Kerapu bungkuk, atau kerapu tikus, adalah komoditas perairan bernilai tinggi dengan prospek ekspor menjanjikan. Permintaan yang tinggi mendorong penangkapan intensif. Beberapa praktik penangkapan menggunakan bahan peledak dan racun. Metode tersebut mengancam keberlanjutan sumber daya laut. Praktik itu bertentangan dengan tujuan pengelolaan perikanan dalam UU No. 45/2007 dan Kode Etik FAO 1995.
Untuk mendukung pengembangan budidaya kerapu bungkuk yang tepat, WWF akan menerbitkan panduan berupa Praktik Manajemen yang Lebih Baik (BMP). Sebelum menerbitkan BMP, WWF mengadakan forum diskusi dengan berbagai narasumber. Tujuannya mengumpulkan masukan untuk menyusun BMP yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
Program Akuakultur WWF menyelenggarakan forum diskusi pada Rabu, 16 Maret di Hotel Santika Bogor. Diskusi membahas budidaya kerapu bungkuk dan mengumpulkan masukan dari berbagai narasumber. Narasumber hadir antara lain Tiya Widi Aditya dari Pusat Budidaya Perairan Lampung. Reagan Septory mewakili Pusat Penelitian dan Pengembangan Budidaya Perairan Gondol Bali. Irzal Effendi dari IPB dan Muchari dari Fakultas Perikanan juga hadir. Anytha Purwareyni Umbas hadir mewakili Direktorat Jenderal Budidaya Perairan KKP. Praktisi Mulya Bangun Sitepu dari Forum Komunikasi Petani Kerapu Lampung turut serta. Dwi Murtono mewakili Pura Baruna Lestasi Karimunjawa hadir sebagai narasumber.
Materi Diskusi
Materi diskusi mencakup organisasi dan aspek legal usaha kelompok budidaya kerapu bungkuk; perencanaan dan persiapan budidaya; pengadaan fasilitas serta infrastruktur pendukung; perawatan selama budidaya dan penanganan pasca panen; analisis usaha; serta aspek sosial dan pemantauan lingkungan sekitar kegiatan budidaya.
Para pembicara menyampaikan banyak masukan. Salah satu masukan menekankan bahwa keberlanjutan usaha akuakultur dan pelestarian lingkungan mengharuskan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, termasuk peternak yang mengelola lahan secara perorangan maupun berkelompok. Kelompok dan forum kerja sama antar peternak akan menurunkan risiko kegagalan usaha, meningkatkan keberhasilan panen, dan mendorong peningkatan penjualan.
Narasumber menekankan bahwa setelah menerapkan petunjuk dalam BMP, petani wajib terus mengamati dan mencatat seluruh kegiatannya. Pemantauan rutin setiap hari hingga panen penting untuk mendeteksi perubahan pada ikan sehingga tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih cepat dan mengurangi risiko kegagalan panen. Idealnya pemantauan ini dilakukan secara terintegrasi antara kelompok petani dan instansi terkait.
WWF berharap panduan BMP membantu peternak kerapu bungkuk skala kecil dan menengah menerapkan seluruh ketentuan dengan benar, bertanggung jawab serta berorientasi pada perlindungan lingkungan.