Menimbang Model Asia: Wajah Suram Politik Asia

Paruh akhir 2014 menghadirkan dua peristiwa penting di Indonesia dan China. Kedua peristiwa itu menandai awal era yang terkenal sebagai abad Asia. Di Indonesia, rakyat memilih Joko Widodo sebagai presiden melalui pemilu demokratis pada Juli 2014. Joko Widodo menjadi presiden keempat Indonesia yang lahir dari proses pemilihan demokratis. Pada saat yang sama, Mahkamah Konstitusi menolak gugatan kecurangan pemilu yang Prabowo Subianto ajukan. Prabowo dipandang oleh sebagian pihak memiliki kecenderungan politik yang otoriter. Peristiwa tersebut menunjukkan kemajuan baru dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Pada waktu yang hampir bersamaan, China juga mencapai capaian besar dalam proses transformasi ekonominya yang telah berlangsung lama. Menjelang akhir 2014, China berhasil melampaui Amerika Serikat dan menjadi perekonomian terbesar di dunia berdasarkan ukuran paritas daya beli. Indonesia dan China merupakan dua negara berkembang yang sangat berpengaruh di Asia Timur. Kawasan ini menunjukkan dinamika ekonomi paling cepat di dunia.

Namun, hanya sedikit akademisi yang melihat kesamaan politik signifikan antara Indonesia dan China. Kondisi ini juga berlaku pada negara-negara lain di Asia Timur Laut. Kawasan tersebut mencakup Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, dan Taiwan. Asia Tenggara juga memperlihatkan keragaman serupa, dari Myanmar hingga Filipina. Bahkan, lebih sedikit akademisi yang mengemukakan adanya model tata kelola bersama. Model tersebut dapat menjelaskan karakter demokrasi dan pembangunan di kawasan ini. Para akademisi juga dapat menggunakan model itu untuk memahami arah perkembangan politik negara-negara Asia Timur. Meskipun demikian, gagasan tersebut justru menjadi dasar utama dalam buku terbaru Bruce Gilley yang bersifat luas sekaligus menantang. Dalam karya itu, Gilley berusaha mengungkap logika mendasar yang membentuk dinamika politik di Asia Timur. Upaya ini tentu tidak mudah karena kawasan tersebut mencakup negara-negara yang sangat beragam. Keragaman itu terlihat dari China yang sangat besar hingga Brunei yang berukuran kecil.

Variasi Sistem

Perbedaan juga tampak dari Singapura yang sangat maju hingga Timor-Leste yang masih tergolong miskin. Selain itu, kawasan ini memiliki variasi sistem politik yang sangat luas. Jepang mewakili demokrasi parlementer liberal, sedangkan Korea Utara mencerminkan pemerintahan otokratis yang represif. Di tengah luasnya keberagaman Asia Timur, Gilley menemukan beberapa pola umum dalam politik dan ekonomi kawasan. Menurutnya, kesamaan utama terdapat pada model tata kelola Asia. Model ini merujuk pada pemerintahan yang kuat dan berorientasi pada hasil nyata. Hasil tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, ketertiban sosial, dan pelayanan publik yang efektif. Model ini juga menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok tertentu. Gilley kemudian membahas berbagai aspek penting dalam politik Asia. Aspek tersebut meliputi pembangunan, demokrasi, tata kelola, dan kebijakan publik. Menurut Gilley, faktor utama yang sama memengaruhi semua aspek itu. Faktor tersebut adalah kuatnya peran negara pusat yang stabil dan sah secara legitimasi.

Negara pusat itu juga harus memiliki kapasitas pemerintahan yang memadai. Pendekatan umum Gilley menghasilkan beberapa kesimpulan yang relatif konsisten, meskipun tidak sepenuhnya mengejutkan. Salah satu kesimpulan itu menunjukkan bahwa lembaga eksekutif mendominasi institusi perwakilan, seperti parlemen dan kelompok masyarakat sipil. Dalam pandangan Gilley, politik Asia menempatkan rasionalitas dan ketertiban sebagai perhatian utama. Karena itu, Gilley memandang pemerintahan berbasis kepemimpinan eksekutif sebagai contoh utama model tata kelola Asia. Model ini tampak dalam pemerintahan Singapura dan Daerah Administratif Khusus Hong Kong di China. Menurutnya, model tersebut menekankan pemeliharaan ketertiban publik dan penyediaan layanan pemerintahan yang efektif. Kontribusi penting Gilley terletak pada kemampuannya memperlihatkan bahwa pola-pola tertentu kerap muncul kembali dalam berbagai konteks waktu dan tempat. Ia mengamati bahwa kolonialisme di Asia datang dan berlalu seperti angin muson musim panas, tanpa merusak struktur kekuasaan pra-kolonial secara mendalam sebagaimana yang terjadi di Afrika atau Amerika Latin.

Nasionalisme Modern

Selain itu, Gilley berpendapat bahwa nasionalisme modern di kawasan ini umumnya tidak merusak. Nasionalisme Asia bersifat pragmatis, berorientasi pada pembangunan, serta berupaya mencontoh sekaligus melampaui Barat tanpa menjadikannya sebagai pihak yang disalahkan atas masa lalu. Dalam konteks ini, negara cenderung mengakomodasi budaya dan agama. Negara tidak membiarkan keduanya berkembang sebagai sumber otoritas alternatif yang menyaingi kekuasaan negara. Bahkan, Gilley menyatakan bahwa secara mendasar negara di Asia Timur hadir lebih dahulu daripada masyarakat, suatu pandangan yang sekaligus menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai asal mula kuatnya peran negara di kawasan tersebut. Walaupun Gilley kadang tampak terlalu optimistis, terutama ketika membesar-besarkan keberhasilan pembangunan di Asia Timur sembari meremehkan persoalan defisit demokrasinya, ia tetap mengemukakan bukti-bukti yang kuat untuk menopang argumennya. Banyak pembaca barangkali telah memahami pesatnya kemajuan Asia, tetapi belum tentu menyadari hubungan erat antara pembangunan ekonomi dan kapasitas negara di kawasan tersebut.

Dalam pandangan Gilley, Asia menyerupai negeri Leviathan, yaitu kawasan yang negara-negara kuat dominasi. Negara-negara tersebut memiliki akar historis yang panjang. Gagasan ini sejalan dengan tesis despotisme hidrolik Karl August Wittfogel, seorang pakar Sinologi. Wittfogel berpendapat bahwa kebutuhan merancang, membangun, dan memelihara irigasi besar membentuk kekuasaan politik Asia. Kebutuhan tersebut turut menjelaskan kemunculan dan keberlangsungan kekaisaran China serta berbagai kekaisaran lain di Asia. Dalam konteks modern, keberhasilan pembentukan negara pra-kolonial mendorong perubahan tatanan politik tradisional di kawasan tersebut. Negara-negara di kawasan itu kemudian memperbarui tatanan politik melalui gagasan modern tentang pemerintahan teknokratis. Mereka juga mengembangkan pembangunan yang digerakkan negara serta administrasi publik modern. Analisis Gilley tentang demokrasi di Asia juga bertumpu pada penekanan terhadap ketertiban, pembangunan dan kapasitas negara. Demokrasi yang berkembang di berbagai negara Asia dewasa ini memiliki ciri umum yang khas, yaitu cenderung menjaga kesinambungan negara, berorientasi pada pembangunan, menekankan prinsip mayoritas, serta dibangun di atas basis konsensus.

Kepentingan Publik

Oleh karena itu, kepentingan publik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerap ditempatkan di atas kepentingan individu maupun kepentingan kelompok tertentu. Dalam kerangka ini, perhatian terhadap hak asasi manusia relatif terbatas, sementara perlindungan terhadap hak-hak kelompok minoritas memperoleh perhatian yang lebih kecil. Baik masyarakat luas maupun kalangan elite umumnya memandang dan mendukung demokrasi secara instrumental. Selain itu, lembaga peradilan di kawasan Asia umumnya lebih menempatkan diri sebagai penjaga kepentingan negara daripada pembela hak-hak individu, berbeda dari kecenderungan yang umum ditemukan di Barat. Dalam konteks ini, perbandingan antara Asia Timur dan India menjadi sangat signifikan. Meskipun India tidak dimasukkan dalam analisis Gilley karena termasuk Asia Selatan, demokrasi India yang dinamis, tidak stabil dan ditopang oleh aktivisme yudisial yang kuat justru memperlihatkan keterbatasan kerangka teoritis Gilley.

Kasus Filipina dan Timor Leste juga menghadirkan tantangan serupa, karena keduanya tidak sepenuhnya sesuai dengan pola yang ia kemukakan. Dalam sebuah karya dengan cakupan yang begitu luas, keberadaan kasus-kasus yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kerangka analisis merupakan hal yang wajar. Kasus-kasus semacam ini kerap disisihkan atau dipaksakan agar tetap dapat masuk ke dalam argumen utama. Namun, konsekuensinya, pendekatan tersebut hampir pasti mengundang kritik dari para ahli yang memiliki perhatian khusus terhadap negara-negara terkait. Ada sejumlah hal yang memang terbuka untuk diperdebatkan. Misalnya, apakah Indonesia benar-benar dapat dipandang sebagai contoh nyata efisiensi birokrasi sebagaimana dikemukakan Gilley? Apakah Thailand memang berada di ambang keberhasilan besar, seandainya institusi kerajaan tidak menghambat proses tersebut?

Demokrasi China

Dan apakah demokrasi di China, seperti yang disiratkan Gilley sekaligus menegaskan kembali prediksi sebelumnya, benar-benar memiliki peluang konsolidasi yang kuat? Kritik lain mungkin diarahkan pada kecenderungannya yang terus menekankan kemitraan negara dan masyarakat, sehingga kurang memberi perhatian pada peran berbagai pembelahan budaya, termasuk yang berkaitan dengan gerakan sosial, identitas etnis serta afiliasi kelas dalam politik dan masyarakat Asia Timur. Namun demikian, sejumlah persoalan tersebut tidak seharusnya mengaburkan arti penting pencapaian Gilley. Karyanya memuat banyak gagasan yang segar dan orisinal. Salah satu contohnya adalah pandangannya bahwa demokrasi di Asia tidak selalu hadir sebagai ancaman terhadap negara, melainkan justru berperan penting dalam memelihara dan mengelola ketertiban sosial. Argumen ini menjadi salah satu dasar bagi optimisme Gilley yang telah lama ia pertahankan mengenai kemungkinan berkembangnya demokrasi di China.

Pengalamannya sebagai jurnalis di China, serta kedekatan intelektual dan personalnya dengan negara tersebut, turut memberi warna pada tulisannya sehingga menjadikannya bacaan yang hidup dan penuh energi. Meskipun buku Gilley merupakan pencapaian yang mengesankan dalam hal kajian akademis dan kemampuan sintesis, karya tersebut juga memperlihatkan kemiripan yang kuat dengan ciri-ciri negara Asia klasik. Buku ini secara konsisten menonjolkan tema solidaritas, terutama bila dibandingkan dengan literatur politik Asia yang sering kali tampak tidak teratur, penuh perdebatan dan menjadi konteks intelektual tempat karya ini lahir. Sebagai sebuah karya yang ditandai oleh disiplin analitis, fokus yang kuat, serta kapasitas sintesis yang matang, buku ini merefleksikan etos sentralisasi yang selama ini menjadi dasar sekaligus penyangga politik Asia.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *