Analisis terbaru menggunakan citra satelit beresolusi tinggi. Rusia dan Kanada mencatat tingkat kehilangan hutan tertinggi pada 2013. Kedua negara menyumbang hampir 40% dari total 18 juta hektare kehilangan hutan global.
Matt Hansen dari University of Maryland memimpin studi baru yang dia publikasikan di Global Forest Watch. Studi ini melibatkan kolaborasi dengan Google, World Resources Institute dan sejumlah institusi lain.
Data terbaru menunjukkan krisis deforestasi global masih berlangsung dan meningkat hampir 30% sejak awal dekade 2000-an. Wilayah boreal mengalami laju kehilangan tercepat, naik hampir 50% dalam 13 tahun terakhir. Di Rusia dan Kanada, hutan seluas 15,1 juta hektare hilang hanya pada 2012–2013.
Nigel Sizer, Direktur Global Program Kehutanan di WRI, mengatakan data terbaru mengungkap lonjakan kehilangan tutupan pohon di Rusia dan Kanada. Ia menekankan hutan dan lahan di wilayah itu menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Pengurangan tutupan pohon meningkatkan emisi gas rumah kaca dan mempercepat perubahan iklim secara nyata.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan menjadi penyebab utama hilangnya hutan boreal, meskipun aktivitas penebangan kayu turut berperan signifikan. Proses penebangan menyebabkan fragmentasi hutan, sehingga meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran. Selain itu, perubahan iklim turut memperbesar potensi terjadinya kebakaran di kawasan tersebut.
Olga Gershenzon, Ketua Dewan Transparent World dan pendiri ScanEx, mengatakan situasi ini harus mendorong peninjauan pengelolaan hutan Rusia dan Kanada. Ia menekankan skala besar kehilangan tutupan pohon menunjukkan perlunya peningkatan sistem pemantauan. Ia juga meminta peningkatan pemahaman terhadap penyebab dan jenis kebakaran hutan. Selain itu, ia mendesak penyediaan informasi publik langsung, termasuk peta alokasi lahan dan penanggung jawabnya.
Penyumbang Utama
Meski wilayah hutan paling utara mengalami percepatan kehilangan tutupan pohon yang paling tinggi, kawasan tropis tetap menjadi penyumbang utama deforestasi global, dengan total kehilangan hampir 19 juta hektare dalam dua tahun terakhir. Sejak bulan Januari 2012, Brasil (4,5 juta hektare), Indonesia (3,3 juta hektare), Republik Demokratik Kongo (1,4 juta hektare) dan Malaysia (931.000 hektare) mencatat tingkat kehilangan hutan yang paling besar. Namun, pada tahun 2013, tiga dari empat negara tersebut—Brasil, Indonesia, dan Malaysia—menunjukkan penurunan signifikan dalam angka kehilangan hutan. Bahkan, Indonesia mencatatkan tingkat kehilangan hutan terendah sejak tahun 2003.
Negara-negara dengan iklim sedang turut mencatatkan angka kehilangan hutan yang signifikan, dengan Amerika Serikat berada di posisi keempat dalam total kehilangan tutupan pohon selama dua tahun terakhir.
Kondisi Sebenarnya
Meski angka-angka utama menunjukkan tingkat kehilangan tutupan pohon, data tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya karena tidak membedakan antara hutan alam dan kawasan perkebunan. Akibatnya, praktik penebangan siklus di perkebunan atau alih fungsi dari karet ke kelapa sawit tercatat sebagai kehilangan hutan. Hal ini menyebabkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Swedia dan Finlandia menempati peringkat yang lebih tinggi dalam statistik kehilangan hutan dibandingkan jika perkebunan dikecualikan. Bias serupa juga terjadi di negara tropis dengan skala perkebunan industri yang besar, seperti Indonesia, Malaysia dan Brasil. Untuk mengatasi hal ini, para peneliti tengah mengembangkan metode pemetaan khusus guna membedakan hutan alam dari perkebunan, agar deforestasi dapat diidentifikasi secara lebih akurat. Namun, pendekatan ini memerlukan kapasitas komputasi yang tinggi dan sejauh ini baru diterapkan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, data tersebut memperjelas bahwa laju kehilangan hutan secara global tetap tinggi. Dalam periode 2001 hingga 2013, total tutupan pohon yang hilang mencapai 231 juta hektare—setara dengan luas wilayah Republik Demokratik Kongo atau gabungan negara bagian Texas dan Alaska.
Kehilangan hutan memiliki dampak besar karena peran ekologisnya yang vital, seperti menjaga pola curah hujan, menyerap karbon dalam jumlah besar, mencegah erosi tanah serta menjadi habitat bagi lebih dari separuh spesies tumbuhan dan hewan darat di dunia. Selain itu, manusia sangat bergantung pada hutan untuk mendukung kesuburan lahan pertanian, menyediakan sumber pangan, serat dan energi serta menawarkan manfaat rekreasi dan nilai spiritual.