Kontroversi dan Ketegangan: Dampak ISIS Masa Kini

warga Indonesia bergabung ISIS

Para pengamat menganggap ISIS ancaman serius bagi keamanan. Kelompok itu berhasil menarik ratusan pejuang muda dan relawan jihad dari berbagai wilayah. Keberhasilan mereka di medan konflik dan seruan pendirian kekhalifahan memicu gelombang solidaritas, menyatukan kelompok jihad yang sebelumnya terpecah. Kelompok itu menjadikan Suriah dan Irak pusat pelatihan generasi baru jihadis yang akan kembali ke Indonesia dan Asia Tenggara.

Gagasan pembentukan Darul Islam sebagai negara Islam memiliki latar sejarah yang kuat. Pada 7 Agustus 1949 Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo menyatakan diri imam Negara Islam Indonesia. NII adalah gerakan separatis yang menentang kepemimpinan Soekarno. Sebelumnya NII menyusun sistem politik berbasis Islam dan menetapkan Al-Quran serta hadits sebagai sumber hukum tertinggi. Empat tahun kemudian Daud Beureueh, pemimpin Aceh, bergabung dan menjadi gubernur sipil serta militer NII. Ia mengklaim Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia.

NII muncul saat revolusi nasional ketika Republik Indonesia mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda merebut kembali kekuasaan. Kartosuwiryo berusaha mendirikan negara Islam tetapi mendapat penolakan keras dari pemimpin republik dan ulama berpengaruh. Konflik itu kemudian berkembang menjadi kekerasan bersenjata. Di Jawa Barat, gerilyawan NII menyerang pemerintah, institusi pendidikan Islam, dan membunuh tokoh agama yang menolak bergabung. Para gerilyawan NII membakar hidup-hidup Kiai Entoh di pesantrennya di Nangkaleah, Tasikmalaya. Kekejaman ini membuat sebagian masyarakat Sunda menyebut Darul Islam “Duruk Imah”, artinya pembakar rumah.

Meski militer berhasil menumpas Darul Islam di bawah Kartosuwiryo, ide pendirian negara Islam tidak sepenuhnya hilang. Pada tahun 1970-an, Abu Bakar Ba‘asyir bergabung dengan NII dan kemudian mendirikan Pesantren Al Mukmin di Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada tahun 1993, sejumlah alumninya membentuk Jemaah Islamiyah (JI), kelompok yang bertanggung jawab atas serangan bom Bali sembilan tahun kemudian, menewaskan lebih dari 200 orang—mayoritas warga Australia.

Veteran Konflik

Beberapa tokoh penting dan pasukan inti dalam Jemaah Islamiyah (JI) merupakan veteran konflik Afghanistan melawan Uni Soviet. Contohnya, Nasir Abas—yang awalnya direkrut oleh NII untuk bergabung dalam pertempuran di Afghanistan—kemudian menjabat sebagai pemimpin operasional senior JI. Sejumlah pejuang Asia Tenggara lainnya bergabung dengan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Kamp Saddah, yang dalam pengelolaan Tanzim Ittihad-e-Islamy di bawah komando Abdul Rasul Sayyaf. Usai perang, kembali ke negara asal seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand, namun tetap mempertahankan jaringan jihad yang telah terjalin selama di medan konflik luar negeri.

Pada dekade 1990-an, sejumlah veteran jihad berhasil merekrut mahasiswa dan cendekiawan muslim di Asia Tenggara, menciptakan tantangan serius terhadap penyebaran ideologi jihad dan gagasan kekhalifahan yang berkaitan dengan konflik di Suriah dan Irak. Rodger Shanahan mencatat sebagian besar pejuang asing asal Eropa di Suriah tidak berencana kembali; mereka yakin akan gugur sebagai martir atau menetap dalam kekhalifahan. Namun demikian, sebagian darinya kemungkinan besar akan kembali ke negara asal, dan negara berkembang dengan kapasitas keamanan yang terbatas berisiko menghadapi kesulitan besar dalam menangani kepulangan para jihadis ini.

Pengaruh ISIS meningkat tajam setelah pemimpinnya, Abu Bakr al-Baghdadi, mengeluarkan seruan jihad. Pada tanggal 23 Juli 2014, merilis video propaganda berjudul Join the Ranks di YouTube, berdurasi delapan menit, dengan target audiens warga Indonesia. Sumber intelijen menyatakan video itu menampilkan Bahrumsyah, teroris yang terkait Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Intelijen memperkirakan ratusan pejuang Asia Tenggara, terutama dari Indonesia, berangkat ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan kelompok itu.

Dukungan Jihad

Sejumlah tokoh jihad menyatakan dukungan kepada Abu Bakr al-Baghdadi. Mochammad Achwan, pejabat sementara Ketua JAT, mengatakan Abu Bakar Ba’asyir menginstruksikan pengikutnya bergabung dengan ISIS untuk mempertahankan kekhalifahan. Dukungan Ba’asyir terhadap ISIS memicu ketegangan di dalam JAT. Beberapa anggota, termasuk dua putranya, menolak arah itu dan mendirikan Jemaah Ansharus Syariah (JAS). Meski terjadi perpecahan, seruan Ba’asyir tetap menarik kelompok jihad kecil dan independen di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Santoso, pimpinan MIT dan salah satu jihadis paling diburu, menyatakan dukungan kepada ISIS. Ia merekrut pejuang lokal untuk terlibat dalam konflik sektarian di Poso yang menewaskan ribuan orang.

Beberapa kelompok jihad independen yang berada di bawah pengaruh Aman Abdurrahman turut menyatakan dukungan terhadap Abu Bakr al-Baghdadi. Dari balik penjara, Aman aktif menulis blog dan menyebarkan artikel karya ulama yang berafiliasi dengan al-Qaeda—sumber utama radikalisasi. Tulisan-tulisan tersebut dibahas oleh para pengikutnya di sekolah, masjid dan komunitas keagamaan. Pihak kepolisian Malaysia menyebut bahwa ajaran Aman, bersama ajaran Ba‘asyir, telah mendorong sejumlah pemuda untuk berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. Fenomena ini memperkuat peran signifikan penjara dalam proses rekrutmen kelompok jihad.

Penolakan terhadap pengaruh ISIS semakin menguat. Dua organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, secara terbuka menyatakan bahwa ajaran serta tindakan ISIS bertentangan dengan nilai-nilai inti Islam dan Pancasila—ideologi negara yang menekankan monoteisme, humanisme, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial tanpa memihak agama tertentu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menjelang akhir masa jabatannya, menegaskan bahwa Indonesia bukanlah negara Islam dan menjunjung tinggi keberagaman berlandaskan Pancasila. Di saat yang sama, organisasi masyarakat muslim aktif mengadakan kajian, seminar dan diskusi guna mengatasi radikalisme dan terorisme. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen Presiden Joko Widodo untuk memperkuat kelompok Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, juga menekankan bahwa ISIS telah menyimpangkan nilai dasar Islam demi ambisi politik dan militernya.

Negara Islam

Upaya untuk mendirikan negara Islam telah berlangsung sejak tahun 1949, dimulai dengan gerakan separatis NII yang disertai aksi kekerasan terhadap warga sipil. Setelah pasukan gerilya NII ditumpas, Indonesia terus menghadapi gelombang kekerasan ekstremis yang berkaitan dengan cita-cita tersebut, kerap dilakukan oleh militan yang telah memperoleh pengalaman tempur dari konflik di dalam maupun luar negeri.

Kampanye pendirian Darul Islam masih berlangsung, didorong oleh kemenangan ISIS di medan tempur dan seruannya untuk jihad global, yang turut mempersatukan berbagai kelompok jihad di sejumlah wilayah. Para veteran konflik, termasuk jihadis yang kini dipenjara karena tuduhan terorisme, tetap berperan aktif dalam proses radikalisasi dan perekrutan generasi muda. Di sisi lain, tren ekstremisme ini mendapat perlawanan luas dari organisasi Islam terbesar, tokoh-tokoh muslim moderat dan kelompok masyarakat sipil. Respons ini diharapkan memperkuat kebijakan pemerintah dalam menangani radikalisme dan terorisme. Namun, mengingat karakter transnasional dari ancaman ISIS, strategi penanggulangannya juga membutuhkan kerja sama regional dan internasional yang lebih intensif.

Visited 5 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *