Budaya Terpencil Terancam Hilang di Tengah Arus Modernisasi

Jauh dari hiruk-pikuk modernisasi yang melanda kota-kota di Indonesia, masyarakat Mentawai terus berupaya menyeimbangkan kehidupan tradisionalnya dengan tuntutan pembangunan nasional. Kelompok kecil dan terpencil ini, berjumlah sekitar 60.000 jiwa, merupakan budaya langka di Indonesia. Selama 2.000 tahun, mereka tidak tersentuh pengaruh Hindu, Buddha, maupun Islam. Para ahli meyakini Suku Mentawai telah mendiami kepulauan selatan Sumatra sejak dua ribu tahun lalu. Karena itu, banyak orang menganggap mereka sebagai salah satu budaya tertua di Indonesia. Di luar Indonesia, tidak banyak orang yang mengenal Mentawai maupun gugusan pulau yang menyandang nama ini. Pulau-pulau kecil yang datar dan hutan lebat membentuk kepulauan ini. Para peselancar lebih mengenal kepulauan ini karena ombaknya yang mendunia daripada masyarakat setempat. Namun, sejarah Indonesia abad ke-20 memberi tekanan besar pada budaya Mentawai. Selama puluhan tahun, upaya pemerintah menghapus budaya suku memicu jarak antara generasi tua dan muda Mentawai.

Sejak merdeka pada 1945, pemerintah mendorong masyarakat Mentawai dan komunitas adat lain meninggalkan adat demi budaya nasional yang seragam. Pemerintah juga mewajibkan masyarakat adat memeluk agama resmi negara, lalu meninggalkan kepercayaan animisme yang selama ini mereka anut. Selama beberapa waktu, masyarakat Mentawai masih dapat mempertahankan cara hidupnya dan terhindar dari perubahan tersebut, hingga pada tahun 1954 para pejabat pemerintah datang ke Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai. Mereka memberi tahu warga bahwa dalam waktu tiga bulan mereka harus menentukan pilihan agama, yaitu Islam atau Kristen. Sebagian besar kemudian memilih Kristen karena masyarakat Mentawai pada umumnya terbiasa memelihara babi.

Menyita Atribut Tradisional

Pada tahun-tahun selanjutnya, aparat pemerintah dan kepolisian kerap datang kembali ke kampung-kampung di Mentawai untuk menyita atau membakar atribut tradisional serta benda-benda yang berkaitan dengan kepercayaan setempat. Pemerintah juga melarang berbagai praktik budaya asli, seperti meruncingkan gigi dan membuat tato. Sebagian orang, di antaranya Teu Kapik Sibajak dan istrinya, Teu Kapik Sikalabai, memilih menetap lebih jauh di pedalaman hutan hujan Siberut agar terhindar dari hubungan langsung dengan pejabat Indonesia. Saat ini, antropolog Mentawai, Juniator Tulius, memperkirakan bahwa hanya sekitar 2.000 orang yang masih menjalani kehidupan sesuai tradisi asli kelompok tersebut. Walaupun upaya penghancuran terhadap budaya Mentawai akhirnya mereda setelah wisatawan Barat mulai datang ke Mentawai pada dekade 1990-an, pada saat tekanan ini berakhir, banyak unsur budayanya telah lebih dulu lenyap.

Generasi muda Mentawai menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Petrus Sekaliou, putra keluarga Kapik yang kini berusia 42 tahun, tinggal di desa, menggunakan bahasa Indonesia, dan mengenakan pakaian bergaya Barat. Namun, ketika kedua orang tuanya tidak lagi mampu merawat diri, Sekaliou berencana kembali ke pedalaman hutan hujan. Di sana, ia ingin mendampingi dan merawat orang tuanya hingga akhir hayat. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih memilih hidup di hutan karena merasa lebih bahagia di sana. Menurutnya, kehidupan di hutan juga membuatnya tidak perlu mengalami tekanan untuk mencari pekerjaan setiap hari.

Memberi Ruang

Walaupun kini negara semakin memberi ruang bagi pengakuan terhadap budaya Mentawai—para tetua adat sudah diperbolehkan memakai busana tradisional dan menjalani kehidupan menurut adat, sementara sekolah-sekolah di daerah setempat juga telah memasukkan pelajaran tentang budaya Mentawai ke dalam kurikulum—dampak penindasan pemerintah yang berlangsung selama puluhan tahun tetap tidak mudah dihilangkan.

Sekaliou mengatakan bahwa anak-anaknya sama sekali tidak memahami budayanya sendiri. Di sisi lain, para tetua Mentawai merasa nyaman tinggal di tempatnya sekarang. Ibu Sekaliou pun menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan tempat ini.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *