Presiden Jokowi seharusnya melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia pekan ini. Namun ia menghabiskan dua hari terakhir mengunjungi angkatan bersenjata dan organisasi Islam utama. Kunjungan itu bertujuan menjaga stabilitas di tengah kemarahan publik atas tuduhan penistaan agama terhadap Gubernur Jakarta. Setelah mengunjungi markas TNI dan Nahdlatul Ulama pada Senin, Jokowi Selasa mengunjungi PTIK dan markas Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah kelompok muslim terbesar kedua setelah NU. Di hadapan petinggi kepolisian di PTIK, Jokowi meminta masukan agar polisi tetap teguh menghadapi tekanan kelompok mana pun. “Polri adalah lembaga besar dengan 430.000 personel. Oleh karena itu, jangan ragu untuk menegakkan hukum dengan tegas,” kata Jokowi.
“Institusi berskala besar harus tetap percaya diri dan tegas ketika berhadapan dengan pihak mana pun, kelompok, organisasi maupun perorangan,” tambahnya. Presiden menunda kunjungannya ke Australia yang rencananya 6-8 November karena situasi domestik. Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di Jakarta pada 4 November menuntut penuntutan terhadap Gubernur Ahok. Front Pembela Islam memimpin unjuk rasa yang memperoleh dukungan berbagai kelompok Islam termasuk Himpunan Mahasiswa Islam. Aksi awalnya tertib tetapi berubah menjadi kerusuhan setelah hari gelap. Kerusuhan menyebabkan satu pengunjuk rasa tewas dan beberapa anggota kepolisian terluka. Lima aktivis HMI, termasuk sekretaris jenderalnya, telah menerima dakwaan sebagai penghasut kekerasan tersebut.
Mempertahankan Stabilitas
Dalam kurun dua hari terakhir, presiden telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan stabilitas nasional pasca demonstrasi hari Jumat. Institusi besar harus percaya diri dan tegas menghadapi pihak mana pun, kelompok, organisasi, atau perorangan. Jokowi menunda kunjungan kenegaraan ke Australia yang dijadwalkan 6–8 November karena situasi domestik. Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di Jakarta pada 4 November untuk meminta agar jaksa menuntut Gubernur Ahok. Front Pembela Islam memimpin unjuk rasa yang menentang upaya Ahok memperpanjang masa jabatan melalui pemilu Jakarta. Berbagai kelompok Islam, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam, mendukung unjuk rasa itu. Aksi awalnya tertib tetapi berubah menjadi kerusuhan setelah hari gelap. Kerusuhan menyebabkan satu pengunjuk rasa tewas dan beberapa anggota kepolisian terluka.
Presiden telah menginstruksikan Polri untuk melakukan penyelidikan yang adil dan transparan terhadap Ahok, namun rumor tentang rencana demonstrasi besar lain di ibu kota dalam dua minggu ke depan sudah beredar luas pada hari Selasa. Para pengunjuk rasa menyatakan akan melanjutkan protes sampai Ahok dipenjara, sementara pihak kepolisian berjanji akan memutuskan apakah akan mendakwa Ahok dengan tuduhan penistaan agama dalam waktu dua minggu setelah demonstrasi tersebut.
Aktor Politik
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan ada informasi kuat tentang aktor politik yang diduga memanfaatkan unjuk rasa 4 November, dan menegaskan bahwa identitas mereka akan terungkap setelah penyelidikan menyeluruh oleh polisi. Tito menekankan perlunya bukti yang cukup: “Begitu ada bukti dan terbukti terjadi pelanggaran yang jelas, kami akan menegakkan hukum,” katanya, menunjukkan komitmen aparat untuk bertindak berdasarkan bukti.
Ahok beberapa kali meminta dukungan dari Muhammadiyah dan NU, termasuk saat dituduh bukan muslim selama kampanye presidennya pada 2014 dan ketika dikritik karena sikap kerasnya terhadap terpidana kasus narkoba. Setelah menjabat, presiden memberi sejumlah posisi kepada tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan kedua organisasi itu, termasuk kursi di Dewan Pertimbangan Presiden dan di kabinetnya.