Korban tewas akibat banjir dan longsor besar di Asia Tenggara telah melampaui 400 orang pada Sabtu. Pada saat itu, tim di Indonesia, Thailand, dan Malaysia masih melaksanakan operasi pembersihan, pencarian, serta penyelamatan.
Hujan monsun deras mengguyur sebagian besar wilayah di tiga negara minggu ini, membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Banyak di antara mereka terpaksa bertahan di atap rumah sambil menunggu bantuan datang.
Tim penyelamat berusaha keras menjangkau wilayah terdampak paling parah di Pulau Sumatra, tempat lebih dari 270 orang masih belum ketemu.
Menurut data terbaru otoritas bencana pada Sabtu, banjir dan longsor telah merenggut lebih dari 300 korban jiwa.
Dari total korban, 166 tercatat di Provinsi Sumatra Utara, 90 di Sumatra Barat, dan 47 di Aceh.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menyatakan tim mengevakuasi puluhan ribu orang. Akses ke wilayah di tiga provinsi tetap terhambat.
Dalam konferensi pers, ia menyatakan tim melakukan operasi penyemaian awan di Sumatra Barat. Operasi itu bertujuan menekan intensitas hujan, yang sebagian besar mereda pada Sabtu.
Novia, warga Pidie, Aceh, menuturkan bahwa air di rumahnya sudah surut, tetapi lumpur masih memenuhi seluruh bagian rumah.
“Sejumlah barang di rumah mengalami kerusakan atau terjatuh, dan hingga kini kami belum sempat membersihkannya.”
Pria berusia 30 tahun itu mengatakan bahwa warga saling bergotong royong membersihkan lumpur.
Firda Yusra menuturkan ia bersama istri dan anak meninggalkan rumah untuk mencari perlindungan di masjid terdekat. Mereka bergabung dengan sekitar seribu orang lainnya.
Ia mengatakan bahwa di tempat itu mereka memakan apa pun yang ada.
Pembersihan di Thailand
Di Provinsi Songkhla, Thailand selatan, air setinggi tiga meter melanda wilayah tersebut. Banjir itu menewaskan 162 orang, menjadi salah satu yang terparah dalam 10 tahun terakhir.
Di sebuah rumah sakit di Hat Yai yang terdampak parah, para pekerja memindahkan jenazah ke truk berpendingin karena kamar mayat sudah penuh.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, meminta maaf atas kerusakan yang timbul oleh banjir.
Ia menegaskan pada Sabtu bahwa setiap kali terjadi kerugian, kematian atau luka-luka, hal ini selalu dianggap sebagai kesalahan perdana menteri.
Ia menegaskan akan mengerahkan seluruh kemampuan dan pengabdiannya untuk memperbaiki keadaan, sambil menetapkan tenggat dua minggu bagi proses pembersihan distrik tersebut.
Pemerintah Thailand mengumumkan program bantuan bagi korban banjir, termasuk pemberian kompensasi hingga dua juta baht bagi keluarga yang kehilangan anggota.
Menurut Wanchana Sawasdee, juru bicara pusat operasi bantuan banjir, lebih dari 40.000 orang mengungsi ke pos evakuasi, meski sebagian sudah kembali ke rumah masing-masing.
Kementerian Luar Negeri Malaysia menyampaikan bahwa lebih dari 6.000 warganya yang terjebak banjir besar di Hat Yai telah berhasil dievakuasi.
Di Malaysia, banjir yang menerjang sebagian wilayah utara Negara Bagian Perlis menyebabkan dua orang meninggal dunia.
Kritik Publik
Saat banjir di Thailand selatan mulai surut, pemilik toko Rachane Remsringam memilah sampah yang berserakan di lorong-lorong toko kelontongnya, sambil meratapi kerugian yang mencapai ratusan ribu dolar.
Kritik masyarakat terhadap penanganan banjir di Thailand kian menguat, dan dua pejabat daerah telah diberhentikan sementara akibat dugaan kelalaian.
Seorang legislator dari Partai Rakyat oposisi menyoroti pemerintah, menyatakan bahwa mereka keliru menilai keadaan dan melakukan kesalahan dalam penanganan krisis banjir.
Musim hujan yang datang setiap tahun, umumnya berlangsung dari Juni hingga September, kerap disertai curah hujan tinggi yang dapat memicu longsor serta banjir bandang.
Badai tropis semakin memperparah keadaan, dan jumlah korban banjir di Indonesia serta Thailand tercatat sebagai yang paling tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan iklim berdampak pada pola badai, baik dari segi lama maupun intensitas musim, sehingga menimbulkan curah hujan lebih deras, banjir bandang serta tiupan angin kuat.
Novia di Aceh mengatakan bahwa sejak masa kecilnya hingga kini berusia 30 tahun, banjir kali ini merupakan yang paling parah pernah melanda desanya.
“Banjir memang pernah terjadi sebelumnya, namun tidak separah yang terjadi kali ini.”