Jumlah orangutan Sumatra kemungkinan lebih besar dari perkiraan, namun itu satu-satunya kabar baik dalam laporan terbaru. Penulis menekankan bahwa kehilangan habitat dan perburuan liar akan terus mempercepat penurunan populasi kera besar terancam punah.
Serge Wich dan tim peneliti internasional memperkirakan populasi orangutan Sumatra mencapai 14.600 individu, dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. Mereka menghitung kepadatan populasi melalui survei kerusakan sarang di berbagai jalur pengamatan di seluruh pulau. Hasil penelitian menemukan orangutan di wilayah baru, pada ketinggian lebih tinggi, serta hutan terdegradasi yang sebelumnya tidak tercatat.
Lebih penting daripada sekadar jumlah total adalah tingkat kepadatan orangutan di berbagai tipe hutan. Para peneliti menggabungkan perkiraan populasi dengan peta penggunaan lahan, menekankan populasi orangutan akan terus menurun drastis. Mereka memperkirakan kerusakan hutan dapat menyebabkan penurunan populasi antara 14 hingga 33 persen dalam 15 tahun mendatang.
Penelitian ini mengungkap bahwa orangutan Sumatra paling banyak menghuni hutan rawa gambut dan hutan dataran rendah di tanah mineral. Sebaliknya, peneliti menemukan jumlah orangutan lebih sedikit di hutan rusak dan kawasan dekat pemukiman manusia. Pembangunan jalan, penebangan hutan, serta alih fungsi menjadi lahan pertanian terus mengurangi populasi orangutan.
Menurut Wich, alih fungsi hutan luas menjadi perkebunan kelapa sawit dan penggunaan lahan lain menyebabkan orangutan hilang. Ia menambahkan, meskipun jumlah individu ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya, tren penurunan populasi tetap jelas terlihat.
Ekolog sekaligus Direktur Borneo Futures, Erik Meijaard, menyampaikan pandangan singkat mengenai data terbaru. Ia menjelaskan bahwa catatan kehilangan habitat dan tingkat pembunuhan membuat populasi orangutan menurun sekitar 25% setiap dekade. Meijaard menekankan bahwa jika populasi orangutan berjumlah 14.631, bukan 6.600, maka proyeksi hasilnya berbeda. Dalam sepuluh tahun mendatang, populasi orangutan hanya akan tersisa sekitar 823 individu, bukan 372. Fakta ini menunjukkan bahwa spesies tersebut semakin mendekati ambang kepunahan.
Dataran Tinggi
Penemuan orangutan di wilayah dengan ketinggian lebih tinggi dari perkiraan memang signifikan, namun hal ini tidak serta-merta menjadi dasar untuk bersikap optimis.
Wich menjelaskan bahwa belum ada kepastian mengenai sejauh mana orangutan di kawasan dataran tinggi bergantung pada wilayah dataran rendah sebagai sumber makanan. Jika ketergantungan tersebut besar, maka populasi orangutan di dataran tinggi pun terancam oleh deforestasi yang terjadi di dataran rendah.
Ahli ekologi Andrew Marshall, yang meneliti primata di Kalimantan, juga mengungkapkan kekhawatiran yang sejalan.
Marshall menekankan bahwa pengetahuan tentang populasi orangutan di dataran tinggi masih sangat terbatas. Berdasarkan data dari vertebrata lain, termasuk gibbon, hutan dataran tinggi kemungkinan besar bukanlah habitat jangka panjang yang memadai bagi banyak spesies. Individu mungkin hanya memanfaatkan kawasan itu secara musiman atau menghuni dalam jumlah kecil, tetapi kualitasnya tidak mampu menopang populasi stabil tanpa keterhubungan dengan hutan dataran rendah yang lebih baik. Marshall sendiri tidak terlibat dalam penelitian ini.
Peneliti berusaha mengumpulkan data tepat dan bermanfaat tentang satwa pemalu serta sulit mereka jumpai seperti orangutan. Orangutan biasanya membuat sarang tidur pada malam hari, dan peneliti masih dapat menemukannya meski hewan sudah berpindah. Dengan menghitung jumlah sarang di jalur pengamatan dan mencatat tingkat kerusakannya, peneliti dapat memperkirakan populasi individu yang ada di kawasan tersebut.
Metode sensus tidak langsung ini dapat menimbulkan margin kesalahan besar, sehingga peneliti melengkapinya dengan kajian mendetail tentang laju pembuatan dan kerusakan sarang di tiap lokasi. Penulis menggunakan angka pembangunan sarang sebesar 1,8 per individu berdasarkan studi sebelumnya. Mereka menghitung tingkat peluruhan sarang melalui pengamatan di lima lokasi berbeda di Sumatra, dengan rentang waktu 143 hingga 502 hari sampai sarang benar-benar hilang.
Sarang Orangutan
Dalam penelitian ini, tercatat sebanyak 3.166 sarang orangutan di 259 jalur pengamatan dengan total panjang 305,8 km. Rata-rata ditemukan sekitar 9,98 sarang per kilometer, dengan variasi mulai dari tidak ada sarang sama sekali hingga mencapai 104 sarang per kilometer.
Walaupun metode survei sarang sering dipandang kurang akurat dan tidak selalu konsisten, pendekatan ini tetap menjadi instrumen paling efektif yang dimiliki peneliti untuk memahami tren populasi. Namun, sayangnya, variasi angka yang begitu besar justru dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan sebagai alasan untuk menunda tindakan konservasi yang mendesak.
Meijaard menyampaikan bahwa pejabat pemerintah kerap mengkritik komunitas konservasi orangutan karena sering merevisi perkiraan populasi. Para pengambil kebijakan acap kali beralasan, jika para ilmuwan sendiri belum bisa memastikan, bagaimana mereka dapat mengambil tindakan. Namun, menurut Meijaard, argumen semacam ini tidak relevan, mengingat pemerintah justru dengan mudah menyusun kebijakan besar dan membuat keputusan terkait penggunaan lahan berdasarkan pemahaman yang sangat terbatas mengenai manfaat dan kerugian nyata bagi masyarakat.