Indonesia, populasi terbesar keempat dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, mencatat kemajuan signifikan dalam pengurangan kemiskinan dan pertumbuhan. Sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas, anggota G20 dan pemimpin ASEAN, Indonesia mempertahankan pertumbuhan stabil selama lima dekade. Namun tantangan tetap besar: kesenjangan sosial ekonomi, kerentanan iklim, dan hambatan struktural pada perlindungan sosial, kesehatan, gizi.
Meskipun perbaikan terjadi, stunting turun dari 27,7% (2020) menjadi 21,5% (2024) dan kekurangan gizi berkurang. Indonesia masih menghadapi tiga beban malnutrisi: kekurangan gizi, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien. Kabupaten rentan turun dari 13,6% (2020) menjadi 12% (2024), tetapi kesenjangan akses pangan tetap ada. Produksi pangan yang tidak stabil dan masalah rantai pasok, terutama di daerah terpencil, mengganggu ketersediaan. Akibatnya kebutuhan gizi sering tidak terpenuhi di banyak komunitas rentan. Angka kelebihan berat badan dan obesitas meningkat, terutama pada perempuan dan anak perempuan, yang mendorong naiknya penyakit tidak menular. Defisiensi mikronutrien masih meluas dan memengaruhi remaja putri, ibu hamil dan menyusui serta anak-anak kecil. Keterbatasan analisis dan pemanfaatan data di tingkat subnasional menghambat upaya pemerintah menjangkau kelompok paling rentan. Mengatasi hambatan struktural ini penting untuk memastikan kemajuan pembangunan yang tahan lama dan berkelanjutan.
WFP mengajukan rencana strategis lima tahun untuk mendukung Indonesia, selaras dengan rencana pembangunan jangka menengah pemerintah 2025–2029 dan kerangka kerja sama pembangunan berkelanjutan PBB. Rencana ini menitikberatkan penguatan sistem ketahanan pangan, gizi dan kesiapsiagaan bencana di tingkat nasional dan subnasional. Hasil 1: Pada 2030, program dan sistem di tingkat nasional dan subnasional diperkuat sehingga dapat menyelenggarakan program pemberian makanan bergizi gratis oleh pemerintah serta menerapkan mekanisme antisipatif nasional untuk mengurangi dampak risiko dan guncangan cuaca pada kelompok yang rentan terhadap kerawanan pangan dan gizi.
Kegiatan Utama
Agar hasil ini tercapai secara efektif, WFP akan memusatkan upaya pada dua kegiatan utama:
- Mendukung program makan bergizi gratis: WFP akan membantu pemerintah merancang, melaksanakan, dan memperluas inisiatif ini untuk menyediakan makanan bergizi kepada lebih dari 80 juta anak dan kelompok rentan pada 2029. Dukungan meliputi perbaikan menu, pengadaan bahan lokal, peningkatan efisiensi rantai pasok dan fortifikasi makanan skala besar. WFP juga akan berperan dalam pemantauan, evaluasi dan inovasi untuk memastikan program menghasilkan perbaikan gizi yang berkelanjutan dan berkualitas tinggi
- WFP akan membantu pemerintah memasukkan tindakan antisipatif ke dalam sistem manajemen bencana, termasuk memperkuat mekanisme peringatan dini, perencanaan berbasis bukti dan kapasitas respons di tingkat subnasional. Bersama pemerintah, WFP akan mengembangkan model tindakan antisipatif yang dapat diterapkan luas di tingkat lokal agar komunitas rentan menerima bantuan tepat waktu sebelum bencana terjadi. WFP akan berperan sebagai fasilitator dengan memperkuat sistem nasional dan mendorong kemitraan multisektoral
Rencana strategis 2026–2030 ini akan memperkuat posisi WFP sebagai mitra utama pemerintah dalam merumuskan, mengoordinasikan, dan melaksanakan kebijakan serta mengokohkan perannya sebagai penasihat terpercaya. Untuk mendukung transformasi Indonesia menjadi aktor kemanusiaan global dan pemimpin di antara negara-negara Selatan dalam upaya mengatasi kelaparan, WFP akan memberikan dukungan teknis, menyatukan para pemangku kepentingan, dan memfasilitasi pertukaran pengetahuan antar negara-negara Selatan.