Dalam 60 tahun terakhir, populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) mengalami penurunan lebih dari 50%, terutama akibat deforestasi. Sebagian besar orangutan yang masih bertahan kini hidup di luar kawasan konservasi. Meski demikian, kondisi satu-satunya spesies kera besar di Pulau Kalimantan tersebut berpeluang membaik di salah satu wilayah habitatnya. Melalui video bulan lalu, Ketua Menteri Sarawak Adenan Satem menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan perlindungan hutan tropis dan orangutan. Satem menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi orangutan dan berbagai mamalia lain di Kalimantan. Kecintaannya pada alam mendorong berbagai langkah konkret dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya perlindungan satwa. Satem menyatakan bahwa pemerintahannya tidak akan memberikan izin bagi pembukaan perkebunan baru, terutama perkebunan kelapa sawit. Dalam video tersebut, ia menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan melindungi kawasan hutan yang masih tersisa.
Satem juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya telah menghentikan penerbitan izin baru untuk kegiatan penebangan kayu. Pemerintah juga tidak akan memperpanjang sejumlah izin yang segera berakhir masa berlakunya. Selain itu, Ketua Menteri tersebut berkomitmen untuk menjaga habitat orangutan dan melarang seluruh bentuk perdagangan komersial yang melibatkan satwa tersebut. Direktur Program Wildlife Conservation Society (WCS) Malaysia, Melvin Gumal, menilai bahwa pesan Ketua Menteri menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjadikan perlindungan orangutan dan satwa liar lainnya sebagai prioritas di Sarawak. Dalam siaran persnya, Gumal menilai pernyataan tersebut memberikan harapan besar bagi konservasi. Pembukaan hutan yang ceroboh dan berorientasi pada keuntungan mengancam berbagai satwa liar dengan kepunahan. Satem mulai menjabat sebagai Ketua Menteri Sarawak pada 2014, menggantikan Abdul Taib Mahmud yang mengundurkan diri setelah memimpin wilayah tersebut selama 33 tahun. Taib dan keluarganya menghadapi tuduhan telah mengeksploitasi hutan tropis Sarawak untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Pembalakan Liar
Setelah mulai memimpin Sarawak pada 2014, Satem menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan memberikan toleransi terhadap segala bentuk pembalakan liar. Ia juga mengumumkan bahwa Badan Antikorupsi Malaysia akan menyelidiki industri perkayuan Sarawak sekaligus mengawasi aktivitas penebangan ilegal. Sepanjang Januari hingga Juli 2015, Departemen Kehutanan Sarawak melakukan penggerebekan terhadap 240 kamp dan perusahaan kayu. Dalam operasi tersebut, petugas menyita sekitar 12.000 meter kubik kayu yang mereka duga berasal dari kegiatan ilegal. Ketua Menteri juga mengizinkan peneliti dan naturalis asing melakukan riset di taman nasional dan hutan tropis Sarawak. Melalui pernyataan videonya, ia menegaskan bahwa penelitian tersebut berperan penting dalam melindungi orangutan dan fauna lainnya. Gumal mengatakan bahwa pemerintahan Taib cenderung menolak peneliti yang pernah memublikasikan informasi negatif tentang Sarawak.
Gumal menambahkan bahwa pemerintahan Adenan Satem lebih terbuka dalam mengevaluasi tindakannya dan tidak berupaya menutupi kesalahan yang terjadi. Menurutnya, peningkatan transparansi tersebut membantu lembaga-lembaga pemerintah karena mendorong para peneliti untuk lebih aktif berpartisipasi. WCS Malaysia menjalin dua perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Sarawak guna mendukung kegiatan konservasi dan penelitian di wilayah tersebut. Menurut Gumal, WCS Malaysia menjalin kesepakatan pertama dengan Departemen Kehutanan Sarawak. Kerja sama tersebut meliputi kelanjutan penelitian dan konservasi orangutan beserta habitatnya, pengembangan kapasitas serta pendidikan mengenai konservasi. Untuk kesepakatan kedua, WCS Malaysia menandatangani perjanjian dengan Sarawak Forestry Corporation. Gumal menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut mencakup kolaborasi dalam bidang penelitian, pendidikan dan konservasi untuk meningkatkan pengetahuan serta pengelolaan flora dan fauna di Sarawak. Berbeda dengan kesepakatan pertama, perjanjian kedua ini lebih berorientasi pada penelitian dan tidak secara khusus membahas konservasi orangutan.
Subspesies Langka
Subspesies orangutan Kalimantan paling langka, yakni orangutan Kalimantan barat laut (Pongo pygmaeus pygmaeus), hidup di kawasan hutan hujan Sarawak. Namun, jumlah kera besar tersebut terus menyusut secara drastis selama beberapa dekade terakhir, terutama karena penebangan ilegal dan pembukaan perkebunan kelapa sawit di habitatnya. Gumal memperkirakan sekitar 1.800 hingga 2.500 orangutan menghuni sejumlah kawasan yang telah disurvei di Sarawak. Namun, menurutnya, aktivitas manusia telah menyusutkan habitat orangutan secara drastis selama 60 tahun terakhir. Global Forest Watch mencatat bahwa deforestasi dan kegiatan perkebunan mengurangi sekitar 16% tutupan pohon Sarawak sepanjang 2001 hingga 2013. Aktivitas tersebut memengaruhi hampir dua juta hektare tutupan pohon dan menghilangkan sedikitnya 50.000 hektare hutan primer. Kini, Suaka Margasatwa Lanjak-Entimau dan Taman Nasional Batang Ai menampung sekitar 90% populasi orangutan Sarawak.
Gumal menambahkan bahwa sebagian wilayah Taman Nasional Sedilu dan Sebuyau turut menjadi habitat orangutan tersebut. Gumal menilai bahwa populasi orangutan yang hidup di Lanjak-Entimau dan Batang Ai berada dalam kondisi yang cukup sehat. Menurut WCS, kawasan Lanjak-Entimau dan Batang Ai bersama Taman Nasional Betung Kerihun di Kalimantan Barat membentuk kompleks kawasan lindung terbesar yang menjadi habitat orangutan Kalimantan. Kawasan hutan tersebut juga menjadi tempat hidup berbagai satwa lain, seperti owa Kalimantan, lutung dahi putih, monyet ekor panjang, beruk, babi janggut, dan macan dahan serta beragam spesies langka dan terancam punah lainnya. Gumal menyebut bahwa sejumlah informasi anekdotal mengindikasikan keberadaan lebih banyak orangutan di luar lokasi yang telah teridentifikasi. Apabila peneliti berhasil memastikan keberadaan kelompok-kelompok kecil ini, perkiraan jumlah populasi orangutan dapat meningkat.
Populasi Baru
Departemen Kehutanan Sarawak, dengan dukungan Sarawak Forestry Corporation, Wildlife Conservation Society dan Borneo Adventure, menemukan populasi baru yang diperkirakan berjumlah 200 orangutan di Ulu Sungai Menyang, dekat Taman Nasional Batang Ai, pada 2013. Gumal menjelaskan bahwa WCS akan bekerja sama dengan Departemen Kehutanan Sarawak dan Sarawak Forestry Corporation untuk memverifikasi sejumlah lokasi yang berdasarkan laporan tidak resmi diduga menjadi habitat orangutan. Apabila keberadaan orangutan di kawasan tersebut dapat dikonfirmasi, diperlukan upaya intensif untuk mengajak masyarakat setempat berperan aktif dalam melindunginya. Gumal mengatakan bahwa sejumlah persoalan harus diselesaikan agar upaya pelestarian orangutan di wilayah Kalimantan tersebut dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Langkah yang diperlukan meliputi penambahan personel, peningkatan dedikasi dan motivasi kerja serta penguatan keahlian staf dalam konservasi keanekaragaman hayati. Ia menilai pernyataan ketua menteri sebagai perkembangan yang positif.
Pasalnya, meski kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas pegawai, motivasi dan kompetensi telah lama disuarakan oleh kalangan LSM, hal tersebut kini diakui secara langsung oleh pemerintah. Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, Gumal dan WCS Malaysia melihat adanya harapan positif bagi perlindungan hutan hujan dan populasi orangutan di Sarawak dalam waktu dekat. Gumal mengatakan bahwa Malaysia merupakan satu-satunya negara di dunia yang berkomitmen mengutamakan perlindungan orangutan daripada aktivitas penebangan kayu dan perkebunan kelapa sawit. Ia menambahkan bahwa pergantian ketua menteri telah mendorong peningkatan perhatian terhadap konservasi. Perubahan prioritas tersebut mulai memengaruhi kinerja lembaga pemerintah, terutama dalam bidang kehutanan dan penegakan hukum. Saat ini, ratusan perkara pembalakan liar masih menanti proses persidangan, sementara lebih dari 200 rekening bank milik perusahaan pembalakan telah dibekukan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi momentum berharga bagi upaya konservasi yang harus diperjuangkan secara sungguh-sungguh.