Citra Presiden Joko Widodo Merosot Hanya Enam Bulan Menjabat

Harapan Baru. Sampul majalah Time edisi 16 Oktober 2014 seolah telah menggambarkan semuanya. Tajuk utama optimistis itu berdampingan dengan potret Presiden Joko Widodo berkemeja batik sederhana. Citra tersebut menampilkan Jokowi sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Ia juga dipandang sebagai simbol pembaruan demokrasi Indonesia. Pelantikan Jokowi pada 20 Oktober memutus hubungan dengan masa lalu yang sarat korupsi. Banyak pihak juga melihat momen itu sebagai awal periode baru yang lebih menjanjikan. Enam bulan kemudian, Jokowi masih menghiasi halaman utama media dunia. Namun, kali ini media menyorotinya bukan karena prestasi atau harapan yang ia bawa. Awal bulan ini, warganet dunia menyoroti pernyataan Jokowi di Twitter. Pernyataan “Saya tidak membaca apa yang saya tanda tangani” kemudian menjadi tren. Kondisi tersebut terjadi setelah Jokowi mengaku telah menandatangani aturan yang kontroversial tanpa terlebih dahulu memeriksa isi dokumen tersebut.

Melalui peraturan ini, para pejabat negara berhak menerima dana muka sebesar Rp211 juta untuk membeli mobil. Kebijakan ini menarik perhatian karena sebagian besar pejabat tersebut sebenarnya sudah memiliki kendaraan dinas. Seperti dugaan sebelumnya, keputusan itu memancing kemarahan dan kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai peraturan tersebut bertentangan dengan citra Jokowi sebagai presiden yang sederhana. Publik mengenal Jokowi sebagai pemimpin yang memakai penerbangan kelas ekonomi dan menolak praktik kronisme. Jokowi juga sering menyerukan gaya hidup sederhana kepada para pejabat negara. Meski Jokowi segera menarik pernyataannya, alasannya tetap memicu kritik luas. Ia bertanya, “Bagaimana mungkin saya membaca semuanya?” Warganet kemudian ramai mengkritik pernyataan itu di Twitter. Banyak masyarakat Indonesia menggunakan platform tersebut sebagai media sosial utama.

Selanjutnya, banyak orang membandingkan Jokowi dengan tokoh yang Arnold Schwarzenegger perankan dalam The Simpsons Movie. Dalam film itu, tokoh tersebut tanpa sadar membuat Springfield terkurung di bawah kubah kaca. Ia beralasan bahwa tugasnya memimpin, bukan membaca dokumen yang orang berikan kepadanya.

Kesalahan Kotradiktif

Banyak pihak menilai kesalahan Jokowi bertentangan dengan pernyataannya kepada majalah Time. Majalah itu sebelumnya menampilkan Jokowi sebagai simbol harapan baru. Saat itu, Jokowi menekankan pentingnya perhatian pada detail. Ia berprinsip untuk terus memeriksa dan meninjau setiap hal secara cermat. Beberapa pekan terakhir menyulitkan Presiden Indonesia tersebut. Awal bulan ini, mentor politiknya, Megawati Soekarnoputri, menegurnya secara terbuka. Megawati pernah menjabat sebagai presiden dan kini memimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, atau PDIP. Dalam Kongres Nasional PDIP di Bali, Megawati meminta Jokowi mengikuti arah partai. Banyak pihak menafsirkan pesan itu sebagai tanda bahwa Megawati masih memegang kendali. Pada acara tersebut, Jokowi hadir sebagai anggota biasa partai. Ia mengenakan warna identitas PDIP, tetapi panitia tidak memberinya kesempatan berbicara di depan peserta kongres.

Melemahnya dukungan publik terhadap Jokowi memperkuat desakan reshuffle kabinet untuk meningkatkan kinerja pemerintah. Survei Indo Barometer pada 6 April menunjukkan kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi menurun. Angkanya turun dari 75 persen pada awal kepresidenan menjadi 60 persen setelah enam bulan menjabat. Meski menurun, tingkat persetujuan terhadap Jokowi masih tergolong tinggi. Angka itu bahkan lebih tinggi daripada tingkat dukungan yang saat itu hanya bisa Tony Abbott harapkan. Kritik datang dari berbagai arah terhadap pemerintahan Jokowi. Namun, kekecewaan terbesar tampak di kalangan pendukung setia yang paling vokal membelanya. Tahun sebelumnya, The Jakarta Post untuk pertama kalinya mendukung kandidat dalam pemilu. Harian berbahasa Inggris itu menyatakan dukungan kepada Joko Widodo. Saat itu, Jokowi berhadapan dengan mantan jenderal militer Prabowo Subianto.

Hadirnya Perubahan

Endy Bayuni, editor senior, menyatakan bahwa keberhasilan Jokowi memenangkan pemilihan telah memunculkan ekspektasi publik terhadap hadirnya perubahan dalam berbagai aspek pemerintahan. Meski pada awalnya Jokowi meraih dukungan publik yang sangat tinggi, masa bulan madu politiknya tidak berlangsung lama. Berbagai kritik dan kekecewaan publik mulai menggantikan dukungan tersebut. Dalam unggahan Twitter pada 25 Januari, Endy menyampaikan komentar bernada ironi. Ia menulis, “Mantan Presiden SBY, kami telah memaafkan semuanya. Silakan kembali dan bantu menata keadaan yang kini semrawut.” Besarnya harapan publik terhadap Jokowi kemudian memunculkan pertanyaan. Banyak pihak mempertanyakan mengapa Jokowi belum mampu memenuhi ekspektasi publik yang begitu tinggi. Yohanes Sulaiman, akademisi ilmu politik dari Universitas Pertahanan Indonesia, menilai Jokowi menghadapi sebagian masalah karena ekspektasi masyarakat terlalu tinggi dan kurang realistis. Banyak orang menganggap kemenangan Jokowi sebagai titik balik yang mengakhiri era politik sebelumnya.

Jokowi menawarkan agenda reformasi luas melalui konsep revolusi mental dan tata kelola politik yang bersih. Ia ingin membebaskan pemerintahan dari korupsi dan tekanan politik. Jokowi menegaskan bahwa ia akan memilih anggota kabinet berdasarkan merit dan kapasitas individu. Ia tidak ingin semata-mata memakai pertimbangan politik dalam penyusunan kabinet. Selain itu, Jokowi bertekad mereformasi birokrasi dan memperkuat layanan sosial, kesehatan, serta pendidikan. Ia juga ingin meningkatkan investasi infrastruktur dan menargetkan pertumbuhan ekonomi 7 persen pada 2018. “Dia adalah pendatang baru yang datang dengan janji mengubah keadaan dan memperbaiki kehidupan masyarakat,” ujar Yohanes. Menurut Yohanes, masyarakat memandang Jokowi seperti lembaran kosong yang mereka isi dengan berbagai harapan. Banyak orang melihatnya sebagai pembela HAM. Sebagian lainnya menganggap Jokowi sebagai reformis yang akan memberantas korupsi. Namun, praktik politik di lapangan menunjukkan kompleksitas yang jauh lebih besar daripada gambaran ideal tersebut.

Kenyataan Politik

Jokowi menghadapi kenyataan politik yang tidak sederhana. Sebagai kader partai, ia tidak sepenuhnya mengendalikan organisasi politiknya. Megawati tetap memengaruhi posisi dan langkah politiknya. Pada saat yang sama, Jokowi juga harus menghadapi parlemen yang koalisi oposisi kuasai. Menurut Dave McRae, peneliti senior di Asia Institute Universitas Melbourne, Jokowi menghadapi tantangan khas dalam demokrasi. Ia menilai Jokowi sebagai pendatang baru di politik nasional yang berhasil mencapai puncak kekuasaan. Namun, Jokowi mencapai posisi itu tanpa dukungan penuh dari partainya sendiri. Terlepas dari berbagai tantangan politik dan tingginya harapan publik, banyak warga Indonesia akhirnya merasa kecewa terhadap Jokowi.

Menurut para pendukung yang sebelumnya memberikan dukungan kuat, keputusan Jokowi mencalonkan Budi Gunawan sebagai Kapolri merupakan salah satu momen paling mengecewakan. Budi Gunawan telah menjadi tersangka kasus korupsi dan memiliki kedekatan dengan Megawati. Publik semakin kecewa karena Jokowi tetap mempertahankan pencalonannya selama beberapa pekan. Padahal, KPK sudah mengumumkan penyelidikan terkait dugaan suap. Yohanes mengatakan bahwa ia tidak berharap semua ekspektasi publik dapat terwujud. Namun, ia tidak membayangkan Jokowi akan membuat kekeliruan sebesar itu. Banyak pihak menilai keputusan tersebut bertentangan dengan citra politik Jokowi. Selama kampanye, Jokowi menempatkan isu antikorupsi sebagai salah satu prioritas utama. Ia juga berkomitmen memperkuat KPK dan membangun mekanisme yang lebih efektif untuk menekan korupsi. Ketika kepolisian membalas tindakan KPK dengan menjerat tiga komisionernya, Jokowi tidak membela lembaga antikorupsi tersebut. Banyak kalangan menganggap tuduhan terhadap para komisioner KPK itu tidak berdasar. Situasi ini memunculkan anggapan bahwa KPK sedang menghadapi upaya intimidasi.

Keberpihakan Presiden

Menurut Yohanes, meskipun kepemimpinan SBY kerap dikritik karena dianggap kurang tegas, ia tetap menunjukkan keberpihakan kepada KPK ketika lembaga tersebut menghadapi tekanan. Sementara itu, sikap Jokowi dinilai mencerminkan kurangnya pengalaman politik. Di tengah gelombang kritik publik, Jokowi akhirnya membatalkan pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Kendati demikian, Budi kemudian kembali diperhitungkan untuk menduduki posisi Wakapolri setelah memenangkan putusan praperadilan yang menyebabkan tuduhan korupsi terhadapnya dibatalkan. Dalam kolomnya pada 12 April, editor senior The Jakarta Post, Endy Bayuni, menegaskan bahwa kemenangan Budi dalam praperadilan tidak serta-merta membuktikan dirinya bebas dari dugaan pelanggaran. Menurutnya, kebenaran tuduhan tersebut tidak akan pernah diketahui secara pasti apabila kasus ini tidak diuji di pengadilan. Meski berhasil lolos dari jerat hukum, tuduhan korupsi akan terus melekat pada dirinya, termasuk jika ia menduduki jabatan baru sebagai wakapolri. Endy pun mempertanyakan pesan yang disampaikan terhadap agenda pemberantasan korupsi apabila pengangkatan tersebut benar-benar terjadi.

Kontroversi seputar pencalonan kepala kepolisian tersebut menimbulkan dampak yang lebih luas, yakni menurunnya kekuatan dan kredibilitas lembaga antikorupsi yang selama ini menjadi salah satu institusi paling dipercaya masyarakat. Situasi ini dianggap tidak lazim karena lembaga tersebut sebelumnya memiliki reputasi kuat dalam menindaklanjuti setiap kasus setelah penetapan tersangka dilakukan. Menurut Yohanes, persepsi yang berkembang di media sosial menunjukkan menurunnya kepercayaan publik terhadap ketegasan KPK, yang bahkan dinilai tidak cukup berani untuk menindak seorang perwira polisi berpangkat rendah. Berbeda dengan gelombang kritik yang muncul di Australia dan sejumlah negara lain, keputusan Jokowi untuk mengeksekusi 10 terpidana kasus narkoba, sebagian besar warga negara asing, tidak menimbulkan penolakan yang signifikan di tingkat domestik. Namun, McRae berpendapat bahwa pendekatan populis Jokowi dalam upaya pemberantasan narkoba mencerminkan pandangan yang terlalu sempit. Menurutnya, jika mempertimbangkan dampak nyata hukuman mati terhadap hubungan internasional serta berbagai konsekuensi diplomatik yang ditimbulkannya, maka dasar pemikiran kebijakan tersebut patut dipertanyakan.

Menghadapi Hambatan

Pernyataan Megawati dalam acara makan siang Hari Perempuan Internasional kembali menimbulkan anggapan bahwa Jokowi berada di bawah pengaruh arahannya. Dalam kesempatan ini, ia menyebut bahwa masalah narkoba di Indonesia sudah berada pada tingkat mengkhawatirkan dan menjadi salah satu faktor penyebaran HIV. “Oleh sebab itu, saya menyampaikan kepada Jokowi bahwa para pengedar narkoba yang telah divonis hukuman mati tidak semestinya memperoleh pengampunan,” ujarnya sebagaimana dikutip. Meskipun menghadapi sejumlah hambatan, Ikrar Nusa Bhakti, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tetap memberi nilai tujuh dari 10 kepada pemerintahan Jokowi setelah enam bulan pertama masa kerjanya.

Ikrar mengatakan bahwa penilaian terhadap Jokowi harus dilakukan secara adil. Menurutnya, pemerintahan tersebut lahir dalam konteks politik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Ikrar menilai bahwa Jokowi memerlukan seorang manajer komunikasi yang mampu menyampaikan kebijakan dan keputusan pemerintah kepada masyarakat secara efektif. Sebagai contoh, ia menyoroti langkah Jokowi yang memangkas subsidi BBM tak lama setelah pelantikannya tahun lalu. Meski keputusan ini diapresiasi oleh sejumlah komentator, lonjakan harga bahan bakar dan inflasi setelahnya membuat dukungan publik terhadap Jokowi menurun. “Tidak banyak yang mengetahui bahwa ketika subsidi dihentikan, pemerintah sebenarnya mampu menghemat sekitar Rp240 triliun,” ujar Ikrar.

Sebuah Pencapaian

“Jumlah ini sangat besar dan menurut saya merupakan sebuah pencapaian. Dana tersebut kemudian bisa dialihkan untuk membantu masyarakat miskin. Namun, publik tidak mengetahuinya karena pemerintah tidak menjelaskannya.” Publik pada umumnya juga tidak memahami bahwa pencairan anggaran negara baru berlangsung setelah April atau Mei. Menurut Ikrar, proyek seperti jalan tol dan pembangunan pelabuhan laut baru mulai berdampak pada penciptaan lapangan kerja setelah periode tersebut. Salah satu faktor yang membuat Jokowi dikenal luas, sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo hingga kemudian menjadi Gubernur Jakarta, adalah kebiasaannya melakukan kunjungan mendadak ke lokasi pembangunan, tempat usaha dan sekolah.

Hal itu menjadi bagian dari daya tarik Jokowi sebagai figur yang dekat dengan rakyat, sekaligus menyampaikan pesan tegas bahwa ia tidak akan membiarkan proyek-proyek mandek atau aparatur negara mengabaikan tugasnya. Akan tetapi, bagi sebagian orang, kebiasaan melakukan kunjungan spontan atau blusukan tersebut mulai kehilangan daya tariknya. Baru-baru ini, Achmad Wijaya dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia menilai bahwa para menteri Jokowi terlalu fokus meniru gaya presiden yang kerap turun langsung ke lapangan melalui blusukan. Menurutnya, blusukan bisa dilakukan oleh siapa pun, tetapi kemampuan menyusun strategi dan memastikan pelaksanaannya tidak dimiliki semua orang.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *