Serangan Jakarta: Bukti Lemahnya Penanggulangan Terorisme

serangan Sarinah Jakarta Pusat

Dua minggu setelah serangan Sarinah, Jakarta Pusat, mulai terungkap identitas pelaku utama. Gambaran lebih jelas muncul mengenai keterlibatan mereka. Peristiwa ini juga menyingkap arti pentingnya bagi perkembangan gerakan jihad di kawasan tersebut.

Pada 14 Januari, empat orang pelaku melakukan serangan di pagi hari di kawasan ramai Sarinah, Jakarta.

Para pelaku meledakkan dua bom di kafe Starbucks dan pos polisi lalu lintas. Seorang pelaku meledakkan bom ketiga di wajahnya sendiri. Mereka melemparkan tiga granat rakitan ke arah polisi. Dua penyerang menembakkan senjata ke aparat dan warga sipil. Aksi tersebut menewaskan keempat pelaku dan empat warga sipil, termasuk seorang warga Kanada. Beberapa hari kemudian, pihak berwenang mengidentifikasi para pelaku sebagai Dian Juni Kurniadi, Ahmad Muhazan, Muhammad Ali, dan Sunakim alias Afif.

Beberapa elemen dalam serangan tersebut merupakan hal baru dalam operasi. Pertama, sebelumnya tidak pernah terjadi serangan besar yang melibatkan penggunaan senjata api atau granat. Penggunaan senjata api hampir pasti terinspirasi oleh serangan di Paris pada November 2015.

Lokasi serangan berada di pusat ibu kota yang ramai, hal ini tergolong tidak biasa. Banyak warga Indonesia bercampur dengan sedikit warga asing di sana. Sebelumnya, serangan biasanya menargetkan area dengan dominasi warga asing atau kehadiran mereka dalam jumlah besar. Tujuannya untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa di kalangan muslim.

Kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam (ISIS) secara resmi mendukung serangan pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Tak lama setelah aksi tersebut, ISIS mengklaim bertanggung jawab, dan hasil investigasi kemudian menegaskan bahwa para pelaku memiliki orientasi pro-ISIS.

Serangan ini terbilang amatir, dan para pelaku jelas merencanakan jumlah korban yang jauh lebih besar daripada empat warga sipil, mengingat ratusan orang berada di lokasi. Mereka kemungkinan berharap dapat menewaskan beberapa polisi dan warga asing, yang menjadi target utama.

Bahan Peledak

Bom-bom itu menggunakan bahan peledak berdaya rendah, jauh kurang canggih dan mematikan daripada bom Jemaah Islamiyah pada 2000–2009. Kedua pelaku penembakan menunjukkan ketidakterampilan dalam melancarkan aksinya. Mereka menghadapi banyak sasaran di sekitar lokasi, tetapi hanya menewaskan satu warga muslim. Jika bercermin pada serangan di Paris, aksi ini tampak jauh lebih lemah dan tidak efektif.

Beberapa jam setelah serangan berlangsung, pihak kepolisian menetapkan Bahrun Naim, seorang komandan senior ISIS di Suriah, sebagai otak di balik aksi tersebut. Pihak berwenang menganggap penetapan ini masuk akal, meski belum mempublikasikan bukti bahwa Bahrun memerintahkan operasi itu. Bahrun menunjukkan perbedaan dari pemimpin ISIS lainnya karena ia mendorong para jihadis menyerang pemerintah yang menurutnya tidak Islami dan kafir. Ia mengarahkan mereka melakukan serangan di tanah air, bukan berangkat ke Suriah atau Irak untuk berperang bersama ISIS.

Polisi menyatakan bahwa rivalitas dengan kelompok jihadis Filipina di Mindanao memotivasi Bahrun. Beberapa hari sebelum serangan Sarinah, kelompok itu menyatakan sumpah setia kepada IS dan mengklaim diri sebagai pusat kepemimpinan IS di kawasan tersebut. Namun, penjelasan ini kemungkinan besar bukan alasan utama yang mendorong terjadinya serangan itu.

Tidak mudah membayangkan bahwa pimpinan utama ISIS akan merasa terkesan dengan kelompok jihadis asal Filipina. Hanya sedikit muslim Filipina yang bergabung dengan barisan ISIS. Sebaliknya, muslim Indonesia dan Malaysia menyumbang sekitar 350 hingga 450 pejuang. Gerakan jihadis di Mindanao pun berlangsung tidak konsisten, lebih sering berwujud tindakan kriminal daripada berlandaskan ideologi Islam, sehingga kecil kemungkinan memiliki pengaruh di luar daerah terpencil di bagian selatan Filipina.

Sosok Utama

Dalam beberapa hari terakhir, pihak terkait menghadirkan versi peristiwa yang lebih meyakinkan. Majalah berita Tempo mengungkap Aman Abdurrahman sebagai sosok utama di balik serangan tersebut. Para pakar terorisme menilai Aman sebagai figur jihadis paling berpengaruh sekaligus berbahaya. Aman menerjemahkan dan menyebarkan gagasan baru dari Timur Tengah dengan cepat. Ia juga meyakinkan banyak orang untuk menerima tafsir paling ekstrem dari doktrin jihadis.

Pada tahun 2014, Aman menjadi salah satu jihadis pertama yang secara terbuka menyatakan dukungannya kepada ISIS, dan sejak saat itu ia berperan besar dalam menyebarkan ideologi kelompok tersebut. Di awal 2015, ia menyerukan agar berbagai kelompok pendukung ISIS bergabung dalam organisasi Jamaah Ansharut Daulah yang dia pimpin, lalu menginstruksikan pembentukan unit paramiliter tingkat distrik (asykari) sebagai langkah persiapan untuk melakukan serangan. Selain itu, Aman juga terkenal sebagai pembimbing bagi Bahrun.

Tempo, mengutip sumber dari aparat keamanan dan komunitas jihadis, melaporkan bahwa para pelaku serangan Sarinah sempat bertemu dengan Aman di dalam sel penjaranya sebanyak tiga kali pada tahun lalu. Dalam pertemuan itu, Aman mendorong mereka menyiapkan aksi serangan. Rois, rekan sesama tahanan yang dijatuhi hukuman mati atas pemboman Kedutaan Besar Australia 2004, turut hadir. Rois memberikan arahan teknis dan operasional kepada para perencana serangan. Selain itu, beberapa pelaku serangan Sarinah juga menjalani pelatihan di Jawa Barat pada akhir 2015, termasuk latihan penggunaan senjata api.

Kegagalan serangan Sarinah serta keterlibatan Aman Abdurrahman dan Bahrun Naim hampir dapat dipastikan menjadi indikasi bahwa aksi teror berikutnya, bahkan yang lebih mematikan, berpotensi terjadi. Bagi para jihadis pendukung ISIS, serangan Sarinah dianggap tidak berhasil karena jumlah korban yang relatif sedikit. Hal ini mendorong tekad mereka untuk melancarkan operasi dengan korban lebih banyak di masa mendatang. Aman dan Bahrun dikenal membawa militansi yang keras dalam gerakan jihad, dan mereka diyakini akan terus merekrut anggota baru demi kepentingan ISIS serta meyakinkan para pengikut mengenai pentingnya dan kebaikan dari serangan yang lebih brutal dan berkesinambungan.

Visited 9 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *