Tiga abad silam, kehidupan orang Indonesia dan Belanda saling bersinggungan. Leluhur dari Belanda—sering dalam kondisi sangat sulit—menyeberangi samudra dan menetap di berbagai wilayah asing yang belum mereka kenal. Mereka berlayar ke Amerika, Jepang, China, ke Barat dan Timur, hingga akhirnya menemukan negeri terindah di matanya: Indonesia.
Pada 1888 Adriaan van Os dan istrinya meninggalkan Belanda menuju Hindia Belanda. Ia bekerja sebagai guru dan di Batavia (kini Jakarta) mereka memiliki tiga anak. Putra bungsu mereka, Koos van Os (Jacobus Johannes), lahir pada 26 Oktober 1894. Sekitar 1920, setelah menempuh pendidikan di Belanda, Koos kembali ke Hindia Belanda dan selalu menganggapnya sebagai tanah air. Pada 7 Desember 1923 Koos menikah dengan Jane Elisabeth Leonie Dom (Lizzy) di Yogyakarta.
Kakek buyut Lizzy dari garis ayah, Jacobus Dom, lahir di Antwerp pada 12 Juni 1752. Pada 1773 ia tiba di Timur sebagai serdadu kolonial dengan kapal De Harmonie. Ia menikahi Srima van Medono yang lahir di Yogyakarta. Jacobus Dom meninggal pada 1810 dan keluarganya menguburkan dia di pemakaman tua belakang pasar. Kakek buyut Lizzy dari garis ibu, Pereira, adalah seorang Portugis yang pergi ke Makau, China. Di sana ia menikahi seorang perempuan China, lalu mereka bersama keluarga tiba di Surabaya. Di Surabaya salah satu putra mereka mendirikan pabrik es pertama.
Koos van Os meninggal pada 22 Februari 1934 di Linggadjati (kini Linggarjati), lalu keluarganya menguburkan dia di Cheribon (kini Cirebon). Saat itu usianya baru 39 tahun.
Selama pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, seluruh surat dan dokumen hilang. Bob Bar menyimpan buku harian yang menjadi sumber sebagian besar informasi. Bob Bar, paman Mgr. R.Ph. Bar yang terkenal di Belanda, menjabat sebagai pemegang kuasa Technisch Bureau J.J. van Os dan N.V. Algemene Industrieele Maatschappij (Algim) yang berkedudukan di Cheribon.
Posisi Penting
Menurut catatan harian Bar, Cheribon (kini Cirebon) menempati posisi penting di Provinsi Jawa Barat. Pada 1931 provinsi ini berpenduduk hampir dua juta jiwa, termasuk sekitar 3.000 orang Eropa dan 80.000 orang China. Masyarakat mengenal dataran rendah di pesisir utara sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Jawa. Di kawasan ini berdiri 10 pabrik gula dan sebuah pabrik spiritus metilasi berskala besar yang mengolah sirup gula, limbah dari industri gula. Ibu kota Cheribon—berpenduduk sekitar 82.000 jiwa, termasuk 1.500 orang Eropa—antara lain menampung Mestfabriek Java yang besar. Setiap hari beberapa gerbong mengirim tulang sapi dari seluruh Jawa ke pabrik tersebut untuk diolah menjadi tepung tulang, dan dengan tambahan fosfat kaya mineral dari pegunungan selatan pabrik ini memproduksi pupuk kimia untuk kebutuhan seluruh kepulauan.
Kekurangannya terletak pada bau menyengatnya; meski berada di tepi laut, saat angin utara bertiup aromanya menyebar ke banyak wilayah kota. Di pusat kota Cirebon juga berdiri B.A.T. (British American Tobacco Company) yang sangat berpengaruh, sebagai pabrik rokok terbesar di Hindia Belanda.
Cheribon dahulu berfungsi sebagai pelabuhan penting, terutama bagi wilayah pedalaman seperti Preanger timur yang padat penduduk—Tjiamis, Tasikmalaja dan Garut. Kota ini berada di antara dua pusat utama di pantai utara Jawa, sekitar 250 km di timur Batavia dan 240 km di barat Semarang, serta memiliki jaringan kereta api dan jalan raya yang memadai ke empat penjuru.
Endapan lumpur dan gosong pasir menutup pelabuhan ini, seperti di pelabuhan lain di pesisir utara Jawa, sehingga hanya kapal-kapal pesisir yang dapat singgah. Kapal besar harus berlabuh di lepas pantai, terlindungi oleh Tanjung Indramajoe yang menjorok jauh, agar gelombang tinggi tidak mengganggu bongkar muat. Tagalsch Prauwenveer menyediakan armada besar perahu pengangkut udang—mirip tongkang Rhine—untuk membawa muatan kapal ke pelabuhan dan gudang bea cukai.
Perkenalan Pertama
Bar mengenang perkenalan pertamanya dengan Linggarjati: surat kabar harian tiba di Cheribon pukul lima sore, saat Koos van Os menjemputnya. Mereka langsung bertolak ke Linggadjati (kini Linggarjati), desa pegunungan sekitar 35 km dari Cheribon (kini Cirebon) di lereng Tjeremai/Gunung Ciremai setinggi 3.078 m; perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Di sana ia bertemu keluarga Van Os: istri Koos, Lizzy, serta dua putrinya, Cora dan Joty (Wim belum lahir saat itu). Koos telah membeli sebidang lahan di Linggadjati dengan sebuah rumah panggung bercuaca indah dan halaman luas. Ia kemudian mengganti struktur rumah menjadi bangunan bata dan memperluasnya beberapa meter di sekelilingnya. Karena keluarga masih menempati rumah, pekerjaan berlangsung bertahap, namun hasil perluasannya sangat memuaskan.
Bar menulis bahwa tim Van Os mengunjungi Tegel- en Betonwarenfabriek Elenbaas, pabrik ubin dan beton. Setelah Elenbaas wafat, jandanya menyetujui agar Van Os mengambil alih usaha yang berkembang di sebelah rumah. Pabrik ini mempekerjakan mandor muda bernama Katjong; Elenbaas mendidiknya sejak kecil. Katjong menunjukkan kapasitas manajerial: ia menguasai seluruh proses kerja dan membimbing para pekerja dengan sangat efisien. Perusahaan mengoperasikan empat mesin pres ubin manual Prancis yang tua, tetapi tetap memproduksi ubin lantai berkualitas tinggi. Perusahaan membuktikan kualitasnya saat menerima pesanan penting; Sultan Kasepuhan meminta mereka memasang lantai baru di pintu masuk salah satu kraton karena ia tidak puas dengan ubin lama.
Kemitraan Dagang
Pabrik genteng dan beton di Cheribon serta penggergajian kayu di Rembang menjadi unit industri pertama N.V. Algim. Technisch Bureau J.J. van Os, sebagai kemitraan dagang dari perusahaan‑perusahaan ini, memasarkan produk Algim di wilayah yang memungkinkan. Portofolionya meliputi bahan bangunan, engsel dan kunci, perlengkapan sanitasi, pipa dan tabung serta berbagai produk lain. Untuk lini bahan bangunan, Van Os bertindak sebagai agen distrik beberapa importir ternama—antara lain W.J. Stokvis di Batavia, sebuah perusahaan di Soerabaja, serta Orenstein & Koppel (importir material rel sempit). Awalnya Orenstein & Koppel mengirim Van Os ke Hindia Timur karena perannya sebagai eksportir perlengkapan rel sempit—sebuah agen yang krusial mengingat banyaknya pabrik gula dan perusahaan perkebunan di kawasan ini. Pasar sangat menyukai aneka barang yang jual Technisch Bureau jual.
Van Os mengarahkan fokus perluasan pertama ke sektor pertambangan. Pegunungan di selatan Cheribon menyimpan mineral kaya—fosfat, kaolin, batu alam—yang Van Os gemari dan tekuni. Meski perusahaan baru ini belum melakukan pengiriman sehingga belum ada keluhan, harapannya Technisch Bureau van Os mampu bersaing. Pesaing utama saat itu Lindeteves Stokvis dan Carl Schlieper, dua organisasi besar dengan portofolio luas, namun lebih berfokus pada proyek berskala besar. Untuk layanan teknis seperti ini, produk kustom dari pabrik ubin dan beton menjadi kunci, terbukti melalui dua proyek penting di Cheribon.
Proyek Pertama
Departemen Telekomunikasi mengajukan proyek pertama untuk mengganti seluruh jaringan kabel telepon udara dengan kabel bawah tanah. Van Os menawarkan solusi efektif dan hemat: ia membangun saluran setengah terbuka yang dangkal dan menutupinya dengan pelat beton sehingga kabel terlindungi, tersembunyi, dan tetap mudah diakses untuk perbaikan. Departemen Pekerjaan Umum mengajukan proyek kedua untuk mengganti selokan dan parit terbuka dengan sistem pembuangan limbah yang layak. Setelah inspeksi menyeluruh, manajemen menunjuk divisi beton untuk mengerjakan proyek itu. Karena pipa pembuangan harus ditanam cukup dalam, tim menetapkan bahwa pipa harus memiliki kekuatan tinggi. Tanpa lembaga ilmiah untuk menguji kekuatan, tim melakukan improvisasi: mereka meletakkan lima pipa berdampingan, menutupnya dengan balok selebar rel kereta api sempit sepanjang lima meter, lalu menumpuk rel di atasnya hingga pipa patah sebagai tanda ambang kekuatan. Uji beban itu memuaskan, menghasilkan pesanan pipa sepanjang beberapa kilometer dan meningkatkan reputasi perusahaan di kota serta sekitarnya.
Produk lain yang ditawarkan mencakup pipa berdiameter 100 cm yang sangat dibutuhkan untuk penggalian sumur; tanpa pipa ini, dinding sumur rawan runtuh dan membahayakan pekerjaan. Inovasi tambahan termasuk cincin poros yang menghemat waktu dan biaya, serta sistem septik modern yang menggantikan praktik lama beserta seluruh kelemahannya—sebuah kemajuan besar bagi kota yang menghasilkan banyak pelanggan puas.
Mengenai wafat ayahnya, Bar menulis bahwa Koos van Os meninggal karena uremia di rumah sakit Cheribon. Kepergiannya begitu mendadak—bak petir di siang bolong. Ia pergi pada usia sangat muda, sehingga Bar tak sempat mengajukan serangkaian pertanyaan “mengapa” kepadanya: mengapa ia memilih menetap di Indonesia, mengapa Indonesia, dan seterusnya.
Jatuh Cinta
Seorang pemuda beremigrasi ke Asia, tepatnya Indonesia. Ia jatuh cinta—bukan hanya pada tanah air barunya, tetapi juga pada seorang gadis Indonesia. Karena cintanya kepada Lizzy, ia memilih tinggal di Indonesia alih-alih kembali ke Belanda. Keputusan ini memutus arus pandangan politik di Den Haag yang menyatakan, “Hindia Belanda harus dieksploitasi, bukan menjadi koloni tempat orang menetap.” Mungkinkah cara pandang ini, selain menunda emansipasi rakyat Indonesia, juga menunda emansipasi banyak pemukim Belanda dan komunitas Eropa‑Asia selama puluhan tahun, hingga akhirnya turut memicu penolakan Perjanjian Linggadjati?
Koos van Os mendedikasikan seluruh energi, pengetahuan dan pandangannya bagi tanah air barunya. Ia sosok yang praktis dan pragmatis, dengan semboyan, “Cukup bicara, saatnya bertindak.” Ia membangun sistem penyediaan air pertama di Linggarjati dengan pipa bambu, serta mengembangkan sistem pembuangan limbah dan jaringan kabel telepon di Cheribon. Kini Cheribon telah tumbuh menjadi kota berpenduduk lebih dari satu juta jiwa, dengan rencana menjadikannya beserta wilayah sekitar sebagai sebuah provinsi. Kabupaten Kuningan pun bermimpi menghadirkan Universitas Linggarjati. Tantangan yang harus diatasi di Cheribon—seperti di banyak kota Asia berpenduduk lebih dari 10 juta—sangat besar. Dalam dunia yang kian terhubung, persoalan-persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam batas teritorial semata.
Konferensi Linggadjati bukan semata kisah tentang negara, melainkan tentang manusia. Sjahrir, Schermerhorn, Lord Killearn dan Van Mook—para visioner yang juga realistis—menyadari saat itu momentum kelahiran Republik Indonesia telah tiba. Peristiwa ini akan dikenang sebagai tonggak awal lahirnya sebuah bangsa yang agung dan indah, dengan kebudayaan yang gemilang. Sebuah negeri di mana setiap warga layak berkata: “Saya bangga pada Indonesia dan saya mengabdikan seluruh energi, bakat dan upaya saya untuk tanah air.”
Tetap Penting
Mengapa Linggarjati tetap relevan hari ini? Sejak masa ketika namanya masih dieja Linggadjati, media dan teknologi modern telah mengubah dunia secara drastis: jarak terasa menyusut dan akses makin mudah. Kemakmuran dan kesejahteraan tidak sepatutnya terkunci di kawasan kecil seperti Amerika dan Eropa, sementara kultus uang kerap membutakan. Di luar pusat‑pusat industri, globalisasi sering tidak menghadirkan integrasi dan harmoni; sebaliknya, ia kerap memicu perubahan yang menyedihkan, mengikis budaya, bahasa, jaringan niaga tradisional dan kearifan visioner. Kini sekitar setengah dari kurang lebih 6.000 bahasa yang masih digunakan tidak lagi diwariskan kepada anak‑anak. Dalam satu generasi, kita menyaksikan lunturnya warisan sosial, spiritual dan intelektual umat manusia. Media berorientasi global menyeragamkan dunia dalam satu pola hidup, sementara pengaruh Barat yang tak selalu cocok meresap ke setiap desa dan kawasan kumuh di tiap negara dan provinsi, sepanjang waktu. Bahkan, Baywatch pernah menjadi program televisi paling populer di Papua Nugini.
Perjanjian Linggadjati bertujuan untuk demokrasi dan pluralisme. Yang kita butuhkan di abad ke-21 ini adalah pemahaman baru tentang pluralisme, demokrasi global sejati di mana budaya-budaya unik, baik besar maupun kecil, diberikan hak untuk eksis. Kita harus belajar hidup bersama. Yang kita butuhkan adalah deklarasi global tentang solidaritas dan saling ketergantungan. Kemudian semangat Linggadjati akan memberikan kontribusinya bagi abad ke-21.