Tanah Longsor Memakan 64 Nyawa; Negara Gagal Melindungi

El Nino tahun lalu

Musim kemarau panjang akibat El Nino tahun lalu memicu kebakaran hutan dan lahan gambut hebat yang menghanguskan wilayah seluas Makedonia.

Musim kemarau yang sangat basah tahun ini akibat La Nina menyebabkan malapetaka berupa banjir dan longsor.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pada hari Jumat bahwa setidaknya 64 orang tewas bulan ini akibat tanah longsor dan banjir bandang, dan ribuan lainnya mengungsi.

Provinsi Jawa Tengah mengalami dampak terberat dengan 59 korban tewas, 43 di antaranya dari Kabupaten Purworejo yang menyatakan keadaan darurat.

Media melaporkan bahwa sedikitnya lima orang tewas di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Sutopo mengatakan bahwa tanah longsor telah menewaskan 99 orang tahun ini dan, sejak 2005, lebih dari 2.000 orang tewas atau hilang.

Ia memperingatkan bahwa puncak tanah longsor akan mencapai puncaknya antara Desember dan Maret 2017.

Sutopo menyatakan bahwa meski pemerintah telah memasang sistem peringatan dini di beberapa wilayah, banyak unitnya tidak bekerja dengan baik.

Berdasarkan hasil survei LIPI dan UNESCO, baik masyarakat maupun pemerintah daerah menunjukkan tingkat kesiapsiagaan yang rendah.

Ia mendesak pemerintah untuk meningkatkan anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Ia menegaskan pemerintah seharusnya mengalokasikan 1% anggaran untuk penanggulangan bencana, tetapi saat ini hanya 0,02–0,07%.

Menurut Soeryo Adiwibowo, pembangunan besar-besaran di pulau terpadat dunia, Jawa, cenderung mengesampingkan kepentingan lingkungan.

Pada abad ke-19, hutan di Jawa seluas 10 juta hektare—setara dengan Korea Selatan; pada 1989 luasnya menyusut menjadi 1 juta hektare, lalu turun lagi menjadi 400.000 hektare pada 2005.

Penggundulan hutan menciptakan kondisi yang memicu tanah longsor karena pohon-pohon yang biasa menahan tanah telah hilang.

Soeryo menegaskan bahwa mengabaikan kapasitas lingkungan akan menyebabkan peningkatan bencana alam.

Menurut pernyataannya, kawasan di sekitar Jalan Pantai Selatan Jawa sedang berkembang menjadi pusat pertumbuhan yang baru.

Eksploitasi Berlebihan

Ia mengatakan studi 2008 yang dibuat oleh Soeryo dan timnya—yang menyimpulkan Jawa dieksploitasi secara berlebihan dan berbahaya—tidak mendapat tanggapan memadai dari pemerintah.

Profesor ini menyatakan industri semen sebaiknya dihentikan di Jawa dan mendesak pemerintah menyusun daftar investasi negatif untuk menindak penambangan sumber daya alam.

Setelah China membuat daftar investasi negatif untuk sektor semen, para investor dan perusahaan pun beramai-ramai ke Jawa.

Visited 2 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *