Pada 3 Juli 1945, pemerintah pendudukan Jepang di Hindia Timur mengeksekusi Profesor Achmad Mochtar dengan pedang. Ia memimpin Institut Eijkman di Jakarta, laboratorium medis bergengsi peraih Nobel, sebelum Kenpeitai menangkapnya pada Oktober 1944. Mochtar tampil sebagai ilmuwan dan dokter internasional, sekaligus menjalin kedekatan dengan elite nasionalis berpengaruh. Arus militer dan politik yang keras berpadu dengan faktor teknis rumit. Semua itu melatarbelakangi eksekusi Mochtar. Sejarawan Theodore Friend menyebut peristiwa tragis ini sebagai kasus Mochtar. Peristiwa utama dalam kasus ini adalah kematian 900 romusha Jawa di kamp transit Jakarta pada Agustus 1944. Mereka meninggal akibat tetanus akut hanya tiga hari setelah menerima vaksinasi tifus, kolera dan disentri.
Kenpeitai menangkap Mochtar bersama sebagian besar staf ilmiah Institut Eijkman dan menyiksa mereka selama berbulan-bulan. Perlakuan kejam itu menewaskan seorang dokter. Setelahnya, Kenpeitai memaksa Mochtar menandatangani pengakuan. Mereka menuduhnya mencampurkan racun tetanus murni ke dalam vaksin romusha. Pada Juli 1945, Jepang menghukum Mochtar dengan pemenggalan kepala atas tuduhan tersebut. Pertanyaannya, apakah ia benar-benar memasukkan racun itu ke dalam vaksin? Mengungkap pelaku sebenarnya dan motif di baliknya membuka tabir rumit tragedi pembunuhan romusha serta ketidakadilan yang menimpa Mochtar.
Sejarah menyingkap karakter pendudukan Jepang. Masyarakat menyambut pasukan kekaisaran sebagai pembebasan sesuai ramalan Joyoboyo. Ramalan Joyoboyo menyebut bangsa kulit putih memerintah Jawa selama tiga abad. Setelah itu, bangsa berkulit kuning kecil berkuasa sepanjang hidup tanaman jagung. Para nasionalis bekerja sama dengan Jepang, melihat kemenangan atas Belanda sebagai jalan menuju kemerdekaan. Catatan sejarah menyoroti strategi awal yang tampak menguntungkan, namun mengabaikan kenyataan pahit setelahnya. Faktanya, sekitar empat juta jiwa tewas selama pendudukan tanpa perang besar atau serangan udara masif. Bagaimana tragedi sebesar itu bisa terjadi tanpa sorotan sejarah yang memadai?
Niat Kekaisaran
Hindia Belanda memiliki komoditas strategis melimpah, termasuk minyak, besi, timah, tembaga, batu bara, karet, kayu, dan kina. Populasi mencapai 70 juta jiwa, dengan 50 juta di antaranya tinggal di Jawa. Jepang segera menyusun rencana dan strategi untuk menguasai wilayah melalui kemenangan di Perang Pasifik. Angkatan Laut Jepang mengeluarkan instruksi rahasia yang menegaskan tujuan serta langkah penguasaan wilayah. Untuk memanfaatkan sumber daya, Jepang membutuhkan pembangunan infrastruktur dan tenaga kerja besar. Penjajah menggandeng elite politik lokal untuk menggerakkan tenaga kerja romusha. Propagandis Jepang mempromosikan korps romusha sebagai bentuk pengabdian sukarela demi lahirnya negara baru.
Soekarno, tokoh nasionalis berpengaruh, menjadi perekrut utama romusha. Jumlah pekerja mencapai empat hingga 10 juta orang. Sekitar 20% direkrut sukarela, sisanya melalui paksaan militer. Mayoritas berasal dari desa-desa Jawa dengan janji makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan upah. Para perekrut menempatkan romusha di kamp dekat jalur kereta atau pelabuhan sebelum mengirim mereka jauh. Di kamp transit, perekrut memenuhi janji dengan menyediakan makanan, tempat tinggal, dan perawatan medis. Mereka melatih romusha untuk disiplin, kebersamaan, serta memberikan layanan dokter terampil. Masyarakat dan pemimpin politik mudah mengawasi lokasi kamp sehingga kekhawatiran tetap minim. Jepang memanfaatkan tenaga kerja besar untuk perang sekaligus memberi ruang loyalitas pemimpin lokal.
Domba untuk Disembelih
Romusha menanggung nasib sendiri begitu mereka menaiki kapal Jepang meninggalkan Jawa. Sebagian besar tidak bertahan lebih dari beberapa bulan. Laporan mencatat kondisi buruk: makanan minim, tempat tinggal sempit, dan kerja paksa tanpa henti. Jepang tidak menyediakan layanan medis untuk penyakit tropis, bahkan menambah penderitaan dengan pemukulan atau eksekusi singkat. Dari 280.000 romusha yang berangkat, hanya 52.000 kembali, sementara banyak lainnya tidak terdokumentasi. Jepang menyebarkan lokasi kerja paksa di Indonesia dan mengirim sebagian romusha ke Burma, Thailand, hingga Jepang. Catatan menunjukkan kematian tinggi: 90.000 di rel Cikotak dan 70.000 di jalur Pekanbaru. Dari 1.600 romusha di Noemfoor, pasukan McArthur hanya menemukan 251 orang hidup. Tingkat kematian romusha mencapai angka besar, meski jumlah pastinya sulit mendapat kepastian. Pada 1950-an, Indonesia menuntut ganti rugi 10 miliar dolar atas empat juta jiwa hilang. Jepang menolak tuntutan tersebut dengan alasan bukti tidak mencukupi.
Pengelolaan romusha di kamp transit Jawa merupakan manipulasi kejam melibatkan Jepang dan pemimpin politik lokal. Jika masyarakat mengetahui kondisi nyata, elite yang berkolaborasi dengan Jepang akan kehilangan dukungan dan memicu pemberontakan. Kekerasan brutal Jepang terhadap romusha merusak citra pendudukan yang mereka klaim demi kepentingan rakyat Indonesia. Fakta program romusha dan latar politiknya penting untuk memahami peristiwa awal Agustus 1944 di kamp transit Jakarta.
Kematian Massal di Kamp Transit Romusha Jakarta
Pada pukul sembilan pagi, Minggu 6 Agustus 1944, telepon berdering di Rumah Sakit Pusat Jakarta. Suara panik dari kamp transit romusha Klender meminta pertolongan medis segera. Petugas menemukan ratusan romusha meringkuk dengan posisi tubuh aneh sambil merintih kesakitan. Tim dokter segera menyelidiki dan awalnya menduga wabah meningitis. Mereka menyingkirkan dugaan meningitis setelah mengetahui romusha baru menerima suntikan vaksin beberapa hari sebelumnya. Tim lalu mencurigai tetanus akut sebagai penyebab utama. Dari sekitar 900 orang terjangkit, mereka segera membawa 90 tanpa gejala kaku otot ke rumah sakit. Dalam 24 jam, seluruh pasien meninggal akibat dugaan tetanus akut meski mendapat terapi plasma antitoksin. Tim mengirim sampel jaringan post mortem ke Institut Eijkman untuk diperiksa di laboratorium bakteriologi. Analisis laboratorium mengonfirmasi diagnosis tetanus dan menunjukkan vaksin buatan Jepang mengandung racun tetanus murni.
Bakteri Clostridium tetani menghasilkan racun tetanus, dan justru racun inilah yang menimbulkan kematian akibat tetanus akut, bukan bakterinya sendiri. Laporan cermat dan jujur Mochtar memaksa Jepang menjelaskan vaksin mereka yang mengandung toksin mematikan. Tragedi ini menewaskan 900 romusha di Klender. Dr. Ali Hanafiah menuliskan peristiwa itu dalam memoarnya setelah selamat dari penganiayaan. Mohammad Hatta memperkuat kesaksiannya melalui wawancara dengan Theodore Friend pada 1960-an. Sumber-sumber lain juga mendukung kebenaran peristiwa tragis tersebut.
Beberapa jam setelah mengevakuasi 90 romusha, Jepang segera menutup kamp Klender. Mereka menolak permintaan mengirim lebih banyak pasien. Tentara Jepang memindahkan jenazah dari rumah sakit dan menguburkannya massal bersama korban di Klender. Kenpeitai melakukan penyelidikan sepanjang Agustus hingga September, lalu melancarkan penangkapan awal Oktober. Mereka menangkap dua dokter dinas kesehatan kota, atasannya Dr. Marzoeki, serta staf ilmiah Institut Eijkman. Dr. Marzoeki selamat dan menulis memoar tentang kekejaman penjara Kenpeitai. Nanny Kusumasudjana, teknisi laboratorium Mochtar, masih hidup tahun 2015 dan memberi kesaksian langsung tentang pengalamannya.
Konspirasi, Penyiksaan dan Pembunuhan
Kenpeitai memaksa pengakuan tahanan medis dengan penyiksaan brutal. Mereka memukul, menyiksa dengan papan cuci, menyiksa menggunakan air, membakar, menyetrum, menggantung lama, dan memberi makanan minim. Kekejaman berlangsung dua bulan hingga siksaan menewaskan seorang dokter. Beberapa orang selamat mengingat penjaga memamerkan jenazah Dr. Arief yang mengalami mutilasi di depan sel pada Desember 1944. Tubuhnya penuh luka bakar rokok, wajah hancur akibat pukulan, dan kaki rusak parah karena penyiksaan papan cuci.
Sekitar seminggu kemudian, para penyintas mengenang kesempatan langka ketika mereka berbincang dengan sesama tahanan. Dalam momen itu, Prof. Mochtar berkata penderitaan segera berakhir. Ia menegaskan mereka akan pulang dan bertemu keluarga masing-masing. Namun, ia menegaskan bahwa ia tidak akan bebas dan kemungkinan besar tidak akan selamat. Mochtar menukar tanda tangannya pada pengakuan sabotase vaksin di Klender demi kebebasan rekan-rekan serta bawahannya.
Benar saja, pada akhir Desember hingga Januari Jepang membebaskan semua tahanan atau memindahkan mereka ke penjara umum. Jepang juga memindahkan Marzoeki dan dokter dinas kesehatan Suleiman Siregar yang akhirnya meninggal akibat luka penyiksaan. Tujuh bulan setelah itu, Kenpeitai mengeksekusi Mochtar di sebuah lokasi terpencil di tepi laut Jakarta.
Jepang tidak pernah memberi tahu keluarga Mochtar tentang kematiannya, dan keluarga baru sadar setelah ia tidak kembali. Masyarakat membutuhkan puluhan tahun untuk mengungkap kebenaran bahwa Mochtar tidak bersalah dalam tragedi Klender. Trauma peristiwa itu dan perjuangan berdarah melawan Belanda perlahan meredupkan kejayaan Institut Eijkman hingga ditutup pada 1965. Presiden Soekarno tetap menegaskan keterlibatan Mochtar dalam pembunuhan massal, sementara komunitas medis bersama Mohammad Hatta menolak pengakuan paksa Jepang.
Ketidakadilan
Pada dekade 1970-an, Presiden Soeharto menganugerahkan medali nasional bergengsi secara anumerta kepada Mochtar dan pemerintah menamai sebuah rumah sakit besar di Padang dengan namanya; para pendukung Mochtar menegaskan bahwa vaksin buatan Jepang cacat dan bukan hasil sabotase; sementara Hanafiah, seorang penyintas, menuliskan dalam memoarnya tahun 1976 bahwa Jepang sengaja membunuh romusha dengan menyuntikkan toksin tetanus ke dalam vaksin sebagai bagian dari eksperimen medis.
Dalam memoarnya, Hanafiah menyinggung sebuah artikel surat kabar Australia tahun 1951 yang melaporkan pengadilan kejahatan perang terhadap dokter angkatan laut Jepang, Nakamura Hirosato. Pada awal 1945 di Surabaya, pihak berwenang menuduhnya membunuh 15 tahanan yang mendapat hukuman mati dengan melakukan eksperimen menggunakan vaksin tetanus palsu. Transkrip persidangan yang baru ketemu pada 2010 mengungkapkan bahwa para pelaku menyuntikkan racun tetanus murni ke dalam tubuh manusia yang menjadi kelinci percobaan dengan alasan medis militer dan teknis yang mereka anggap meyakinkan. Nakamura, yang saat itu menjabat Kepala Ahli Bedah Armada Angkatan Laut Ekspedisi Laut Selatan ke-2 di Surabaya, bertanggung jawab atas kesehatan dan kesiapan lebih dari 100.000 pasukan Jepang di pulau-pulau terpencil.
Investigasi
Pada awal 1945, Jepang memperkirakan Sekutu akan segera melancarkan serangan amfibi besar-besaran dan Tokyo memerintahkan pasukannya melawan dengan segala cara. Mereka menganggap tetanus sebagai ancaman serius bagi prajurit yang terluka, sementara Nakamura tidak memiliki cukup pasokan plasma antitoksin—obat standar yang terbuat dari kuda yang mendapat paparan dosis kecil racun. Untuk mengatasi kekurangan itu, Nakamura mencoba membuat vaksin sendiri dengan memodifikasi racun tetanus secara kimia menjadi toksoid, teknologi yang kini dunia gunakan dalam vaksin modern. Setelah melakukan dua kali vaksinasi eksperimental terhadap 17 tahanan, timnya menguji efektivitas vaksin dengan menyuntikkan racun tetanus murni ke tubuh para tahanan sehat yang sudah mendapat vaksinasi. Hanya dua orang yang selamat setelah mendapat terapi plasma antitoksin intensif. Di pengadilan, Nakamura bersama laksamana dan petugas hukum lain mengakui bahwa eksperimen ini bersifat kriminal, tetapi berdalih bahwa kondisi strategis militer yang mendesak memaksa mereka melakukannya.
Tenaga medis militer Jepang di Bandung mengurus kesehatan dan kesiapan puluhan ribu prajurit di Jawa dan Sumatra menjelang pertempuran besar. Berbeda dengan Nakamura, mereka mengoperasikan fasilitas produksi vaksin paling modern di Asia Tenggara, yaitu laboratorium Institut Pasteur Bandung yang Belanda bangun antara 1896 hingga 1942. Dalam kesaksiannya, Nakamura menyatakan bahwa ia meminta pasokan vaksin tetanus dari Bandung pada Januari 1945, tetapi tenaga medis di sana tidak menyediakan vaksin toksoid dan hanya memiliki persediaan plasma antitoksin yang sangat terbatas. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar karena sulit mendapat kepercayaan tenaga medis berpengalaman di Bandung tidak berusaha mengatasi ancaman tetanus yang begitu mendesak.
Masuk Akal
Penjelasan yang lebih masuk akal menyebut bahwa para dokter militer Jepang melakukan eksperimen di Klender untuk menguji efektivitas vaksin toksoid tetanus dengan menjadikan romusha sebagai subjek percobaan. Hasil tragis dan konsekuensi politik serius memaksa mereka menghentikan eksperimen pada manusia tanpa sempat mengetahui alasan kegagalan vaksin melindungi romusha. Ketika Nakamura tiba pada Januari 1945, tentara Jepang baru saja merampungkan konspirasi untuk menutupi kematian massal di Klender. Komando Tinggi kemungkinan besar memutuskan larangan eksperimen tetanus lebih lanjut, sementara Jepang menahan para pelaku konspirasi. Tragedi Klender pun menjadi titik akhir mendadak bagi upaya vaksinasi tetanus Jepang.
Berbagai bukti fisik, kesaksian tertulis, temuan ilmiah, serta konteks strategis militer dan medis, apalagi perilaku Jepang yang terdokumentasi dalam kasus Mochtar, menegaskan bahwa para dokter militer melakukan eksperimen medis di Klender. Mereka bertujuan memperoleh bukti langsung dan meyakinkan bahwa vaksin toksoid tetanus yang mereka siapkan untuk pasukan Jepang mampu melindungi dari tetanus akut. Analisis teknis mendalam atas dugaan kesalahan produksi vaksin di Bandung menyingkirkan kemungkinan kelalaian sebagai penyebab tragedi Klender. Eksperimen medis yang menewaskan romusha ini mengancam hubungan politik kompleks antara penguasa kolonial dan pihak yang terjajah, yang sebelumnya terjalin melalui kerja sama dalam mobilisasi romusha. Untuk menutupi masalah besar tersebut, Kenpeitai menyebarkan narasi sabotase sebagai jalan keluar.
Unit 731
Berbagai literatur mencatat kekejaman Unit 731 Angkatan Darat Jepang di bawah pimpinan Ishi Shiro, yang menunjukkan upaya intensif dalam mengembangkan sekaligus menyebarkan senjata biologis. Unit khusus ini berdiri di Pingfang dekat Harbin, Tiongkok pada 1930-an dan tidak hanya meneliti senjata biologis, tetapi juga mengejar isu-isu medis militer yang lebih luas serta mengembangkan program kedokteran preventif. Seiring meluasnya perang, Ishi memimpin jaringan penelitian medis yang berkembang ke berbagai wilayah, termasuk Tiongkok, Filipina, Singapura, dan Indonesia. Para peneliti melaksanakan banyak penelitian dengan metode kejam yang identik dengan eksperimen senjata biologis, mencakup studi tentang radang dingin, perendaman dalam air dingin, ketahanan terhadap kelaparan, pengganti darah, hingga vaksinasi. Pada akhirnya, Ishi mengendalikan hampir seluruh aspek penelitian medis militer Jepang selama perang dan sepenuhnya memanfaatkan kecerdasan serta kapasitas besar yang dimiliki dunia biomedis Jepang.
Identitas komando unit medis militer yang mengambil alih Institut Pasteur di Bandung pada 1942 tidak pernah diketahui publik, karena seluruh catatan aktivitas di fasilitas itu selama masa perang dimusnahkan sebelum kedatangan pasukan Sekutu pada September 1945. Sebelum perang, Institut Pasteur telah berkembang menjadi pusat penelitian dan produksi vaksin paling maju di Asia Tenggara, memasok berbagai vaksin dalam jumlah besar—mulai dari wabah, kolera, disentri, tifus hingga rabies—yang digunakan di banyak wilayah. Nilai strategisnya bagi kepentingan kedokteran militer dan kesehatan tropis jelas menarik perhatian Ishi dalam lingkup luas kerajaan riset medis yang ia pimpin.
Institut Pasteur
Selama pendudukan, Jepang secara terbuka menonjolkan investasinya di bekas Institut Pasteur, yang kemudian berganti nama menjadi Boeki Kenkyujo. Komandannya, Letnan Jenderal Matsuura Mitsunobu, bahkan menulis editorial di surat kabar lokal untuk memuji pencapaiannya. Namun, kepada siapa Matsuura melapor langsung dalam struktur komando medis militer—yang sering kali terpisah dari komando militer setempat—tetap tidak diketahui. Menurut salah satu sumber, Ishi sempat mengunjungi bekas Institut Pasteur di Bandung selama perang, dan jika dikaitkan dengan cakupan tanggung jawab Ishi yang lebih luas, bukti ini mengindikasikan bahwa Institut Pasteur kemungkinan dijalankan oleh tenaga medis militer di bawah otoritasnya.
Istilah Unit 731 pada dasarnya menjadi sebutan populer bagi jaringan medis Ishi Shiro, yang cakupannya jauh melampaui laboratorium besar di Pingfang, baik dari sisi wilayah maupun agenda penelitian medis. Kegagalan pemerintah Amerika Serikat secara hukum maupun moral untuk menyelidiki dan menuntut ribuan ilmuwan serta tenaga medis di bawah komando Ishi membuat struktur dan lingkup penuh Unit 731 terabaikan serta kurang dipahami dalam catatan sejarah. Sejarawan Jing-Bao Nie menyebut pengabaian ini sebagai bentuk kemenangan ketidakmanusiaan, dengan dampak yang sangat merusak bagi masyarakat modern, khususnya dalam bidang kedokteran dan etika.
Putusan
Kasus eksperimen medis di Klender pada 2015 bersifat tidak langsung, tetapi istilah tidak langsung tidak berarti tidak terbukti. Seperti seseorang yang bangun dan melihat halaman tertutup salju baru meski tidak menyaksikan turunnya salju, ia tetap dapat menyimpulkan secara logis bahwa salju turun saat ia tidur. Hamparan salju itu menjadi bukti tidak langsung yang sahih. Demikian pula, fakta-fakta dalam kasus Mochtar adalah salju dalam analogi tersebut. Tidak ada penjelasan rasional selain eksperimen medis yang sesuai dengan bukti, dan tidak pernah ada alternatif yang membebaskan dari pihak mana pun. Dalam hukum pidana, bukti tidak langsung yang kuat biasanya cukup untuk menjatuhkan vonis bersalah bila terdakwa tidak mampu menunjukkan bahwa bukti tersebut menyesatkan.
Tentara Jepang di Bandung secara tidak sengaja menewaskan romusha di Klender melalui eksperimen yang dimaksudkan untuk menguji efektivitas vaksin toksoid tetanus bagi pasukannya. Untuk menutupi ancaman terhadap program kerja paksa dan para kolaboratornya, mereka mengalihkan kesalahan kepada Institut Eijkman—satu-satunya laboratorium lain yang bisa memproduksi racun tetanus murni. Mochtar sendiri tidak membunuh siapa pun, bahkan rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan rekan-rekannya.
Ketidakadilan yang menimpa Mochtar dan para korban lainnya berakar pada kepentingan politik yang lebih luas serta kegagalan moral baik di Indonesia maupun di luar negeri. Faktor-faktor ini menghambat pengakuan, keadilan dan pencatatan sejarah atas kekejaman medis yang dilakukan Jepang. Kekejaman Unit 731 yang berlangsung selama lebih dari satu dekade di kawasan Asia-Pasifik hingga kini belum sepenuhnya dipahami ataupun diteliti. Lebih serius lagi, kegagalan moral besar untuk menyelidiki dan menghukum tindakan tersebut masih diabaikan oleh sejumlah pemerintah yang terlibat, sehingga masalahnya tetap belum terselesaikan. Kleinman, Nie dan Selden mengajukan pertanyaan mendasar: “Bagaimana kita mempertahankan kemanusiaan, etika, martabat manusia, hak asasi yang fundamental serta integritas profesi kedokteran dan sains ketika berhadapan dengan luka sejarah yang belum sembuh?” Kisah Mochtar menjadi contoh nyata dari persoalan ini, menyoroti ketidakadilan yang merugikan dan belum teratasi, sekaligus menegaskan pentingnya keadilan yang mampu memulihkan.
Warisan
Penganiayaan terhadap Mochtar pada dasarnya menjadi cara Jepang untuk mengalihkan tanggung jawab atas tragedi yang timbul dari tindakan egois tenaga medis militernya. Dalam konteks yang lebih luas, kisah Mochtar dapat disejajarkan dengan Perang Pasifik dan bagaimana Jepang modern memandang tanggung jawab atas perang tersebut. Museum Yushukan di kompleks Kuil Yasukuni, Tokyo, menegaskan bahwa para prajurit Jepang yang diperingati di sana dianggap gugur dalam Perang Pasifik yang mulia, sebagai bentuk pembelaan heroik terhadap tanah air dari kolonialisme Eropa. Kaum nasionalis Jepang menggambarkan bangsa Eropa sebagai penjajah asing yang harus dikalahkan demi sesama bangsa Asia. Pandangan ini sama kelirunya dengan anggapan bahwa Mochtar adalah pelaku pembunuhan massal, atau bahwa invasi Jepang ke Hindia Timur bertujuan membebaskan Indonesia, bukan menjajahnya.
Ketika kekalahan semakin tak terhindarkan, Jepang mengeksekusi Mochtar demi melindungi citra dan kepentingan politiknya. Perspektif pasca perang atas pendudukan tersebut justru menguntungkan Jepang, sekutu barunya Amerika serta para nasionalis yang berkolaborasi dalam membangun republik baru. Peristiwa dan motif di balik penganiayaan Mochtar menjadi aib, masalah sekaligus ancaman di kawasan Asia-Pasifik setelah perang. Namun, pada akhirnya, kebenaran tentang pengorbanan heroiknya terungkap dan mengembalikan martabat serta warisan seorang tokoh luar biasa.