Lebih dari 75 juta warga Amerika Serikat bepergian ke luar negeri setiap tahun. Sekitar 7% di antaranya memilih Asia sebagai tujuan, yang berarti kurang lebih 5 juta orang. Namun, hanya sebagian kecil dari jumlah ini yang berkunjung ke Indonesia. Sebagian besar wisatawan yang datang terpusat di Bali. Selama beberapa dekade, Bali menjadi wajah Indonesia bagi kalangan jet set internasional.
Sebagian besar orang mengira Bali adalah sebuah negara tersendiri. Banyak warga Amerika akan kaget mengetahui Bali bagian dari Indonesia. Indonesia berpenduduk terbesar keempat di dunia, tepat di bawah Amerika Serikat.
Ada sejumlah alasan yang masuk akal mengapa warga Amerika relatif kurang menaruh minat pada Indonesia sebagai destinasi wisata. Amerika Serikat memiliki keterkaitan yang lebih mudah dan lebih kuat dengan banyak negara Asia lain. AS pernah berperang di Vietnam dan Kamboja, lalu menerima banyak pengungsi pascaperang. Keluarga pengungsi itu kini rutin kembali mengunjungi tanah asalnya. Kehadiran militer AS di Filipina dan Thailand membangun ikatan, termasuk banyak perkawinan campur. Imigran China membantu membangun rel kereta Amerika dan lama menonjol dalam warisan budayanya. Diaspora Jepang besar dan sukses, sekaligus menumbuhkan minat pada desain, Zen, sushi, seni bela diri, film, sastra.
Di sisi lain, publik Amerika masih kurang mengenal Indonesia. Hanya sedikit warga Indonesia yang bermigrasi ke Amerika Serikat. Selain lewat film The Year of Living Dangerously, Eat, Pray, Love yang menyorot Bali, dan tsunami 2004, publik Amerika jarang membicarakan Indonesia. Indonesia pun nyaris tidak masuk perhatian publik Amerika.
Media global turut menyoroti sejumlah isu negatif serius. Salah satunya, pemerintah tetap mempertahankan hukuman mati dalam kebijakan narkoba yang keras dan tidak rasional.
Bukan berarti turis Amerika akan menyelundupkan narkoba di ransel atau tas Gucci-nya. Intinya, aturan hukum yang keras dan kuno membuat orang memilih liburan ke tempat lain.
Bukan Hambatan Utama
Namun, persoalan ini barangkali bukan hambatan utama. Justru, ketika orang Amerika mulai menelusuri secara online atau mendengar cerita teman yang berwisata ke sini, berbagai isu gaya hidup yang lebih mendasar kerap muncul dan menutupi gambaran besarnya.
Kita tidak bisa menampik bahwa wisatawan menghadapi tantangan saat menjelajahi wilayah Indonesia di luar infrastruktur Bali. Pemerintah mengusulkan perangkat digital Travel X-Change Indonesia (TXI) sebagai langkah awal untuk mengurangi kendala tersebut. Selain itu, publik masih menyoroti kualitas fasilitas lokal yang sering menjadi berita.
Para backpacker mungkin masih mau menginap di hostel tanpa AC dan memakai kamar mandi dengan fasilitas sederhana khas Indonesia. Namun, kebanyakan wisatawan Amerika yang lebih berusia cenderung tidak bersedia. Karena itu, menyediakan setidaknya beberapa akomodasi dengan layanan lengkap—dan sama pentingnya, memastikan pemesanannya mudah diakses secara online—menjadi salah satu kunci untuk menarik pasar ini.
Isu lain yang lebih mengusik banyak pengunjung Amerika—baik yang sudah datang maupun yang masih mempertimbangkan—adalah persoalan sampah. Amerika Serikat telah menyadari dan menanggapi masalah sampah sejak dekade 1950-an; siapa pun yang tertangkap membuang sampah sembarangan dapat didenda besar dan diwajibkan menjalani kerja sosial.
Karena itu, tidak mengherankan bila banyak pelancong Amerika merasa terkejut—bahkan sering kali jijik—melihat sampah berserakan di berbagai kota dan desa. Di sini, sebagian orang tampak tidak menganggap serius kebiasaan membuang sampah di tanah atau ke sungai, bahkan melintas begitu saja di tumpukan sampah di pinggir jalan.
Banyak kekaguman wisatawan Barat terhadap budaya, keunikan, humor dan keramahan penduduk setempat seketika pudar saat melihat dan mencium bau sampah. Sampah tampak ada di mana-mana, dan sedikit sekali turis yang tidak menyadarinya lalu membagikannya lewat ulasan daring dan media sosial.
Dalam kacamata global, Singapura kerap dipandang sebagai yang terdepan soal kebersihan, sedangkan India dan Indonesia sering ditempatkan di posisi paling bawah.
Menunjukkan Kemajuan
Kabar baiknya, sejak 2010 kondisi sanitasi di banyak kota menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan berkat berbagai inisiatif dari sektor publik dan swasta. Salah satu program paling menonjol adalah Bank Sampah, yang berawal dari Yogyakarta dan kemudian dikembangkan secara lebih luas di Surabaya, Jawa Timur, dengan dukungan pendanaan Beri Kebaikan Unilever. Program ini berkontribusi besar membantu kota terbesar kedua tersebut menjadi nyaris bebas sampah.
Gerakan ini kini telah meluas ke 129 kota di berbagai wilayah. Program tersebut menjadi contoh ideal kolaborasi antara relawan dan dunia usaha. Warga membawa sampahnya untuk ditimbang; nilainya kemudian dicatat ke dalam rekening dan dapat dimanfaatkan—beserta imbal hasilnya—untuk membayar kebutuhan penting, seperti tagihan listrik atau pajak properti. Gerakan ini terus bertumbuh, dan meskipun cakupannya baru sekitar 14% dari total sampah nasional, langkah ini tetap menjadi permulaan yang menjanjikan.
Dalam kondisi ideal, gagasan berteknologi tinggi dan pendanaan besar untuk membangun industri pariwisata seharusnya juga merangkul inisiatif akar rumput seperti ini. Tujuannya ialah mendidik masyarakat bahwa sampah bukan hanya merusak lingkungan dan kesehatan diri serta anak-anak, tetapi juga mencoreng reputasi di mata dunia dan pada akhirnya menekan pertumbuhan serta kesejahteraan pariwisata. Wisatawan Amerika memang bisa datang, namun jumlahnya akan jauh lebih besar jika kita mampu melakukan perbaikan pada beberapa aspek kunci tersebut.