Pengacara Australia menyoroti banyaknya perempuan di kabinet Jokowi, berharap presiden menyelamatkan kliennya. Darwin Felicity Gerry, QC, tergabung dalam tim hukum Mary Jane Veloso, pekerja Filipina yang menerima vonis narkotika setelah membawa 2,6 kg heroin di Bandara Adi Sucipto tahun 2010. Gerry menegaskan Veloso korban perdagangan manusia dan tidak layak menerima hukuman mati atas kejahatan itu. Gerry menyatakan Veloso tertipu dan tereksploitasi, sementara pihak lain memanfaatkan kerentanannya sebagai bentuk penyalahgunaan kepercayaan.
Ia menegaskan aturan perdagangan manusia di Indonesia cukup maju dan menjadi tanggung jawab Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Gerry dari Australia mengatakan Jokowi menempatkan lebih banyak perempuan di kabinetnya daripada pemerintahan sebelumnya maupun negara lain. Ia mengatakan bahwa kepentingan presiden seharusnya melindungi orang-orang rentan dan tereksploitasi, termasuk Mary Jane Veloso, bukan menghukumnya. Kabinet Jokowi beranggotakan 34 orang dengan delapan perempuan, sedangkan kabinet Australia beranggotakan 19 orang dengan dua perempuan.
Veloso akan menjalani eksekusi pada April bersama dua warga Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, namun Jokowi menunda eksekusi setelah seorang terkait kasus di Filipina menyerahkan diri. Gerry bergabung dengan tim hukum Veloso karena memiliki keahlian khusus dalam isu perdagangan manusia. Gerry menyatakan perekrut langsung Veloso sedang diselidiki, dan ada kemungkinan hierarki kasus melibatkan lebih banyak orang di atasnya. Faktanya, korban eksploitasi muncul berlapis-lapis sebelum akhirnya bermuara pada jaringan kriminal terorganisir.
Gerry menegaskan bahwa hukum perdagangan manusia penting karena memungkinkan identifikasi pihak di puncak rantai, yakni mereka yang seharusnya dituntut, bukan sekadar korban kecil. Kasus Veloso menarik perhatian luas di Filipina dan Indonesia, sementara halaman Facebook Save Mary Jane Veloso memiliki hampir 1.900 anggota.