Dagang Indonesia-Belanda Masih Dibayangi Tantangan

Indonesia dan Belanda menyatakan komitmen untuk memperkuat hubungan bilateral. Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Mark Rutte sepakat meningkatkan kerja sama perdagangan, investasi, pengelolaan air serta infrastruktur maritim. Dalam pertemuan di Istana Negara pada Rabu pagi, Jokowi dan Rutte berkomitmen mempererat kemitraan kedua negara. Kerja sama tersebut berfokus pada kenaikan suhu dan permukaan laut, produksi pangan berkelanjutan serta ancaman terorisme. “Dengan bergandengan tangan, kita bisa membangun masa depan yang kokoh,” kata Rutte. Rutte melakukan kunjungan didampingi sekitar 200 pelaku bisnis. Jokowi mengatakan kehadiran delegasi besar itu menunjukkan komitmen pemerintah dan swasta Belanda meningkatkan kerja sama berkelanjutan dengan Indonesia. Pada Rabu, Jokowi mengundang CEO dari enam perusahaan besar Belanda ke istana. Sebagian besar perusahaan itu sudah beroperasi di Indonesia; pertemuan membahas rencana perluasan investasi mereka di Indonesia. Di antara peserta hadir CEO Dutch Shell, perusahaan minyak dan gas. Juga hadir Van Oord, kontraktor pengerukan dan rekayasa laut.

Grup galangan kapal Damen turut hadir. Serta Royal Vopak, penyedia layanan logistik dan distribusi untuk sektor kimia dan minyak. Kedua pihak menyepakati enam nota kerja sama. Nota-nota itu mencakup sektor kelautan dan perikanan serta upaya mitigasi perubahan iklim. Kesepakatan juga meliputi pengelolaan sampah dan program daur ulang. Selain itu, ada pengembangan pendidikan dan pelatihan pertanian serta pelatihan diplomatik untuk Indonesia. Dengan berbagi pengetahuan dan keahlian, kita dapat menemukan solusi inovatif dan terpadu. Solusi tersebut tidak hanya menguntungkan ekonomi, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, ujar Rutte. Sepanjang kunjungan Rutte tiga hari, pejabat dan pelaku usaha kedua negara menandatangani 38 nota kesepahaman dan surat pernyataan minat. Di Eropa, Belanda menjadi mitra penting Indonesia dalam perdagangan dan investasi, meski nilai perdagangan dan investasi turun tahun lalu.

Nilai Perdagangan

Pada 2015, nilai perdagangan dua arah mencapai $4,22 miliar, menurun dari $4,89 miliar pada 2014; sedangkan investasi Belanda—tercatat dalam 421 proyek—berkurang menjadi $1,31 miliar dari $1,73 miliar pada tahun sebelumnya. Di periode kuartal pertama tahun ini, aliran investasi dari Belanda ke Indonesia sebesar $266,93 juta untuk 208 proyek. Kunjungan Rutte ke Indonesia, yang merupakan lawatan keduanya dalam tiga tahun terakhir, berlangsung di tengah kabar menyedihkan tentang hilangnya makam perang pada bangkai kapal perang Sekutu—termasuk kapal Belanda yang tenggelam pada Perang Dunia II—yang diduga dijarah oleh para pencari barang bekas. Namun, Rutte menyampaikan terima kasih kepada Indonesia atas tawaran kerja sama untuk menyelidiki hilangnya bangkai kapal di Laut Jawa baru-baru ini. Meskipun pemerintah Indonesia membantah adanya kesalahan, mereka menawarkan bantuan dengan membentuk tim investigasi gabungan. “Kami akan bekerja sama untuk mendapatkan kejelasan mengenai apa yang terjadi dan kami akan berkoordinasi di masa mendatang,” ujar Rutte.

Setelah pertemuan, Rutte menyerahkan sebuah keris, senjata tradisional Indonesia yang termasuk koleksi nusantara di sebuah museum Belanda, kepada Jokowi sebagai simbol rencana repatriasi 1.500 artefak Indonesia dari Belanda. Meskipun kedua negara memiliki sejarah hubungan bilateral yang panjang, kebijakan keras Jokowi mengenai hukuman mati sempat merenggangkan hubungan, terutama setelah pada Januari 2015 seorang warga Belanda termasuk di antara terpidana mati kasus narkoba yang dieksekusi. Walau kunjungan ini adalah yang pertama bagi Rutte sejak Jokowi menjabat, keduanya pernah bertemu secara bilateral, misalnya ketika Jokowi berkunjung ke Belanda pada April dan mengundang Rutte untuk menanamkan modal pada proyek infrastruktur Indonesia, terutama sektor maritim. Bulan sebelumnya, kedua pemimpin bertukar pandangan dalam pertemuan bilateral singkat di sela-sela sebuah forum internasional di China. Rutte pertama kali mengunjungi Indonesia pada November 2013, ketika ia bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat saat itu, dan juga bertemu Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *