Ancaman Pembangunan pada Hutan Suci

Desa Manurung tempat nelayan

Desa Manurung, tempat tinggal sekitar 400 nelayan, tampak sederhana pada pandangan pertama: deretan rumah tenang membentang di sepanjang sungai berliku dan perahu-perahu bersandar di tepi. Namun, di balik kesederhanaan itu hutan tua menyimpan keajaiban alam yang nyaris tak tersentuh manusia. Bukit Pensimoni menjulang sebagai benteng alami; pepohonan raksasa menutupi bukit dan menjaga mata air tawar yang memberi kehidupan serta air bersih bagi permukiman sekitar.

Masyarakat lokal menganggap Bukit Pensimoni wilayah suci dan meyakini bahwa Batara Guru, figur leluhur manusia, pertama kali menapakkan kaki di sana. Karena kesakralannya, masyarakat menjaga hutan itu ketat dan melarang siapa pun memasukinya.

Dalam struktur pemerintahan saat ini, kepala desa memiliki peran resmi sebagai pengelola kawasan hutan. Nilai-nilai adat yang kuat membuat para tetua desa memilih dua sosok spiritual, Pua — seorang pria dan seorang wanita — melalui petunjuk gaib untuk menjaga hutan. Keduanya menjalankan peran penting: sang pria mengemban tugas menjaga harmoni antara manusia dan Sang Pencipta, sementara sang wanita bertugas menyelaraskan hubungan manusia dengan alam dan bumi.

Sejak Pua pria meninggal pada 2010, para tetua belum menetapkan pengganti. Sahe, rekannya, tetap menjalankan pengelolaan hutan; ia berusia 70 tahun dan tinggal di Kecamatan Cerekang. Saat ini Sahe menggunakan kursi roda karena stroke yang membuat tangan kanannya lumpuh dan menyebabkan kesulitan bicara. Ketika wartawan menanyakan larangan masuk ke hutan Bukit Pensimoni, ia hanya menjawab singkat, “Tidak boleh masuk. Tidak boleh masuk. Begitulah adanya sejak dulu.” Menurut Sahe, bahkan warga Cerekang yang paling kesulitan ekonomi akan mencari tempat lain untuk menebang pohon saat membutuhkan penghasilan.

Hutan Adat

Para pemangku adat di Cerekang menetapkan delapan hutan adat, termasuk Pensimoni, sebagai kawasan konservasi permanen tanpa izin pengembangan atau penggarapan; masyarakat setempat hidup selaras dengan alam dan memaknai hutan, sungai, serta makhluk di dalamnya sebagai bagian dari kehidupan spiritual; mereka mempercayai alam semesta terbagi menjadi tiga lapisan: dunia atas menjadi hunian para dewa, dunia tengah tempat manusia, dan dunia bawah yang terletak di bawah air.

Ikan yang bermigrasi secara musiman menjadi sumber penghidupan utama masyarakat, sekaligus penentu ritme kehidupannya. Masyarakat menganggap sungai tempat ikan melintas keramat; mereka meyakini sungai sebagai hunian roh dunia bawah dan menjaganya tetap bersih serta bebas pencemaran.

“Secara umum dikenal sebagai buaya, tetapi bagi kami, ia dipanggil ‘nenek’,” ujar Muchsind, salah satu warga komunitas. “Saya sering berenang di sungai ini, dan sesekali nenek melintas di dekat saya. Selama kami tidak mengusiknya, ia pun tidak akan mengganggu kami.”

Demi menjaga kesucian air, masyarakat tidak membuang sampah ke sungai dan menghindari penggunaan sabun di dalamnya. Sebagai gantinya, membawa air ke daratan untuk keperluan mandi.

Meski dilindungi oleh kepercayaan lokal, Bukit Pensimoni sesungguhnya tidak bebas dari ancaman. Awal tahun 2000-an, lonjakan harga kayu keras menjadikannya target para penebang liar dari luar wilayah. Hanya berjarak kurang dari dua kilometer dari desa, tepi hutan telah berganti menjadi lahan gundul. Di sekitar area tersebut, ekspansi perkebunan kelapa sawit terus berlangsung.

“Hutan adalah kehidupan bagi kami,” tutur Kepala Desa, Irwan Jafar. “Kami tak sanggup membiarkan Bukit Pensimoni berubah menjadi lahan kelapa sawit.”

Ia dan warga sekitar khawatir perambahan akan segera menyasar wilayahnya, sehingga kini giat menyusun dokumentasi untuk memperkuat klaim bahwa hutan di sekitar desa layak dilindungi berdasarkan hukum adat. Harapannya, pemerintah kabupaten dapat segera menetapkan delapan kawasan hutan adat sebagai wilayah resmi yang bebas dari pembangunan. Upaya ini diharapkan berhasil sebelum Bukit Pensimoni, hutan yang dianggap suci, dirusak demi keuntungan ekonomi sesaat.

Visited 11 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *