Sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara berupa laut; sekitar tiga perempatnya terletak di Laut Banda dan Teluk Boni. Garis pantai dan perairan ini menampung beragam flora dan fauna, termasuk puluhan mangrove, ikan hias, dan penyu terancam. Sektor perikanan setempat menghasilkan sekitar 542.000 ton ikan setiap tahun. Wilayah ini terancam oleh ekspansi tambang nikel, pembangunan infrastruktur, dan serangan bintang laut pemakan karang. Ekspedisi terbaru menemukan hampir seperempat terumbu karang Sulawesi Tenggara mengalami kerusakan parah. Kegiatan XPDCSULTRA, kolaborasi WWF‑Indonesia, Reef Check, DKP Sulawesi Tenggara, dan Universitas Halu Oleo, meninjau ekosistem pesisir. Tim mengumpulkan data terumbu karang melalui penyelaman di 38 lokasi sampel. Lokasi meliputi Taman Laut Teluk Lasolo, Kawasan Konservasi Laut Sultra, dan perairan tak terlindungi sekitar Pulau Wawonii.
Di seluruh provinsi, peneliti mencatat tutupan karang yang rendah, serta banyaknya puing dan tingginya sedimentasi. Mereka juga menemukan wabah bintang laut pemakan karang berduri (Acanthaster planci) yang memperburuk kondisi terumbu. Estradivari, Koordinator Ilmu Kelautan WWF‑Indonesia dan ilmuwan utama ekspedisi, mencurigai penambangan nikel sebagai penyebab kerusakan ekosistem. Ia mengatakan tim perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan sebab-akibat. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Sulawesi Tenggara menyimpan beberapa deposit nikel terkaya di negara ini. Permintaan baja dari China mendorong pertumbuhan pesat pertambangan nikel di provinsi tersebut. Pada 2014 pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah untuk mendorong peleburan lokal. Larangan itu masih berlaku, namun masa depannya belum pasti.
Ketika larangan berlaku, penduduk melihat limpasan tambang terbuka mendangkalkan sungai dan mencemari laut. Perairan pantai berubah dari jernih menjadi merah, membunuh rumput laut dan biota laut lainnya. Persyaratan pengolahan bijih dalam negeri memicu pembangunan pelabuhan dan jalan yang tergesa-gesa. Pembangunan itu menambah debu, abu batubara, dan terak ke lingkungan pesisir.
Dampak Buruk
Hasil pengumpulan data oleh ekspedisi tersebut menunjukkan adanya bukti yang menguatkan kekhawatiran tentang dampak buruk industri ini terhadap ekosistem laut provinsi. Tim ekspedisi mencatat tingkat sedimentasi yang tinggi di perairan sekitar area pertambangan. Jarak pandang horizontal kurang dari 10 m, ujar Estradivari. Sedimen menghalangi cahaya yang ekosistem butuhkan untuk bertahan dan berpotensi mengubur terumbu karang saat mengendap. Yang paling mengkhawatirkan adalah lokasi tambang nikel yang sangat dekat dengan batas Taman Laut Teluk Lasolo, sehingga dampak pertambangan bisa langsung memengaruhi kesehatan ekosistem pesisir. Ekspedisi menemukan bahwa 9 dari 38 lokasi sampel (sekitar 24%) memiliki tutupan karang keras yang rendah; di titik-titik tersebut karang keras menutupi kurang dari 25%, menunjukkan kondisi terumbu yang tidak sehat. Temuan lain yang mencolok adalah peningkatan jumlah Acanthaster planci, bintang laut berduri yang terkenal sebagai bintang laut mahkota duri. Spesies pemakan karang ini memang bagian dari ekosistem terumbu, namun biasanya hanya ada dalam jumlah kecil.
Bintang laut berduri ini dianggap sebagai penyebab utama kerusakan Great Barrier Reef di Australia, dan wabahnya di Sulawesi Tenggara berpotensi merusak terumbu karang setempat. Karena hewan ini memangsa karang, lonjakan jumlahnya bisa memicu kematian karang secara masif dalam waktu singkat. Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka cenderung memakan karang yang tumbuh cepat, seperti jenis Acropora. Menurut Estradivari, meskipun tidak ada angka pasti yang menentukan kapan suatu kejadian disebut wabah, para ilmuwan sepakat menyebutnya wabah jika laju pemangsaan oleh bintang laut berduri melebihi laju pertumbuhan karang ini sendiri. Para peneliti menemukan bintang laut berduri tersebar di banyak lokasi pengambilan sampel, baik di perairan lepas pantai Sulawesi daratan maupun di sekitar pulau-pulau kecil di sebelah timur. Di beberapa titik pengamatan ditemukan lebih dari lima ekor dalam satu lokasi; pada kasus paling parah, seorang penyelam mencatat hingga 30 ekor.
Penyebab Wabah
Estradivari menyatakan ia belum bisa menjelaskan penyebab wabah bintang laut berduri di Sulawesi Tenggara. Warga desa yang ditemui peneliti mengatakan belum pernah menyaksikan kejadian serupa sebelumnya, dan ekspedisi sebelumnya juga tidak mencatatnya. “Dalam dua tahun terakhir WWF melakukan enam ekspedisi di Indonesia Timur dan ini pertama kalinya kami menemukan wabah bintang laut berduri. Kami perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya; kemungkinan terkait aktivitas manusia atau kenaikan suhu permukaan laut,” ujar Estradivari. Estradivari menyatakan ada alasan untuk tetap optimis: beberapa lokasi masih berada dalam kondisi baik dan lokasi lain masih berpeluang pulih. Di sekitar Pulau Wawonii, beberapa titik mempertahankan tutupan karang keras yang tinggi serta banyak koloni karang keras kecil. Kawasan ini juga menjadi habitat bagi kawanan ikan unicorn, barakuda berekor kuning, dan berbagai spesies dilindungi seperti penyu sisik, penyu belimbing, penyu hijau, paus, hiu paus, lumba-lumba, dugong serta pari manta.
Anung Wijaya, anggota tim ekspedisi sekaligus peneliti di Seksi Konservasi dan Rehabilitasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, menyatakan bahwa hasil ekspedisi akan menjadi dasar rekomendasi untuk merancang tiga zona kawasan lindung laut di provinsi tersebut. Ia menjelaskan dalam siaran pers bahwa untuk mengoptimalkan jaringan MPA di perairan Sulawesi Tenggara, tim telah melakukan studi biofisika guna menilai keterkaitan antar kawasan lindung. Tahun ini Gubernur Sulawesi Tenggara secara resmi menambah luas kawasan konservasi laut provinsi tersebut, dengan sekitar 21.786 hektare perairan ditetapkan untuk tujuan konservasi. Estradivari menyatakan tim ekspedisi akan menyusun laporan dan mengumumkan rekomendasi pada Januari 2017.