Pemburu Harimau Berkeliaran Meski Operasi Penyamaran

mengungkap aktivitas pemburu harimau

Dalam operasi rahasia, aparat berhasil mengungkap aktivitas pemburu harimau di Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Setelah penyelidikan mendalam, petugas menangkap tiga warga lokal saat mereka mencoba menjual bagian tubuh harimau di Desa Karang Mendapo, Sarolangun.

“Selama enam bulan, kami menyelidiki kelompok ini. Kelompok tersebut memiliki pengalaman tinggi dalam perburuan liar.” Kepala Seksi Taman Nasional yang menjadi habitat utama harimau di Sumatra, Dian Risianto, menyampaikan pernyataan tersebut.

Petugas menyita kulit harimau sepanjang 131 sentimeter. Mereka juga menyita sembilan kilogram tulang. Bekas luka menunjukkan jerat menjerat kaki kanan depan hewan itu, lalu pelaku menembaknya dari jarak dekat pada bagian perut.

Menurut Dian, pelaku memasarkan kulit harimau secara ilegal di dalam negeri. Jaringan perdagangan kerap mengirim tulang harimau ke luar negeri, terutama ke China. Ia menjelaskan bahwa pelaku menyalurkan gigi dan cakar harimau ke Bali untuk kerajinan dan ornamen lokal. Pedagang menjual tulang harimau sekitar Rp2 juta per kilogram. Mereka membanderol satu cakar sekitar Rp500.000, sedangkan gigi taring dapat mencapai Rp1 juta.

Umumnya, pemburu menanggung sendiri biaya operasinya. Namun, saat harga meningkat, pengumpul kadang memberikan dana awal untuk mendorong aktivitas perburuan.

Perwakilan Polres Sarolangun menegaskan, penyidik akan mengenakan sanksi kepada tiga tersangka sesuai UU Nomor 5 Tahun 1990. UU tersebut mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Ancaman hukuman maksimalnya lima tahun penjara. Ada pula denda hingga Rp100 juta. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 21 ayat 2.

Pelacakan dan Penangkapan

Aparat kepolisian setempat bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional, BKSDA, serta tim Pelestarian Harimau Sumatra Kerinci Seblat (PHS KS) dalam upaya pelacakan dan penangkapan para pelaku perburuan liar.

Dian menjelaskan bahwa petugas menemukan sebagian besar jerat di hutan produksi, hutan desa, dan kebun masyarakat. Karena lebih datar daripada Taman Nasional, hewan mangsa seperti rusa dan babi lebih menyukai area-area tersebut, sehingga harimau kerap berada di luar kawasan perlindungan.

Pada tahun 2014, tim patroli dari PHS KS menemukan dan menonaktifkan sebanyak 55 jerat, di mana sekitar 80% di antaranya berada di luar kawasan Taman Nasional.

Berdasarkan data terbaru, populasi harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di taman tersebut diperkirakan mencapai 165 hingga 190 individu, menjadikannya habitat terbesar dari sekitar 500 ekor harimau Sumatra yang masih tersisa secara global.

Taman Nasional Kerinci Seblat, yang mencakup wilayah seluas 1,4 juta hektare, menjadi habitat bagi berbagai spesies langka seperti badak Sumatra dan gajah Sumatra. Kawasan ini juga mencakup Gunung Kerinci, titik tertinggi di Sumatra dengan ketinggian 3.805 meter, dan merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia bersama Taman Nasional Gunung Leuser serta Bukit Barisan Selatan.

Meski pemerintah China telah melarang perdagangan tulang harimau sejak tahun 1993, permintaan terhadap produk tersebut tetap tinggi, baik secara lokal maupun internasional. Peningkatan konsumsi terutama didorong oleh kalangan elite yang membeli barang simbolik seperti anggur tulang harimau, yang harganya bisa mencapai $4.000 per liter. Kendati tulang harimau telah lama dipakai dalam pengobatan tradisional China untuk mengatasi penyakit seperti rematik, artritis dan kelumpuhan, pengobatan barat belum menemukan bukti ilmiah atas efektivitas penyembuhan dari tulang harimau atau produk hewani lainnya.

Visited 6 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *