Krisis Tanpa Akhir: Boko Haram Mengalahkan Upaya Pemerintah

Saat kampanye pilpres, Mayjen Muhammadu Buhari (purnawirawan, kini presiden) mendapat keuntungan politik lewat janji menumpas Boko Haram dalam setahun. Berupaya memenuhi janji ambisius itu, istana pada Desember 2015 menyatakan pemberontak telah mereka kalahkan. Namun setelah kelompok itu menyerang pada bulan yang sama, publik dan para pengamat mempertanyakan klaim tersebut. Serangan termasuk bom masjid di Adamawa pada 21 Desember 2015, menewaskan 20 orang. Kebakaran hebat di Kimba, Borno pada hari Natal menewaskan 16 orang.

Awal tahun baru, 8 Januari 2016, pelaku bom bunuh diri Boko Haram meledakkan bom di masjid Kolofata, Kamerun Utara. Serangan itu menewaskan dua orang dan melukai satu lainnya. Lima hari kemudian, 13 Januari 2016, serangan serupa terjadi di masjid Kouyape, juga di Kamerun Utara. Serangan itu menewaskan 12 orang dan melukai satu orang. Lima hari kemudian, 18 Januari 2016, Boko Haram menyerang lagi sebuah masjid dan menewaskan empat orang. Sejak 13 Februari 2016, Boko Haram terus melancarkan serangan di Borno dan daerah sekitarnya. Dalam beberapa insiden, pemberontak memaksa jamaah masuk masjid lalu menembak mereka, menyebabkan korban jiwa dan luka. Antara 25 September dan Desember 2016, pemberontak membunuh beberapa perwira tinggi Angkatan Darat Nigeria. Korban termasuk Muhammed Abu Ali, Mayor D.S. Erasmus, Letnan Kolonel K. Yusuf, dan beberapa perwira senior lainnya.

Pasukan Nigeria memberikan perlawanan keras dan menewaskan banyak pemberontak. Namun pertanyaan mengganjal tetap muncul. Mengapa tentara Nigeria terus tampak kewalahan menghadapi kelompok pemberontak yang masih aktif menembak? Setahun lalu, istana menyatakan mereka kalah dan merayakan kemenangan itu. Pertanyaan penting adalah sejauh mana istana benar ketika mengumumkan kemenangan tersebut.

Klaim Presiden

Penulis tidak bermaksud memperdebatkan klaim presiden yang jelas tidak sah. Hakeem Onapajo adalah ilmuwan politik yang berbasis di Afrika Selatan dan peneliti pascadoktoral di Universitas Zululand. Ia baru-baru ini membahas isu ini secara ilmiah. Tulisan ini bertujuan memberi analisis situasional terhadap masalah tersebut. Juga mengungkap rangkaian penyebab yang hilang di balik kegagalan janji presiden. Janji presiden untuk menumpas Boko Haram dalam satu tahun ternyata tidak realistis.

Analisis ini mengajukan beberapa hipotesis: pemerintah Nigeria belum memahami benar siapa musuhnya; negara itu kurang peka terhadap ideologi dan taktik perekrutan Boko Haram; strategi kontra‑terorisme Nigeria bersifat militeristik—reaktif dan berfokus pada balasan, bukan berbasis ideologi atau tujuan jangka panjang; serta pasukan Nigeria menerapkan pendekatan intelijen yang kurang strategis. Penulis akan mengkaji keempat dugaan ini dengan penjelasan teoretis untuk menunjukkan bahwa senjata api semata—yang menjadi andalan Nigeria—tidak cukup menumpas Boko Haram, yang dalam beberapa kasus terbukti lebih canggih secara militer dan strategis daripada pasukan Nigeria.

Kecenderungan Global

Sebelum membahas, penulis mencatat bahwa Boko Haram bukan fenomena unik; kelompok itu bagian dari tren global. Di banyak negara, pengamat khawatir tentang globalisasi Islam akibat seruan dan pencarian penganut baru. Kekhawatiran itu menguat ketika dunia mengalihkan perhatiannya ke kawasan Muslim setelah serangan 11 September 2001, dan media mengaitkan sejumlah insiden ledakan di berbagai negara dengan fenomena tersebut. Pergeseran fokus itu mendorong para peneliti dan jurnalis meningkatkan studi serta peliputan tentang Islam, terutama mengenai penyebaran dan ekspansinya. Akibatnya, akademisi memusatkan studi pada negara-negara Timur Tengah dan Asia Selatan seperti Afghanistan dan Pakistan, yang sering orang gambarkan sebagai basis operasional bagi teroris profesional dan calon pelaku bom. Pembunuhan pemimpin Al‑Qaeda, Osama bin Laden, oleh Pasukan Khusus AS dalam penggerebekan dini hari di Abbottabad, Pakistan, pada 1 Mei 2011, semakin memperburuk citra negatif yang melekat pada Pakistan.

Minat para akademisi lintas disiplin tetap tinggi terhadap fenomena gerakan ekspansionis dan revivalis di kalangan umat muslim, terutama untuk mengidentifikasi unsur‑unsur ekstremis atau potensi yang bisa mendorong serangan skala besar terhadap kekuatan besar. Pandangan para pakar terkemuka tentang politik Islam, meskipun sering bersikap kritis terhadap konsep umum tersebut, tidak sepenuhnya menyingkirkan gagasan pokoknya. Dari analisis mereka dapat disimpulkan bahwa dalam upaya mengejar agenda politik Islam, sebagian aktivis kadang‑kadang terperangkap dalam jaringan yang dikategorikan sebagai ekstremisme Islam.

Radikalisasi dan Militerisasi

Sebagai konsekuensinya, kekhawatiran tumbuh tentang berlanjutnya radikalisasi dan militerisasi di beberapa wilayah dunia muslim. Meski para cendekiawan menafsirkan fenomena ini secara berbeda, bukti yang ada menunjukkan bahwa kaum muslim umumnya tidak bersikap acuh terhadap agresi eksternal yang memicu reaksi radikal. Tren ini kemudian memperkuat anggapan—yang bisa menyesatkan—bahwa ekstremisme Islam dan kebangkitan Islam selalu terkait erat, dan memicu gelombang kajian akademis mendalam tentang ideologi kebangkitan, ekstremisme, militansi, terorisme dan isu terkait lainnya; dalam kerangka ideologis inilah Boko Haram dapat ditempatkan secara tepat.

Kata ideologi relevan dalam setiap pembahasan tentang Boko Haram karena merujuk pada gagasan tentang komitmen untuk merancang program yang bertujuan memperbaiki kondisi manusia melalui perjuangan, yang menuntut perekrutan pengikut dan pendukung yang berkomitmen mewujudkan tujuan tersebut. Dalam pola yang kemudian menjadi ciri program‑program ideologis, tidak ada seruan massal kepada publik; sebaliknya, aktor‑aktor kunci dipilih secara selektif. Jelas bahwa Gerakan Boko Haram Nigeria, seperti beberapa kelompok Islam terkemuka lainnya (misalnya Jamaah Islamiyah di Mesir dan Indonesia), mengikuti prinsip dasar ini.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *