Sastra Indonesia Terpuruk: Dunia Baru yang Pudar

pembacaan puisi dengan seksama

Ratusan orang menyimak pembacaan puisi dengan seksama dan merasa terhibur. Walau pemandangan seperti ini jarang ada di Jerman, pembaca Indonesia menyukai pentas puisi yang dramatis. Kehidupan sastra di Indonesia berbeda dari kehidupan sastra di Eropa. Perbedaan itu tidak karena rendahnya melek huruf—tingkatnya sekitar 93%—atau oleh banyaknya penerbit, yang lebih dari 1.400. Sebabnya, buku dan kebiasaan membaca belum mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia seperti halnya di Jerman. Pengunjung Pameran Buku Frankfurt 2015 dapat melihat sendiri gambaran kehidupan sastra Indonesia, karena tahun ini negara ini menjadi tamu kehormatan.

Menurut Holger Warnk, pustakawan Studi Asia Tenggara Universitas Goethe, klien Jerman lebih menerima puisi dan cerpen daripada novel. Ia membedakan novel populer dan karya yang berambisi sastra; penerbit biasanya mencetak karya berambisi itu sekitar 2.000 eksemplar. Saat ini pembaca paling banyak menyukai literatur keagamaan Islam. Buku pengembangan diri dan cerita kriminal juga laku di pasar. Namun pembaca kriminal lebih memilih karya klasik internasional seperti Patricia Highsmith dan Agatha Christie.

Hampir Tidak Ada Relevansi Sosial

Di Frankfurt, Indonesia menampilkan jenis buku berbeda—karya penulis terkait negaranya, sejarah kontemporer, dan kondisi sosial saat ini. Jenis terbitan ini biasanya tidak laku dalam jumlah besar. Dari sisi distribusi, buku bernilai sastra juga menghadapi kendala. Gramedia kadang mengambil hak terbit dari penerbit kecil untuk dimasukkan ke programnya. Namun setelah cetakan habis seringkali tidak ada pesanan ulang, menurut Warnk. Ketika kontrak terbit berakhir, penerbit kecil kembali mendapat peluang menerbitkan lagi. Keadaan ini mungkin menjelaskan banyaknya penerbit kecil hingga sangat kecil di Indonesia.

Banyak penulis Indonesia piawai memasarkan karyanya sendiri. Dewi “Dee” Lestari dari Bandung, yang lebih dikenal sebagai musisi, misalnya, menerbitkan novel debutnya secara mandiri dan menjualnya di sebuah mal pada 2001. Sementara itu Ayu Utami, kini dianggap sebagai salah satu tokoh sastra paling terkenal di Indonesia, meraih ketenaran tanpa dukungan penerbit besar; novelnya Saman bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada 1998.

Generasi Baru Penulis Perempuan

Sejumlah penulis perempuan menjadi ciri khas lain dari dunia sastra Indonesia kontemporer: sejak runtuhnya rezim Soeharto pada 1998, justru kaum wanita yang memberi napas baru pada kesusastraan. Di antaranya terdapat Oka Rusmini dan Djenar Maesa Ayu; karya-karya mereka mengangkat peran perempuan di Indonesia dan menyentuh isu-isu berat, misalnya praktik pernikahan paksa yang menimpa perempuan di Bali.

Sebelum mereka, penulis seperti Putu Oka Sukanta, Yusuf B. Mangunwijaya dan terutama Pramoedya Ananta Toer meraih keberhasilan di Jerman berkat kritiknya terhadap rezim. Pramoedya mulai menarik perhatian di Jerman sejak awal 1970-an; pengalamannya dipenjara di Pulau Buru menjadi dasar bagi karya besarnya, Kuartet Buru, empat novel yang mengangkat era kolonial Hindia Belanda dan gerakan pembebasan Indonesia pada masa awal. Gunter Grass juga menemukan dan mendukung Pramoedya pada 1970-an, menyatakan bahwa buku-bukunya membuka dunia kepulauan Indonesia yang tertutup serta sejarahnya yang penuh gejolak.

Penerbit-penerbit Kecil yang Berdedikasi di Jerman

Sejak 1998 minat terhadap sastra Jerman melonjak tajam seiring munculnya generasi baru penulis perempuan. Penerbit Horlemann menjadi pendukung paling konsisten bagi novel-novel asal Indonesia. Pada Pameran Buku Frankfurt 2015, penerbit Weidle dan J. Frank memasukkan karya-karya Indonesia baru atau terjemahan terbaru ke dalam katalognya, yang menegaskan peran aktif penerbit-penerbit kecil. Namun Andrea Hirata juga berhasil menarik perhatian salah satu penerbit besar Jerman: Carl Hanser Verlag tertarik pada novelnya The Rainbow Troops dan akan menerbitkan serial novelnya yang baru diterjemahkan, The Dreamer.

Ada kemungkinan penulis Indonesia lain akan segera menarik perhatian lebih besar di Jerman—Pameran Buku Frankfurt jelas berperan sebagai wadah penting untuk hal ini.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *