Presiden yang Goyah di Setiap Keputusan

Duncan Graham menilai Jokowi

Duncan Graham menilai Jokowi tidak layak menempati posisi publik, meskipun ia tampak menarik saat mengenakan batik. Janji yang pernah ia gaungkan kehilangan daya tarik, sedangkan reputasinya belum cukup rusak untuk menghalangi peran efektif dalam politik nasional.

Masyarakat mengenal Joko Widodo karena penampilannya yang selalu rapi dan kecintaannya pada batik. Hampir setiap hari ia mengenakan batik dengan corak berbeda. Apa pun warna atau motifnya, busana tradisional itu tetap serasi di tubuhnya yang langsing dan bugar.

Megawati Soekarnoputri, mantan presiden dan tokoh utama PDIP, menyatakan bahwa ia tidak pantas berpolitik karena tubuhnya menurutnya terlalu kurus. Ia bahkan sempat menyelipkan komentar bernuansa Machiavellian dalam pernyataannya.

Jika Jokowi tidak duduk di kursi kepemimpinan, ia mungkin lebih cocok menjadi model di panggung mode. Orang menuntut seorang peragawan agar penampilannya menjadi perhatian, bukan suaranya.

Sebagai presiden ketujuh, Jokowi menyampaikan pidato yang justru meninabobokan alih-alih memberi semangat atau inspirasi. Soekarno, presiden pertama RI sekaligus ayah Megawati, menguasai unsur jeda penting dalam seni berpidato. Sosok Jawa yang terkenal pendiam menggunakan jeda dengan canggung. Pertanyaan muncul: apakah Jokowi kehilangan arah, kehilangan kendali atas catatannya, atau bahkan keduanya sekaligus.

Kekecewaan terhadap sosok yang berhasil meraih kursi kepresidenan lewat pemilu langsung 2014 dengan margin tipis bukanlah satu-satunya. Kemenangannya bukan karena identitas atau kualitas pribadinya. Ia berhasil karena tidak termasuk dalam oligarki korup yang lama merusak tata kelola negara.

Masyarakat menaruh harapan besar kepada mantan Gubernur Jakarta dan menganggapnya sahabat rakyat kecil karena kebiasaannya blusukan menyerap aspirasi secara langsung.

Orang-orang berasumsi ia akan menjadi seperti Lee Kuan Yew dalam memberantas korupsi. Mereka juga menganggapnya menyerupai Nelson Mandela yang penuh belas kasih terhadap isu sosial dan hak asasi manusia. Ia dipandang sebagai seorang reformis, meski bukan liberal—sebuah istilah yang kerap berkonotasi negatif, khususnya di kalangan umat muslim.

Jokowi Gagal

Masyarakat menganggap Jokowi gagal bersikap tegas terhadap para pemburu rente. Mereka juga menilai ia menggunakan alasan keliru dalam eksekusi terhadap para pengedar narkotika.

Dalam bidang ekonomi, sikapnya sering berubah-ubah, kadang proteksionis lalu mendukung perdagangan bebas. Ia sempat menentang Barat, namun kemudian membuka diri terhadap investor asing.

Sejumlah pendukung yang memahami strategi politik dan menyadari kekecewaan publik berusaha membangun kembali citra. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memimpin langsung beberapa langkah dalam upaya tersebut. Namun, alih-alih memperbaiki keadaan, upaya tersebut justru semakin memperburuk situasi.

Retno menjadi perempuan pertama yang menempati jabatan tersebut, sebuah keputusan yang cukup mengejutkan. Beredar kabar bahwa salah satu faktor yang mendukung kualifikasinya adalah kedekatannya dengan Megawati.

Orang menilai mantan Duta Besar untuk Belanda tidak memiliki kapasitas intelektual setara dengan Dr. Marty Natalegawa. Ia berupaya membangun citra Jokowi sebagai tokoh internasional. Namun, berbagai indikasi menunjukkan ia mengarahkan fokus kebijakan dan kepentingan pribadinya pada ranah domestik.

Dalam upaya menepis citra itu, Retno menyampaikan surat Jokowi berisi pesan perdamaian kepada Presiden Iran Hassan Rouhani. Ia juga mengirimkan surat serupa kepada Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz.

Para pihak tidak mengajukan inisiatif agar Indonesia berperan sebagai mediator dalam kesepakatan tersebut. Maka tidak mengejutkan bila perjalanan ini tidak menghasilkan apa-apa—Indonesia, layaknya Arab Saudi, merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim Sunni yang kerap meremehkan Syiah, agama utama di Iran.

Sepulang dari perjalanan ini, Retno—yang sepertinya menggagas ide tersebut—menceritakan maraton diplomasi sejauh 20.000 km tanpa menyinggung hasil konkret misinya. Ia menekankan pentingnya memastikan kawasan mayoritas muslim di Timur Tengah tetap damai, stabil, sejahtera, serta terus menggaungkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Langkah berikut dalam proses transformasi itu berlangsung saat kunjungan ke KTT AS-ASEAN pada bulan Februari, di mana presiden terlihat minim berbicara dan pencapaiannya pun semakin terbatas.

Kata Bijak

Salah satu tajuk berita tentang kunjungan kehormatan Jokowi kepada Choummaly Sayasone dari Laos berbunyi, “Jokowi menyampaikan kata-kata bijak.” Jokowi menanggapi kepemimpinan Laos sebagai ketua ASEAN dengan menyatakan keyakinannya bahwa kepemimpinan itu akan membuat ASEAN lebih maju dan berhasil.

Apabila Jokowi beranggapan bahwa mantan jenderal berusia 80 tahun, yang selama satu dekade terakhir memimpin Partai Revolusioner Rakyat di negara berhaluan Marxis-Leninis, mampu menanamkan semangat dan arah bagi ASEAN yang telah berusia 39 tahun, maka jelas ia membiarkan formalitas diplomatik menutupi kenyataan.

Ketika Jokowi dalam perjalanan menuju California, TV One—stasiun televisi milik konglomerat Aburizal Bakrie, rival tangguhnya pada pemilu 2014—menyiarkan wawancara eksklusif bersama sang presiden.

Acara tersebut ternyata hanya menghadirkan pertemuan singkat penuh keakraban dengan pengacara sekaligus eksekutif media, Karni Ilyas, serta menampilkan musik menghentak dan potongan klip untuk membangun citra tegas presiden.

Jokowi menyatakan bahwa persoalan infrastruktur menjadi penghambat kemajuan bangsa, namun ia tidak memberikan penjelasan jelas mengenai cara memperluas dan memperpanjang jaringan jalan secara cepat sebelum kemacetan berpotensi melumpuhkan perekonomian.

Jokowi terlihat sebagai pribadi yang hangat dan mudah berinteraksi, bukan sosok yang penuh semangat membara, melainkan tipe figur yang mungkin dipilih warga sebagai Ketua RT di lingkungannya. Ia akan menangani persoalan seperti kucing liar dan sampah dengan tenang, tanpa bersikap kasar atau berpihak, serta tidak menimbulkan kecurigaan bahwa ia akan menyalahgunakan dana iuran untuk proyek pengaspalan trotoar. Namun, ia juga bukan orang yang akan menggagas hal-hal baru.

Masyarakat kecil tampaknya tetap mendukungnya, sebab para mantan pesaingnya justru berada dalam kondisi yang lebih kacau dibandingkan Partai Republik di Amerika Serikat. Meski begitu, menganggap tidak ada intrik di negeri yang sejak lama sarat dengan konspirasi jelas merupakan sikap yang terlalu polos.

Kendali Utama

Disebut-sebut, kendali utama berada pada sosok Luhut Binsar Panjaitan, mantan jenderal bintang empat sekaligus Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Ia dikenal dengan cara berbicara yang lugas serta terasah melalui pengalaman di Amerika Serikat, dan riwayatnya mencatat adanya kerja sama bisnis di masa lampau bersama Jokowi.

Walau berasal dari kalangan militer, Luhut memilih gaya berpakaian yang sederhana. Saat mengenakan batik, penampilannya tampak kurang rapi, sehingga peluangnya untuk naik posisi dianggap kecil—terlebih lagi karena ia disebut-sebut tidak disukai oleh Megawati.

Untuk saat ini, Jokowi tampak tenang dan berada dalam posisi aman—selama ia memilih tetap di rumah dan tidak berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang berbeda.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *