Penebangan Liar Bayangi Kalimantan Meski Reboisasi Dijalankan

menanam pohon memengaruhi pandangan

Apakah kegiatan menanam pohon dapat memengaruhi pandangan individu terhadap pelestarian hutan? Tiga peneliti LSM Alam Sehat Lestari (ASRI) — Erica Pohnan, Hotlin Ompusunggu, dan Campbell Webb — mengevaluasi program reboisasi. Mereka menilai dampaknya di Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Tim peneliti memublikasikan temuannya di jurnal terbuka Tropical Conservation Science.

Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak partisipasi masyarakat dalam proyek reboisasi terhadap persepsi lokal mengenai penebangan liar. Penebangan ilegal semakin mengancam kawasan konservasi dan taman nasional, seiring dengan merosotnya industri kehutanan nasional. Fokus penelitian tertuju pada Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan, yang mengalami degradasi hutan signifikan selama beberapa dekade. Taman seluas 900 km² ini menjadi habitat sekitar 2.500 orangutan dan berbagai spesies langka. Contohnya siamang, macan dahan, dan delapan jenis rangkong. Berdasarkan studi sebelumnya, sekitar 12.400 hektare atau 13% dari hutan taman hilang akibat penebangan liar antara tahun 1992–2004. Data dari Global Forest Watch mencatat kehilangan tambahan sebesar 7.000 hektare tutupan pohon antara tahun 2004–2012.

Para peneliti mengatakan maraknya penebangan liar di sekitar Taman Nasional Gunung Palung berakar dari pencabutan izin konsesi kayu pada 1990-an. Mereka juga menyebut munculnya praktik penebangan yang melibatkan masyarakat lokal. Pada periode tersebut, sekitar 80% rumah tangga di kawasan tersebut bergantung pada kegiatan penebangan sebagai sumber utama pendapatan tunai.

Pada 2009, LSM lokal ASRI meluncurkan program reboisasi di Taman Nasional Gunung Palung. Inisiatif ini bertujuan mengumpulkan data pemulihan hutan tropis dan menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar. Harapannya, program dapat mengurangi praktik penebangan liar. Sejak berjalan, peneliti mencatat tidak ada konflik terkait pemanfaatan pohon di masa depan dan masyarakat memberikan dukungan kuat terhadap reboisasi.

Survei ASRI sekitar Taman Nasional Gunung Palung mencatat keterlibatan rumah tangga dalam penebangan liar turun dari 33% menjadi 10%. Semua responden berminat pada pekerjaan alternatif, menunjukkan pergeseran mata pencaharian berpotensi mengurangi penebangan ilegal.

Meneliti Keterkaitan

Setelah program reboisasi awal menunjukkan hasil positif, ASRI mulai meneliti keterkaitan antara partisipasi masyarakat dan penurunan aktivitas penebangan liar. Lembaga ini mengajukan hipotesis bahwa keterlibatan warga dalam reboisasi dapat menekan penebangan ilegal. Mekanisme pertama adalah perubahan cara pandang masyarakat terhadap hutan. Mekanisme kedua adalah peningkatan kondisi ekonomi lokal yang mengurangi ketergantungan pada penebangan.

Perubahan persepsi mencerminkan pergeseran pandangan masyarakat terhadap praktik penebangan liar serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya sumber daya hutan. Aspek peningkatan ekonomi meliputi penyediaan alternatif mata pencaharian di luar sektor penebangan. Program juga mendorong pengembangan keterampilan baru untuk mendukung kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.

Pada Februari 2013, ASRI melaksanakan survei guna mengevaluasi dampak sosial dari program reboisasi terhadap komunitas lokal, sekaligus menguji dugaan bahwa keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut berkontribusi pada penurunan praktik penebangan liar.

ASRI melakukan survei wawancara terhadap 50 warga, dengan 75% responden memiliki pengalaman dalam proyek reboisasi dan 25% belum pernah terlibat. Program reboisasi itu mempekerjakan 100 warga antara 2009–2013 di desa berpenduduk 764 rumah tangga sebagai staf pembibitan, tenaga reboisasi musiman, pekerja harian, dan anggota tim pemadam kebakaran.

Peneliti mengajak peserta menceritakan pengalaman pribadi tentang program reboisasi dan pandangan terhadap taman nasional. Peneliti meminta mereka menjelaskan kondisi mata pencaharian sebelum dan setelah terlibat dalam reboisasi.

Survei menunjukkan bahwa 80% responden percaya program reboisasi berperan dalam menekan penebangan liar di taman nasional. Meski demikian, para peneliti belum memperoleh bukti kuat yang menghubungkan temuan tersebut dengan dua jalur yang diusulkan, yakni perubahan persepsi dan peningkatan ekonomi. Oleh karena itu, merekomendasikan dilakukannya studi lanjutan dengan pendekatan etnografi mendalam untuk memahami secara lebih menyeluruh keterkaitan antara masyarakat, program reboisasi dan praktik ilegal di sektor kehutanan.

Narasi Warga

Di sisi lain, peneliti mencatat bahwa narasi warga selama survei mengindikasikan bahwa faktor-faktor seperti peluang kerja, akses terhadap kayu dan kekhawatiran terhadap sanksi hukum memiliki peran besar dalam menurunnya praktik penebangan liar. Survei juga menunjukkan bahwa peserta program reboisasi memiliki pemahaman lebih mendalam tentang taman nasional, serta menunjukkan apresiasi dan komitmen untuk menjaga kelestarian hutan bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, jika peningkatan kesadaran dianggap sebagai bentuk perubahan persepsi, maka program reboisasi terbukti turut membentuk sikap masyarakat secara positif.

Para penulis menyampaikan bahwa temuan survei menunjukkan munculnya jalur pemberdayaan baru sebagai dampak dari program reboisasi. Melalui jalur ini, masyarakat lokal berhasil meningkatkan kondisi ekonominya serta membangun rasa percaya diri melalui keterampilan dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program tersebut. Sejumlah peserta bahkan telah memulai inisiatif penanaman pohon secara mandiri dengan menerapkan teknik yang dipelajari. Lebih lanjut, penulis menilai bahwa bentuk pemberdayaan ini berpotensi mendorong perubahan persepsi masyarakat terhadap hutan dan mengurangi toleransi sosial terhadap praktik penebangan liar.

Lebih lanjut, studi ini menunjukkan bahwa penerimaan sosial terhadap penebangan liar telah menurun di wilayah tersebut. Para penulis mengaitkan pergeseran ini dengan peningkatan aktivitas patroli oleh petugas taman nasional serta munculnya perkebunan kelapa sawit, yang telah menjadi sumber lapangan kerja dan kayu mentah. Lebih lanjut, survei ini telah memberikan gambaran rinci tentang faktor-faktor sosio ekonomi lokal di balik penebangan liar dan dengan demikian menjadi titik awal untuk mengatasi kejahatan kehutanan. Para penulis menyarankan agar pembangunan di masa mendatang di wilayah sekitar Taman Nasional Gunung Palung difokuskan pada penyediaan peluang ekonomi jangka panjang untuk mencegah kembalinya aktivitas penebangan liar.

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *