia harapkan berasal dari program konservasi pemerintah Eropa dan Amerika Utara. “Jika dananya tersedia, kami bisa melakukannya segera,” ujarnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *