Beberapa hari sebelum keberangkatan presiden ke AS untuk pertemuan perdana Dewan Perdamaian, juru bicara militer mengumumkan sesuatu. Donald Trump memprakarsai dan memimpin dewan tersebut sebagai Presiden AS, dan pengumumannya memicu kontroversi.
Donny Pramono menyatakan pemerintah siap mengerahkan 1.000 tentara ke Gaza pada April, dengan kemungkinan meningkat menjadi 8.000 pada akhir Juni.
Pemerintahan Trump menyatakan beberapa negara berjanji mengirim pasukan untuk bergabung dengan pasukan stabilisasi di Gaza. Amerika Serikat memberi dukungan pada rencana perdamaian Gaza, yang mencakup pasukan ini dan inisiatif Dewan Perdamaian. Dewan Keamanan PBB memberikan persetujuan atas rencana tersebut pada November lalu.
Pengumuman ini menempatkan Indonesia sebagai negara pertama yang secara terbuka menawarkan pengiriman pasukan. Jika terealisasi, kontribusi tersebut akan menjadi salah satu yang terbesar bagi pasukan penjaga perdamaian global.
Pengerahan ini masih menunggu persetujuan akhir Presiden Prabowo Subianto. Donny menyatakan jadwal keberangkatan tergantung keputusan politik nasional dan mekanisme internasional yang berlaku.
Langkah Berisiko?
Kalangan masyarakat memperdebatkan beberapa faktor, sehingga keputusan pemerintah ini mengundang kontroversi.
Beberapa kalangan masyarakat belum menerima gagasan ini sepenuhnya, kata Hikmahanto Juwana, profesor hukum internasional Universitas Indonesia.
Hikmahanto mengatakan, kalangan akar rumput mencurigai Dewan Perdamaian sebagai perpanjangan rencana Netanyahu melalui Presiden Trump. Sekitar 100 warga baru-baru ini memprotes di depan Kedutaan AS, menuding Dewan hanya menjalankan perintah Israel dan AS.
Terdapat kekhawatiran bahwa tawaran ini bagian dari kesepakatan dagang. Kementerian Luar Negeri mengabarkan Prabowo akan menandatangani perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat ketika kunjungan berlangsung. Hikmahanto mengatakan para kritikus khawatir pemerintahan Trump bisa menaikkan tarif terhadap Indonesia jika pemerintah tak kooperatif.
Taruhan Indonesia di Gaza
Namun, pengamat menilai pengumuman pemerintah ini juga menyimpan aspek-aspek positif.
Pemerintah sejak lama mendukung pembentukan negara Palestina, dan jaraknya yang jauh dari Timur Tengah membuatnya tampak lebih netral.
Menurut Mohamad Kawas, semua pihak, termasuk Israel, menerima posisi itu meski berjarak dari Gaza. Sampai sekarang, Israel belum memberikan tanggapan atas pernyataan pemerintah.
Kawas mencatat bahwa usulan partisipasi Turki dalam pasukan penjaga perdamaian Gaza tidak bisa dipandang sama.
Menurut Kawas, Israel keberatan menerima Turki di Gaza meskipun ada pengakuan dan hubungan serta keanggotaan NATO; sebaliknya, Israel mungkin lebih menerima Indonesia yang tidak berhubungan dengan Israel dan mendukung perjuangan Palestina.
Kawas menambahkan bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan Trump ingin rencananya mendapat dukungan luas dari komunitas muslim, sehingga hal ini bisa menjadi alasan tambahan.
Foreign Policy melaporkan awal bulan ini bahwa Indonesia berpengalaman mengerahkan pasukan untuk misi serupa, termasuk di Timur Tengah; Indonesia pertama kali mengerahkan kontingen ke Mesir pada 1956 setelah Krisis Suez, dan kini Indonesia menempatkan sekitar 1.000 pasukan di perbatasan Israel–Lebanon.
Presiden Menjelaskan Rencananya
Media menyebut, kira‑kira dua minggu lalu Presiden Prabowo menggelar pertemuan dengan sejumlah mantan menteri dan diplomat senior untuk memaparkan latar belakang keputusannya bergabung dengan Dewan Perdamaian.
Seorang hadirin menilai pendekatannya sangat meyakinkan, dengan tujuan menegaskan kepemimpinan. Ia memahami bahwa, di antara berbagai opsi, Dewan Perdamaian menawarkan jalur paling efektif bagi pemerintah untuk mendorong kemerdekaan Palestina sekaligus memastikan penyebutan solusi dua negara dalam forum tersebut.
Menurut Yossi Mekelberg, konsultan senior Program Timur Tengah dan Afrika Utara di lembaga think tank Inggris Chatham House, partisipasi pemerintah dalam pasukan stabilisasi merupakan langkah yang tepat.
Dalam pandangan Mekelberg, keterjauhan Indonesia menciptakan kesan netral yang meningkatkan penerimaan tanpa memunculkan kecurigaan tersembunyi.
Dalam pandangan Mekelberg, keterjauhan geografis menawarkan keuntungan tertentu namun juga hambatan operasional: kurangnya pemahaman atas medan dan dinamika kekuatan setempat dapat menghambat adaptasi. Meski demikian, disiplin waktu dan program pelatihan dapat menutup kesenjangan ini dan mendorong keberhasilan.
Dalam pandangan Mekelberg, tingkat keberhasilan bergantung pada ketulusan komitmen kedua pihak untuk patuh pada gencatan senjata, bukan sekadar pernyataan di atas kertas.
Tidak Ada Peran Tempur bagi Indonesia
Rancangan perdamaian untuk Gaza dipandang perlu mencantumkan agenda pelucutan senjata terhadap Hamas. Kendati demikian, di tengah kondisi saat ini, Hamas secara konsisten tidak bersedia melaksanakannya.
Hikmahanto menegaskan kekhawatiran atas rencana PSI melucuti senjata Hamas; publik dapat mengecapnya sebagai tindakan negatif.
Pihak berwenang menegaskan komando pasukan berada sepenuhnya pada pemerintah dan mandatnya bersifat kemanusiaan, bukan ofensif. Karena itu, pasukan tidak akan mengambil langkah yang menimbulkan konfrontasi langsung; mereka hanya menggunakan kekuatan untuk membela diri, ujarnya.
Menurut Kementerian Luar Negeri, wacana pengerahan pasukan ke Gaza murni tidak berkaitan dengan normalisasi; karenanya, tidak boleh ditafsirkan sebagai langkah menuju pemulihan hubungan Indonesia–Israel.
Pemerintah menegaskan ulang komitmen pada pembentukan negara Palestina, seraya menolak praktik penggusuran paksa dan perubahan struktur demografis yang berimbas pada komunitas Palestina.
Keikutsertaan akan dievaluasi: bila terjadi perubahan mandat yang substansial atau dewan gagal mengadvokasi hak‑hak Palestina, pemerintah akan menarik pasukan dan menghentikan keterlibatan dalam Dewan Perdamaian.
Dalam ulasan Foreign Policy, perkembangan ini diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya resistensi dari berbagai kelompok muslim.
Banyak Tantangan
Menurut Tahani Mustafa, peneliti tamu di Program Timur Tengah dan Afrika Utara Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, banyak hal akan ditentukan oleh bagaimana pasukan stabilisasi dibentuk.
“Hal ini akan bergantung pada jenis mandat serta kerangka kelembagaan yang diemban pasukan tersebut,” ujarnya. “Tanpa persetujuan atau dukungan dari pihak Palestina, mereka berisiko dipandang dan diperlakukan sebagai pihak bermusuhan sekaligus sebagai perpanjangan dari pendudukan Israel.”
Ia menerangkan bahwa ketidakakraban pasukan internasional terhadap dinamika lokal—baik konteks sosial‑politik maupun medan operasional—berpotensi melahirkan berbagai tantangan. Ia juga menegaskan bahwa “Hamas bukan satu‑satunya pihak yang memegang senjata di wilayah tersebut.”