Badak Sumatra Punah di Alam Liar Malaysia—Tragedi Kehilangan

Para ilmuwan memantau populasi badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Mereka mencatat penurunan tajam di alam liar akibat perburuan dan aktivitas kehutanan. Sekarang mereka memastikan spesies ini punah di alam liar Malaysia. Tidak ada bukti penampakan sejak 2007. Ilmuwan Universitas Kopenhagen memimpin penelitian yang menyatakan kelangsungan spesies ini bergantung pada sedikit individu yang tersisa. Para peneliti memperkirakan kurang dari 100 badak Sumatra hidup di alam liar Indonesia, dan sembilan lainnya hidup di penangkaran. Penangkaran berada di fasilitas di Indonesia, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Rasmus Gren Havmoller dari Pusat Makroekologi, Evolusi dan Iklim menyerukan pengelolaan semua badak Sumatra sebagai satu metapopulasi. Pemerintah dan lembaga konservasi harus mengelola populasi lintas negara untuk memaksimalkan angka kelahiran. Kebijakan itu juga harus mencakup individu yang berada di penangkaran. Studi yang Oryx publikasikan, International Journal of Conservation, menemukan bahwa upaya konservasi selama beberapa dekade belum mampu menghentikan penurunan cepat populasi spesies ini; penurunan ini akan mencapai 50% atau lebih per dekade hingga awal 1990-an.

Zona Pengelolaan

Havmoller dan timnya menyatakan bahwa zona pengelolaan intensif adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan spesies ini. Ilmuwan mengumumkan rencana pada 2013, tetapi pihak terkait belum melaksanakannya. Rencana itu mengusulkan pembentukan kawasan dengan perlindungan anti-perburuan yang lebih ketat karena perburuan cula—karena permintaan tinggi di Asia—mengancam spesies ini; kawasan tersebut juga bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin individu guna meningkatkan peluang perkawinan dan memperbanyak populasi.

Christy Williams, penulis dan koordinator Strategi Aksi Badak dan Gajah Asia WWF, mengatakan bahwa penyelamatan harimau India berkat intervensi langsung Gandhi yang meluncurkan Project Tiger; intervensi tingkat tinggi serupa dari Presiden Joko Widodo bisa membantu mencegah badak Sumatra mencapai ambang kepunahan. Sayangnya, krisis kepunahan badak Sumatra bukan satu-satunya ancaman bagi keluarga badak. Saat ini hanya empat badak putih utara tersisa di dunia, dan tingginya laju kepunahan berbagai spesies badak mendorong peneliti mencoba metode inovatif untuk menyelamatkannya, termasuk memasang kamera pengintai dan alarm pada cula serta memetakan urutan DNA sebelum terlambat. Kita hanya bisa berharap upaya-upaya terakhir ini berhasil menjaga kelangsungan hewan-hewan menakjubkan tersebut.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *